Setelah Takbiran, Apa yang Tersisa dari Ramadan Kita?
Oleh: Amrizal, Wakil Ketua MPKSDI PWM Sumut & Mahasiswa S3 Sekolah Pascasarjana UNY
Ramadan semestinya menjadi bulan paling jujur untuk menilai kualitas kaderisasi diri. Bukan sekadar ramai agenda, padat undangan buka bersama, dan penuh unggahan spiritual di media sosial, melainkan bulan untuk menguji apakah seorang kader Muhammadiyah benar-benar bertambah dekat kepada Allah, makin tertib ibadahnya, makin bening akhlaknya, dan makin nyata amal sosialnya. Arah ini sejalan dengan tujuan puasa untuk membentuk takwa, dengan PHIWM yang menuntut lahirnya pribadi dan kolektif Muhammadiyah yang uswah hasanah, serta dengan pesan-pesan kaderisasi Muhammadiyah yang menekankan iman, ilmu, amal, dan akhlak sebagai landasan gerak.
Menjelang ujung Ramadan, saya selalu merasa ada satu pertanyaan yang tidak boleh kita hindari: sebenarnya Ramadan ini mendidik kita, atau hanya melintasi kita?
Pertanyaan itu terdengar sederhana, tetapi justru di situlah letak kejujurannya. Apakah selama Ramadan ini kita menjaga shalat berjamaah di masjid? Apakah tarawih kita utuh, atau sering gugur oleh alasan yang sebetulnya bisa dikalahkan? Apakah Al-Qur’an benar-benar kita baca setiap hari, minimal satu juz, sampai selesai khatam? Apakah tangan kita ringan untuk sedekah setiap hari? Apakah lisan kita lebih teduh, hati kita lebih sabar, dan waktu kita lebih tertata? Kalau jawaban atas pertanyaan-pertanyaan itu masih goyah, maka jangan-jangan yang lelah selama Ramadan hanya badan kita, bukan jiwa kita. Tuntunan Tarjih sendiri menempatkan tadarus bukan hanya sebagai membaca, tetapi juga mempelajari dan memahami ayat, sementara qiyamu Ramadhan ditegaskan sebagai ibadah malam yang hidup sejak setelah isya sampai menjelang shubuh.
Kader Muhammadiyah seharusnya tidak memandang Ramadhan sebagai musim seremonial. Ramadan adalah madrasah hati. Ia sekolah batin yang melatih disiplin, keikhlasan, ketahanan, dan orientasi hidup. Puasa diarahkan agar manusia bertakwa; shalat dimaksudkan agar manusia terjaga dari kefasikan; dan Ramadhan, menurut hadis sahih, dijalani dengan iman dan ihtisab, dengan keyakinan dan kesadaran penuh akan pahala dari Allah. Nabi juga dicatat menjadi jauh lebih dermawan di bulan Ramadhan, bahkan setiap malam Jibril menemui beliau untuk mudarasah Al-Qur’an. Maka ukuran kader yang lulus dari Ramadhan bukan semata ramai aktivitasnya, tetapi lebih dalam daripada itu: adakah iman yang bertambah, ilmu yang bertambah, dan amal yang bertambah.
Tetapi di titik inilah kita perlu berani bersikap kritis. Realitas kita hari ini tidak selalu seindah idealitas. Tidak sedikit kader yang lebih sigap mengisi daftar bukber daripada saf awal masjid. Lebih rajin menyusun agenda nongkrong daripada jadwal tadarus. Lebih antusias memilih kafe untuk iftar daripada memastikan dirinya hadir untuk isya dan tarawih berjamaah. Bahkan ada yang sepanjang Ramadhan sangat sibuk membuat suasana, tetapi miskin muhasabah. Data NielsenIQ tentang Ramadan di Indonesia menunjukkan pengeluaran rumah tangga meningkat, sementara sebagian pertumbuhan belanja justru bergeser ke leisure dan fashion. Di saat yang sama, kondisi ini mengingatkan bahwa generasi muda kini hidup dalam dominasi algoritma; apa yang mereka lihat, percayai, dan anggap penting sangat dipengaruhi platform digital. Dalam lanskap seperti ini, godaan Ramadhan memang tidak lagi hanya soal lapar dan haus, tetapi juga soal distraksi, gaya hidup, dan budaya tampil.
Karena itu, kritik atas kaderisasi Ramadhan tidak cukup berhenti pada kalimat, “anak muda sekarang kurang semangat ke masjid.” Kritik seperti itu terlalu malas, terlalu mudah, dan sering tidak adil. Soal kita bukan semata kemerosotan niat, tetapi juga kegagalan membangun ekosistem kaderisasi yang membiasakan ibadah, ilmu, dan dakwah. Jika masjid tidak ramah, pengajian tidak menyentuh, senior tidak membina, dan organisasi hanya sibuk pada formalitas rapat, maka jangan heran jika kader mencari kehangatan di luar. Dakwah kultural yang digelorakan Muhammadiyah justru mengingatkan bahwa basis dakwah harus diperluas sampai akar rumput. Artinya, kader bukan hanya disuruh datang ke masjid, tetapi dibimbing untuk merasa bahwa masjid adalah rumah ruhani dan ruang pengabdian.
Namun kritik tidak boleh berubah menjadi keputusasaan. Sebab realitas Muhammadiyah juga masih menyimpan banyak cahaya. Program Mubaligh Hijrah yang dilaksanakan Muallimin dan Muallimat, misalnya, menunjukkan bahwa Ramadhan tetap bisa menjadi sekolah kaderisasi yang hidup: kader turun ke masyarakat, belajar berdakwah, berlatih akhlak, mengasah kepemimpinan, dan hadir di tengah umat. bahkan mencatat dengan tegas bahwa kaderisasi adalah estafet perjuangan dakwah. Di ruang yang lebih luas, suasana iftar massal di masjid Jogokariyan memperlihatkan bahwa Ramadhan tetap menghidupkan solidaritas, sedekah, dan rasa kebersamaan bagi ribuan orang. Jadi, masalah kita bukan karena Ramadhan kehilangan daya didiknya, melainkan karena kita sering gagal menyerahkan diri sepenuhnya kepada pendidikan Ramadhan itu.
Di sinilah nasihat para tokoh Muhammadiyah terasa sangat relevan. Haedar Nashir menegaskan bahwa spirit ber-Muhammadiyah memerlukan penanaman iman, amal, takwa, dan tauhid; beliau juga mengingatkan kader agar memiliki integritas akhlak, keluasan ilmu, kegemaran membaca, dan peran sebagai agen pencerah. Nasihat ini terasa menampar. Sebab berapa banyak kader yang pandai berbicara tentang tajdid, tetapi tidak tertib shalat? Berapa banyak yang fasih menjelaskan ideologi organisasi, tetapi kering tilawah? Berapa banyak yang cekatan berdebat di ruang digital, tetapi enggan mengisi kultum di mushala kampungnya sendiri? Padahal kader sejati bukan hanya yang hadir dalam struktur, melainkan yang menghadirkan cahaya.
Kiai Ahmad Dahlan telah memberi ukuran yang amat tegas, tetapi juga amat bersih: “hidup-hidupilah Muhammadiyah, jangan mencari hidup di Muhammadiyah.” Pesan ini bukan sekadar urusan ekonomi, tetapi urusan orientasi jiwa. Jangan menjadikan persyarikatan sebagai panggung diri, jangan menjadikan jabatan sebagai tempat berteduh dari kemalasan ruhani. Kiai Dahlan mendidik kita dengan spirit Al-Ma’un: ibadah ritual kehilangan makna bila tidak melahirkan amal sosial. Maka Ramadhan kader Muhammadiyah tidak cukup hanya saleh secara pribadi; ia harus melahirkan empati, pelayanan, dan keberpihakan kepada yang lemah.
Buya Syafii Maarif, dalam salah satu penggambaran yang kuat tentang watak Muhammadiyah, menyebut “Islam yang membumi”, Islam yang hadir di tempat manusia membutuhkan harapan. Ungkapan itu penting. Sebab setelah sebulan berpuasa, pertanyaan besarnya bukan hanya: berapa kali kita tarawih? Berapa juz kita baca? Berapa kali kita sedekah? Semua itu penting. Sangat penting. Tetapi lebih jauh lagi: apakah Ramadhan telah membuat kita lebih manusiawi? Lebih peka? Lebih mudah menolong? Lebih halus terhadap keluarga? Lebih hormat kepada jamaah kecil di kampung? Lebih siap membina remaja masjid di sekitar rumah? Kalau tidak, maka ada sesuatu yang belum selesai dari puasa kita.
Saya kira, menjelang Idulfitri ini kita perlu melakukan evaluasi yang sederhana tetapi keras kepada diri sendiri. Jangan mulai dari menilai orang lain. Mulailah dari diri sendiri. Sudahkah saya menjaga jamaah di masjid? Sudahkah saya menuntaskan tarawih dengan gembira, bukan dengan terpaksa? Sudahkah saya akrab dengan Al-Qur’an, bukan akrab hanya dengan notifikasi? Sudahkah saya menyisihkan harta, waktu, tenaga, dan perhatian untuk orang lain? Sudahkah saya mengisi majelis, atau setidaknya menghadirinya dengan adab seorang penuntut ilmu? Sudahkah rumah saya dekat dengan masjid, dan masjid dekat dengan hati saya? Pertanyaan-pertanyaan ini perlu dijawab dengan jujur, sebab Nabi mengingatkan bahwa banyak manusia tertipu oleh dua nikmat: sehat dan waktu luang.
Idulfitri akhirnya bukan garis akhir. Ia lebih tepat disebut laporan hasil belajar. Jika Ramadhan adalah sekolah kaderisasi, maka Syawal adalah lembar nilainya. Dan nilai tertingginya bukan terletak pada seberapa meriah bulan itu kita jalani, melainkan pada seberapa jauh ia mengubah watak kita.
Maka, setelah takbir nanti selesai dikumandangkan, jangan buru-buru merasa menang. Duduklah sebentar. Lihat ke dalam diri. Barangkali yang paling kita perlukan bukan ucapan selamat, melainkan keberanian untuk mengakui: saya masih harus banyak dibina oleh Ramadhan.
Sebab kader Muhammadiyah yang sejati tidak lahir dari keramaian slogan. Ia lahir dari sujud yang tekun, tilawah yang akrab, sedekah yang diam-diam, akhlak yang teduh, ilmu yang terus dicari, dan pengabdian yang tidak lelah.
Itulah kader yang dekat dengan Allah. Itulah kader yang tahan menghadapi zaman. Itulah kader yang tidak hanya pandai berbicara tentang persyarikatan, tetapi juga sanggup menjadi wajah terbaiknya.
Wallahu a’lam bish shawab.
