Sistem yang Kokoh sebagai Jalan Mewujudkan Kehidupan Berkeadilan

Suara Muhammadiyah

19 December 2025

716
Prof Dr Haedar Nashir, MSi. Foto: Cris

Prof Dr Haedar Nashir, MSi. Foto: Cris

YOGYAKARTA, Suara Muhammadiyah – Tampaknya memang sangat mendasar. Membangun sistem dalam kesepaduan kehidupan berbangsa dan bernegara dibutuhkan kerja keras dan kesungguhan. “Memadukan sistem dan nilai yang hidup dalam orang yang baik pada rakyat maupun pada elite,” sebut Haedar Nashir, Ketua Umum Pimpinan Pusat Muhammadiyah.

Hal itu disampaikan saat Refleksi Akhir Tahun dan Bedah Buku "Sengkarut Pilkada Potret Penyelesaian Sengketa Diskualifikasi Calon Kepala Daerah" yang ditulis oleh Irvan Mawardi. Acara ini berlangsung di Lantai 3 Aula Kantor PP Muhammadiyah Cik Ditiro Yogyakarta, Jumat (19/12).

Lebih-lebih pada elite. Sebab ternyata, singkap Ketua Umum Pimpinan Pusat Muhammadiyah itu, posisi elite berpokok pangkal dengan aspek otoritas (kekuasaan).

“Sehingga ketika berbuat buruk fasadnya lebih parah. Jadi ini perlu menjadi perhatian kita,” ujarnya, dengan menekankan hukum mesti mengandung niilai (value) yang hidup di dalamnya. “Untuk meraih keadilan,” jawabnya dengan singkat dan gamblang.

Bahkan, keadilan sendiri, dalam pandangan keislaman meniscayakan prinsip-prinsip kebenaran. “Keadilan bisa ditegakkan,” ucapnya, seraya mencontohkan kehidupan Umar bin Khattab, Abu Bakar Ash Shiddiq, dan Umar bin Abdul Aziz, yang selama hidupnya, mengikuti teladan Nabi.

“Sehingga bisa menegakkan sistem hatta terhadap keluarganya sendiri, orang terdekat, dan bisa menegakkan keadilan dengan baik,” ujarnya, yang dalam ruang lingkup kehidupan sekalipun jelas sekali tidak mudah untuk diejawantahkan. “Tapi itu menjadi rujukan dalam kehidupan bernegara,” tekannya.

Berpijak pada nilai-nilai kebangsaan, Haedar menyampaikan tiga nilai substansial. Pertama, Pancasila, “Sebagai fundamental values yang formal,” ucapnya. Kedua, agama. Agama bagi kehidupan dijadikan sebagai sumber pedoman hidup.

“Yang jauh sebelum Pancasila lahir dan bahkan ikut melahirkan Pancasila,” sambungnya. Ketiga, kebudayaan, sebagai sistem pengetahuan kolektif yang hidup dalam diri setiap etnik, suku bangsa, dan bangsa.

“Tiga dasar nilai ini mesti diramu. Dan siapa yang meramu? Para pimpinannya, dari puncak sampai bawah,” jelas Haedar, menggarisbawahi perpaduan antara ketika mengambil kebijakan itu sangat penting disandarkan pada nilai-nilai tersebut.

Dalam konteks hari ini, ketika bangsa menghadapi dinamika sosial-politik yang kompleks, Haedar menilai nilai-nilai tersebut harus terus dirawat agar tidak hanya menjadi konsep, tetapi menjelma sebagai denyut kehidupan di dunia nyata. (Cris)


Berita Lainnya

Berita Terkait

Tentang Politik, Pemerintahan, Partai, Dll

Berita

Studium Generale PKMD VI UNIMMA MAGELANG, Suara Muhammadiyah - Universitas Muhammadiyah Magelang (U....

Suara Muhammadiyah

16 April 2026

Berita

BANTUL, Suara Muhammadiyah — MTs Muhammadiyah Kasihan turut menyemarakkan peringatan Hari Ulan....

Suara Muhammadiyah

18 August 2026

Berita

PURBALINGGA, Suara Muhammadiyah – Dalam upaya mengembangkan potensi budidaya ikan gurame dan t....

Suara Muhammadiyah

29 February 2024

Berita

YOGYAKARTA, Suara Muhammadiyah - Nahkoda baru Madrasah Mu’allimaat Muhammadiyah Yogyakarta Mas....

Suara Muhammadiyah

23 January 2026

Berita

KUDUS, Suara Muhammadiyah – Pimpinan Ranting Ikatan Pelajar Muhammadiyah (PR IPM) Syamlawi Pes....

Suara Muhammadiyah

13 September 2025

Tentang

© Copyright . Suara Muhammadiyah