Sinta Apriliana Sari: Apoteker Adalah Penjaga Kualitas Hidup

Suara Muhammadiyah

1 August 2025

1040
Istimewa

Istimewa

BANDUNG, Suara Muhammadiyah – Influencer sekaligus apoteker inspiratif Sinta Apriliana Sari menjelaskan bahwa peran apoteker pada abad ke-21 saat ini telah berevolusi secara signifikan. Tidak lagi seperti zaman dahulu yang hanya berkutat di meja resep.

”Saat ini apoteker menjadi bagian integral dalam sistem pelayanan kesehatan yang berfokus pada pasien,” ucap Sinta saat acara seminar nasional bertajuk "Pharmacy Practice in the 21st Century: Challenges, Innovations, and Future Outlook" yang pada Kamis (31/07/2025).

Pelaksanaan seminar ini dalam rangka memperingati dies natalis ke-8 Himpunan Mahasiswa Farmasi (Himprofar) Universitas Muhammadiyah (UM) Bandung.

Kompleksitas penggunaan obat, regulasi yang belum optimal, dan keterbatasan akses terhadap data pasien, kata Sinta, masih menjadi tantangan besar dalam praktik farmasi modern.  "Apoteker hari ini dituntut aktif dalam tim medis, memantau terapi, memberi edukasi, hingga terlibat dalam pengambilan keputusan klinis," jelas Sinta.

Di samping itu, Sinta juga menjabarkan ada beberapa tantangan utama yang akan dihadapi apoteker saat ini. Di antaranya risiko interaksi obat akibat polifarmasi, minimnya kolaborasi antarprofesi, birokrasi yang rumit, dan kesenjangan layanan farmasi di negara berkembang. "Tantangan ini diperparah dengan belum kuatnya wewenang apoteker secara klinis serta tekanan etika antara tuntutan bisnis dan keselamatan pasien," terangnya.

Oleh karena itu, menawarkan solusi berupa strategi peningkatan kompetensi, pemanfaatan teknologi adaptif seperti telepharmacy dan e-resep, pentingnya integrasi data pasien lintas profesi. "Kita harus mendorong sistem kesehatan yang kolaboratif, digital, dan tetap berfokus pada kemanusiaan," tuturnya.

Tidak kalah menarik, Sinta juga menyoroti inovasi-inovasi yang sedang berkembang dalam praktik kefarmasian. Misalnya saja seperti 3D printed medicine, penggunaan wearable devices, hingga pemanfaatan artificial intelligence untuk deteksi interaksi obat dan penyesuaian dosis.

Menurutnya, apoteker jangan hanya cukup dengan ilmu yang ada, tetapi perlu terus belajar dan beradaptasi agar tetap relevan di tengah disrupsi teknologi. “Pada abad 21 ini, apoteker bukan hanya penjaga obat, tetapi penjaga kualitas hidup pasien. Kita adalah jembatan antara ilmu, teknologi, dan kemanusiaan,” pungkasnya.***(FK)


Berita Lainnya

Berita Terkait

Tentang Politik, Pemerintahan, Partai, Dll

Berita

MAKASSAR, Suara Muhammadiyah - Suara Muhammadiyah. Pimpinan Cabang Muhammadiyah (PCM) Manggala, Kota....

Suara Muhammadiyah

6 April 2026

Berita

KLATEN, Suara Muhammadiyah – Tata kelola keuangan yang baik menjadi kunci utama dalam menjaga ....

Suara Muhammadiyah

27 September 2024

Berita

KLATEN, Suara Muhammadiyah - MPKSDI Pimpinan Cabang Muhammadiyah dan MPK Pimpinan Cabang Aisyiyah Um....

Suara Muhammadiyah

22 July 2024

Berita

BANJARMASIN, Suara Muhammadiyah – Pimpinan Cabang ‘Aisyiyah (PCA) 4 Banjarmasin Sukses m....

Suara Muhammadiyah

31 January 2025

Berita

SLEMAN, Suara Muhammadiyah – Lazismu MBS di Pesantren Muhammadiyah Boarding School Yogyakarta ....

Suara Muhammadiyah

14 March 2026

Tentang

© Copyright . Suara Muhammadiyah