Sinta Apriliana Sari: Apoteker Adalah Penjaga Kualitas Hidup

Suara Muhammadiyah

1 August 2025

1005
Istimewa

Istimewa

BANDUNG, Suara Muhammadiyah – Influencer sekaligus apoteker inspiratif Sinta Apriliana Sari menjelaskan bahwa peran apoteker pada abad ke-21 saat ini telah berevolusi secara signifikan. Tidak lagi seperti zaman dahulu yang hanya berkutat di meja resep.

”Saat ini apoteker menjadi bagian integral dalam sistem pelayanan kesehatan yang berfokus pada pasien,” ucap Sinta saat acara seminar nasional bertajuk "Pharmacy Practice in the 21st Century: Challenges, Innovations, and Future Outlook" yang pada Kamis (31/07/2025).

Pelaksanaan seminar ini dalam rangka memperingati dies natalis ke-8 Himpunan Mahasiswa Farmasi (Himprofar) Universitas Muhammadiyah (UM) Bandung.

Kompleksitas penggunaan obat, regulasi yang belum optimal, dan keterbatasan akses terhadap data pasien, kata Sinta, masih menjadi tantangan besar dalam praktik farmasi modern.  "Apoteker hari ini dituntut aktif dalam tim medis, memantau terapi, memberi edukasi, hingga terlibat dalam pengambilan keputusan klinis," jelas Sinta.

Di samping itu, Sinta juga menjabarkan ada beberapa tantangan utama yang akan dihadapi apoteker saat ini. Di antaranya risiko interaksi obat akibat polifarmasi, minimnya kolaborasi antarprofesi, birokrasi yang rumit, dan kesenjangan layanan farmasi di negara berkembang. "Tantangan ini diperparah dengan belum kuatnya wewenang apoteker secara klinis serta tekanan etika antara tuntutan bisnis dan keselamatan pasien," terangnya.

Oleh karena itu, menawarkan solusi berupa strategi peningkatan kompetensi, pemanfaatan teknologi adaptif seperti telepharmacy dan e-resep, pentingnya integrasi data pasien lintas profesi. "Kita harus mendorong sistem kesehatan yang kolaboratif, digital, dan tetap berfokus pada kemanusiaan," tuturnya.

Tidak kalah menarik, Sinta juga menyoroti inovasi-inovasi yang sedang berkembang dalam praktik kefarmasian. Misalnya saja seperti 3D printed medicine, penggunaan wearable devices, hingga pemanfaatan artificial intelligence untuk deteksi interaksi obat dan penyesuaian dosis.

Menurutnya, apoteker jangan hanya cukup dengan ilmu yang ada, tetapi perlu terus belajar dan beradaptasi agar tetap relevan di tengah disrupsi teknologi. “Pada abad 21 ini, apoteker bukan hanya penjaga obat, tetapi penjaga kualitas hidup pasien. Kita adalah jembatan antara ilmu, teknologi, dan kemanusiaan,” pungkasnya.***(FK)


Berita Lainnya

Berita Terkait

Tentang Politik, Pemerintahan, Partai, Dll

Berita

LAMONGAN, Suara Muhammadiyah - Musholla Al Maqbul Dadapan meriahkan momen peringatan Nuzulul Qu....

Suara Muhammadiyah

31 March 2024

Berita

Hadirkan Senyum di Tengah Musibah Banjir Rob, Lazismu dan Shopee Barokah Salurkan 120 Paket Kado Ram....

Suara Muhammadiyah

8 March 2026

Berita

BANTUL, Suara Muhammadiyah - PS Hizbul Wathan (PSHW) Universitas Muhammadiyah Yogyakarta (UMY) ....

Suara Muhammadiyah

14 January 2025

Berita

YOGYAKARTA, Suara Muhammadiyah - Majelis Pembinaan Kesejahteraan Sosial (MPKS) Pimpinan Wilayah Muha....

Suara Muhammadiyah

3 October 2024

Berita

YOGYAKARTA, Suara Muhammadiyah - Universitas Ahmad Dahlan (UAD) Yogyakarta melakukan penandatanganan....

Suara Muhammadiyah

19 October 2023

Tentang

© Copyright . Suara Muhammadiyah