Sistem yang Kokoh sebagai Jalan Mewujudkan Kehidupan Berkeadilan

Suara Muhammadiyah

Penulis

0
520
Prof Dr Haedar Nashir, MSi. Foto: Cris

Prof Dr Haedar Nashir, MSi. Foto: Cris

YOGYAKARTA, Suara Muhammadiyah – Tampaknya memang sangat mendasar. Membangun sistem dalam kesepaduan kehidupan berbangsa dan bernegara dibutuhkan kerja keras dan kesungguhan. “Memadukan sistem dan nilai yang hidup dalam orang yang baik pada rakyat maupun pada elite,” sebut Haedar Nashir, Ketua Umum Pimpinan Pusat Muhammadiyah.

Hal itu disampaikan saat Refleksi Akhir Tahun dan Bedah Buku "Sengkarut Pilkada Potret Penyelesaian Sengketa Diskualifikasi Calon Kepala Daerah" yang ditulis oleh Irvan Mawardi. Acara ini berlangsung di Lantai 3 Aula Kantor PP Muhammadiyah Cik Ditiro Yogyakarta, Jumat (19/12).

Lebih-lebih pada elite. Sebab ternyata, singkap Ketua Umum Pimpinan Pusat Muhammadiyah itu, posisi elite berpokok pangkal dengan aspek otoritas (kekuasaan).

“Sehingga ketika berbuat buruk fasadnya lebih parah. Jadi ini perlu menjadi perhatian kita,” ujarnya, dengan menekankan hukum mesti mengandung niilai (value) yang hidup di dalamnya. “Untuk meraih keadilan,” jawabnya dengan singkat dan gamblang.

Bahkan, keadilan sendiri, dalam pandangan keislaman meniscayakan prinsip-prinsip kebenaran. “Keadilan bisa ditegakkan,” ucapnya, seraya mencontohkan kehidupan Umar bin Khattab, Abu Bakar Ash Shiddiq, dan Umar bin Abdul Aziz, yang selama hidupnya, mengikuti teladan Nabi.

“Sehingga bisa menegakkan sistem hatta terhadap keluarganya sendiri, orang terdekat, dan bisa menegakkan keadilan dengan baik,” ujarnya, yang dalam ruang lingkup kehidupan sekalipun jelas sekali tidak mudah untuk diejawantahkan. “Tapi itu menjadi rujukan dalam kehidupan bernegara,” tekannya.

Berpijak pada nilai-nilai kebangsaan, Haedar menyampaikan tiga nilai substansial. Pertama, Pancasila, “Sebagai fundamental values yang formal,” ucapnya. Kedua, agama. Agama bagi kehidupan dijadikan sebagai sumber pedoman hidup.

“Yang jauh sebelum Pancasila lahir dan bahkan ikut melahirkan Pancasila,” sambungnya. Ketiga, kebudayaan, sebagai sistem pengetahuan kolektif yang hidup dalam diri setiap etnik, suku bangsa, dan bangsa.

“Tiga dasar nilai ini mesti diramu. Dan siapa yang meramu? Para pimpinannya, dari puncak sampai bawah,” jelas Haedar, menggarisbawahi perpaduan antara ketika mengambil kebijakan itu sangat penting disandarkan pada nilai-nilai tersebut.

Dalam konteks hari ini, ketika bangsa menghadapi dinamika sosial-politik yang kompleks, Haedar menilai nilai-nilai tersebut harus terus dirawat agar tidak hanya menjadi konsep, tetapi menjelma sebagai denyut kehidupan di dunia nyata. (Cris)


Berita Lainnya

Berita Terkait

Tentang Politik, Pemerintahan, Partai, Dll

Berita

YOGYAKARTA, Suara Muhammadiyah – Madrasah Mu’allimaat Muhammadiyah Yogyakarta kembali me....

Suara Muhammadiyah

13 November 2025

Berita

MALANG, Suara Muhammadiyah - Beberapa hari lagi, kita akan memasuki bulan Ramadhan. Untuk menyambut ....

Suara Muhammadiyah

8 March 2024

Berita

MALANG, Suara Muhammadiyah - Satu lagi karya mahasiswa Program Studi Ilmu Komunikasi Universitas Muh....

Suara Muhammadiyah

8 July 2024

Berita

BANJARBARU, Suara Muhammadiyah – Terlihat kepedulian dan simpati masyarakat di Kota Banjarbaru....

Suara Muhammadiyah

1 December 2023

Berita

SUKABUMI, Suara Muhammadiyah - Pimpinan Daerah Aisyiyah (PDA) Kota Sukabumi melalui Majelis Kesejaht....

Suara Muhammadiyah

16 June 2025

Tentang

© Copyright . Suara Muhammadiyah