Sistem yang Kokoh sebagai Jalan Mewujudkan Kehidupan Berkeadilan

Suara Muhammadiyah

Penulis

0
468
Prof Dr Haedar Nashir, MSi. Foto: Cris

Prof Dr Haedar Nashir, MSi. Foto: Cris

YOGYAKARTA, Suara Muhammadiyah – Tampaknya memang sangat mendasar. Membangun sistem dalam kesepaduan kehidupan berbangsa dan bernegara dibutuhkan kerja keras dan kesungguhan. “Memadukan sistem dan nilai yang hidup dalam orang yang baik pada rakyat maupun pada elite,” sebut Haedar Nashir, Ketua Umum Pimpinan Pusat Muhammadiyah.

Hal itu disampaikan saat Refleksi Akhir Tahun dan Bedah Buku "Sengkarut Pilkada Potret Penyelesaian Sengketa Diskualifikasi Calon Kepala Daerah" yang ditulis oleh Irvan Mawardi. Acara ini berlangsung di Lantai 3 Aula Kantor PP Muhammadiyah Cik Ditiro Yogyakarta, Jumat (19/12).

Lebih-lebih pada elite. Sebab ternyata, singkap Ketua Umum Pimpinan Pusat Muhammadiyah itu, posisi elite berpokok pangkal dengan aspek otoritas (kekuasaan).

“Sehingga ketika berbuat buruk fasadnya lebih parah. Jadi ini perlu menjadi perhatian kita,” ujarnya, dengan menekankan hukum mesti mengandung niilai (value) yang hidup di dalamnya. “Untuk meraih keadilan,” jawabnya dengan singkat dan gamblang.

Bahkan, keadilan sendiri, dalam pandangan keislaman meniscayakan prinsip-prinsip kebenaran. “Keadilan bisa ditegakkan,” ucapnya, seraya mencontohkan kehidupan Umar bin Khattab, Abu Bakar Ash Shiddiq, dan Umar bin Abdul Aziz, yang selama hidupnya, mengikuti teladan Nabi.

“Sehingga bisa menegakkan sistem hatta terhadap keluarganya sendiri, orang terdekat, dan bisa menegakkan keadilan dengan baik,” ujarnya, yang dalam ruang lingkup kehidupan sekalipun jelas sekali tidak mudah untuk diejawantahkan. “Tapi itu menjadi rujukan dalam kehidupan bernegara,” tekannya.

Berpijak pada nilai-nilai kebangsaan, Haedar menyampaikan tiga nilai substansial. Pertama, Pancasila, “Sebagai fundamental values yang formal,” ucapnya. Kedua, agama. Agama bagi kehidupan dijadikan sebagai sumber pedoman hidup.

“Yang jauh sebelum Pancasila lahir dan bahkan ikut melahirkan Pancasila,” sambungnya. Ketiga, kebudayaan, sebagai sistem pengetahuan kolektif yang hidup dalam diri setiap etnik, suku bangsa, dan bangsa.

“Tiga dasar nilai ini mesti diramu. Dan siapa yang meramu? Para pimpinannya, dari puncak sampai bawah,” jelas Haedar, menggarisbawahi perpaduan antara ketika mengambil kebijakan itu sangat penting disandarkan pada nilai-nilai tersebut.

Dalam konteks hari ini, ketika bangsa menghadapi dinamika sosial-politik yang kompleks, Haedar menilai nilai-nilai tersebut harus terus dirawat agar tidak hanya menjadi konsep, tetapi menjelma sebagai denyut kehidupan di dunia nyata. (Cris)


Komentar

Berita Lainnya

Berita Terkait

Tentang Politik, Pemerintahan, Partai, Dll

Berita

KARANGANYAR, Suara Muhammadiyah - Pembukaan Jambore Nasional Relawan Muhammadiyah-'Aisyiyah ke-3 ber....

Suara Muhammadiyah

26 June 2025

Berita

SURABAYA, Suara Muhammadiyah - Menjelang tahun ajaran baru tahun 2024-2025, Sekolah Keberbakatan Muh....

Suara Muhammadiyah

13 July 2024

Berita

SURAKARTA, Suara Muhammadiyah - SD Muhammadiyah Program Khusus (PK) Kottabarat Solo meraih peng....

Suara Muhammadiyah

21 June 2024

Berita

YOGYAKARTA, Suara Muhammadiyah – Pimpinan Pusat Muhammadiyah resmi mengandeng PT Indonesia Dig....

Suara Muhammadiyah

14 June 2025

Berita

PALANGKARAYA, Suara Muhammadiyah - RS Islam PKU Muhammadiyah Palangka Raya pada hari Ahad, 6 Mu....

Suara Muhammadiyah

13 August 2024

Tentang

© Copyright . Suara Muhammadiyah