Sentakamudya UMY - LSB Sajikan Keberagaman Seni Nusantara dalam Satu Panggung

Suara Muhammadiyah

30 June 2026

148
Foto Istimewa

Foto Istimewa

BANTUL, Suara Muhammadiyah - Kesenian tradisional dari tiga penjuru Jawa yaitu Pacitan, Banyuwangi, dan Yogyakarta tampil dalam satu panggung pada malam Pagelaran Seni Sentakamudya (PSS) 2026. Acara ini digelar oleh Unit Kegiatan Mahasiswa (UKM) Sentakamudya Universitas Muhammadiyah Yogyakarta (UMY), di Auditorium Besar Sekolah Menengah Musik (SMM) pada Ahad (28/6).

Pagelaran menampilkan empat sajian seni yang masing-masing membawa akar budaya berbeda. Tari Baduk Molan, tarian tradisional khas Pacitan yang biasa disajikan dalam prosesi ruwatan tolak balak di wilayah Tegalombo, membuka pertunjukan dengan gerak jenaka dan improvisatif diiringi gamelan Jawa.

Disusul Konser Medley Karawitan yang membawakan dua karya: Langgang Ella Elok, sebuah narasi musikal tentang dinamika asmara dan kerinduan, serta sebuah komposisi berbentuk teka-teki Bahasa Jawa karya Kijong Romasito (1959) yang mengandung kritik sosial.

Repertoar dilanjutkan dengan Tari Jejer Jaran Dawuk, tari tradisional khas Banyuwangi ciptaan Sumitro pada 1981 yang awalnya dibawakan oleh penari pria dalam perayaan musim panen, serta Tari Golek Ayun-Ayun, tari klasik Yogyakarta ciptaan KRT. Sasminta Mardawa yang menggambarkan seorang gadis Jawa beranjak dewasa.

Malam ditutup dengan puncak acara Sendratari SAS-PA (Sasmita Pati), karya kolosal yang mengisahkan Ki Ageng Mangir Wanabaya, pemimpin tanah mardikan Mangir yang menolak tunduk kepada Mataram dan akhirnya kalah melalui siasat Panembahan Senopati.

Ketua Umum UKM Sentakamudya UMY, Febrina Putri Humaira Latuconsina, menyatakan bahwa keberagaman repertoar yang ditampilkan bukan kebetulan.

“Kami percaya bahwa seni adalah nafas budaya, cerminan jiwa, dan kekuatan yang mampu menyatukan beragam perbedaan,” ujar Febrina.

Dalam kesempatan yang sama, Febrina juga menyampaikan pentingnya penggunaan alat musik tradisional gamelan, seperti yang ditunjukkan dalam seluruh penampilan dari PSS 2026.

“Kehadiran gamelan bukan hanya akan menunjang proses latihan dan pembelajaran, tetapi juga menjadi bentuk dukungan nyata terhadap keberlangsungan pelestarian seni tradisional di lingkungan kampus UMY,” tuturnya.

Ketua Lembaga Seni Budaya Pimpinan Pusat Muhammadiyah, Prof. Dr. Ir. Gunawan Budiyanto, M.P., IPM., ASEAN.Eng., menyampaikan bahwa Pagelaran Seni Sentakamudya menjadi bagian dari upaya melestarikan budaya Jawa. Dalam kegiatan ini, Sentakamudya menghadirkan sejumlah sajian seni, mulai dari Tari Baduk Molan, Konser Medley Karawitan, hingga Sendratari Sasmita Pati yang mengangkat kisah Ki Ageng Mangir Wanabaya.

Ketua Pelaksana PAKEM & PSS 2026, Andira Septia Wulandari, menyampaikan bahwa menjadi ketua pelaksana merupakan pengalaman berharga yang mengajarkan arti tanggung jawab, kepemimpinan, kerja sama, serta kemampuan menghadapi tantangan. Ia juga menyampaikan apresiasi kepada seluruh panitia, pengisi acara, sponsor, dan pihak yang telah berkontribusi dalam menyukseskan kegiatan tersebut.

Sementara itu, Ketua Umum UKM Sentakamudya UMY, Febrina Putri Humaira Latuconsina, menyampaikan rasa syukur karena rangkaian kegiatan PAKEM dan PSS 2026 dapat berjalan lancar, meriah, serta mendapat respons positif dari para partisipan maupun berbagai pihak. Ia juga mengucapkan terima kasih kepada LSB PP Muhammadiyah, sponsor, media partner, tamu undangan, peserta penampil, anggota UKM Sentakamudya, pelatih, dan seluruh hadirin yang telah memberikan dukungan.

Pembina UKM Sentakamudya UMY, Drs. Bambang Wahyu Nugroho, M.Si., turut menyampaikan apresiasi atas terselenggaranya PAKEM dan PSS 2026. Menurutnya, antusiasme penonton, khususnya dari kalangan Generasi Z, menjadi bukti bahwa seni tradisi masih memiliki tempat istimewa di tengah gempuran budaya digital. Ia juga menilai bahwa tiket yang terjual habis menunjukkan tingginya minat masyarakat terhadap karya seni yang berakar pada budaya luhur, namun tetap dikemas secara segar dan relevan.

Lebih lanjut, Drs. Bambang berpesan agar momentum PAKEM dan PSS tidak berhenti sebagai acara seremonial, melainkan menjadi titik tolak untuk terus berkarya, berinovasi, dan menggali kekayaan budaya Nusantara. Ia berharap Sentakamudya semakin berkembang sebagai wadah lahirnya seniman muda yang tidak hanya unggul di atas panggung, tetapi juga bermanfaat bagi masyarakat.

"Melalui Pagelaran Seni Sentakamudya 2026, UKM Sentakamudya UMY menegaskan bahwa seni tradisi dapat terus hidup apabila dikelola dengan kreativitas, kerja sama, dan semangat generasi muda. Kegiatan ini sekaligus menjadi bukti bahwa kampus memiliki peran penting dalam menjaga, mengembangkan, dan memperkenalkan budaya Nusantara kepada masyarakat luas," pungkasnya.

Pagelaran ini juga dihadiri oleh pimpinan UMY, penikmat seni, serta perwakilan Lembaga Seni Budaya PP Muhammadiyah. Kehadiran berbagai pihak tersebut menunjukkan dukungan terhadap keberlangsungan seni tradisi di lingkungan kampus dan masyarakat luas.

PSS 2026 sekaligus menutup rangkaian Pekan Kesenian Muda Mendunia (PAKEM) 2026 kompetisi Lomba Tari Kreasi tingkat DIY yang berlangsung sehari sebelumnya, 27 Juni 2026, di tempat yang sama. (ID)


Berita Lainnya

Berita Terkait

Tentang Politik, Pemerintahan, Partai, Dll

Berita

BANDUNG, Suara Muhammadiyah – Dosen UM Bandung Ace Somantri mengatakan bahwa transformasi pend....

Suara Muhammadiyah

18 December 2024

Berita

JAKARTA, Suara Muhammadiyah - Keluarga merupakan pusat pengasuhan dan pendidikan anak. Pengasuh....

Suara Muhammadiyah

2 May 2024

Berita

JAKARTA, Suara Muhammadiyah - Permasalahan Pekerja Migran Indonesia (PMI) masih sangat kompleks. Set....

Suara Muhammadiyah

1 May 2024

Berita

YOGYAKARTA, Suara Muhammadiyah - Menabung emas secara digital pada prinsipnya diperbolehkan dal....

Suara Muhammadiyah

1 February 2026

Berita

JAKARTA, Suara Muhammadiyah – Sejak zaman Kiai Haji Ahmad Dahlan, Muhammadiyah sudah mendirika....

Suara Muhammadiyah

19 December 2025

Tentang

© Copyright . Suara Muhammadiyah