Smart Wheelchair, Inovasi Mahasiswa UMY Bantu Mobilitas Penyandang Lumpuh Total

Suara Muhammadiyah

14 September 2026

239
Foto Istimewa

Foto Istimewa

YOGYAKARTA, Suara Muhammadiyah - Bagi penyandang quadriplegia yang mengalami kelumpuhan total dari leher hingga kaki, menggerakkan kursi roda secara mandiri bukan perkara mudah. Keterbatasan tersebut mendorong sekelompok mahasiswa Universitas Muhammadiyah Yogyakarta (UMY) menghadirkan inovasi smart wheelchair atau kursi roda pintar yang dapat dikendalikan melalui gerakan mata.

Tidak hanya mengandalkan kendali berbasis gerakan mata, kursi roda ini juga dilengkapi sistem navigasi cerdas dan fitur keselamatan yang bekerja secara otomatis. Teknologi tersebut dirancang untuk membantu pengguna bergerak lebih mandiri sekaligus mengurangi risiko kecelakaan saat menggunakan kursi roda.

Inovasi bertajuk Assistive Smart Wheelchair Electrooculography ini dikembangkan oleh tim mahasiswa UMY yang diketuai Alfiansyah Restu Pramono Adias Nugroho, bersama Ghiffary Yustar Afif, Jaler Satrio Negoro, Ahmad Ulinnuha S.M.F, dan Febriane Iftinan Maharani. Gagasan tersebut berhasil mendapatkan pendanaan melalui Program Kreativitas Mahasiswa Karsa Cipta (PKM-KC) 2026.

Gagasan pengembangan kursi roda pintar tersebut berangkat dari pengalaman Alfiansyah ketika melihat secara langsung kondisi pasien dengan kelumpuhan di rumah sakit. Pengalaman itu membuatnya berpikir tentang bagaimana teknologi dapat membantu penyandang lumpuh total tetap memiliki kemandirian dalam mobilitas.

Ketertarikannya pada teknologi kemudian mempertemukan gagasan tersebut dengan proyek electrooculography (EOG) yang dikerjakannya dalam perkuliahan semester tiga. Dari sana, Alfiansyah bersama tim mengembangkan teknologi EOG menjadi sistem kendali kursi roda dan mengusulkannya dalam Program Kreativitas Mahasiswa Karsa Cipta (PKM-KC).

“Untuk kursi rodanya sendiri, nanti menggunakan pergerakan mata. Perintah kedipan dua kali dengan waktu tertentu itu akan menghidupkan motor atau mematikannya. Seterusnya untuk belok ke kanan dan ke kiri, pengguna cukup melirik ke kanan,” jelas Alfiansyah saat dihubungi pada Sabtu (12/9).

Teknologi EOG bekerja dengan membaca perubahan sinyal listrik yang muncul akibat pergerakan bola mata. Sinyal tersebut kemudian diterjemahkan menjadi perintah bagi sistem kendali kursi roda.

Dengan mekanisme tersebut, pengguna tidak perlu mengandalkan gerakan tangan untuk mengoperasikan kursi roda. Gerakan mata menjadi sarana utama untuk memberikan perintah sesuai kebutuhan.

Kemampuan membaca gerakan mata menjadi sistem kendali utama. Namun, tim UMY juga mempertimbangkan aspek keselamatan sebagai bagian penting dari pengembangan alat.

Kursi roda pintar tersebut dilengkapi tiga fitur utama, yakni Intelligent Obstacle Detection, Emergency Braking, dan Standby Mode. Ketiganya dirancang untuk membantu menjaga pergerakan kursi roda tetap terkendali.

“Emergency Braking itu berguna ketika sensor Intelligent Obstacle Detection mendeteksi adanya benda di depan, maka motor akan berhenti,” ungkapnya.

Sistem Standby Mode juga disiapkan untuk mengantisipasi perubahan perintah yang terjadi secara tiba-tiba. Ketika pengguna mengubah arah lirikan, kursi roda tidak langsung melakukan perubahan arah secara tajam. Sistem akan menjaga pergerakan agar tetap lebih terkendali.

Selain itu, tim mengembangkan aplikasi pemantauan berbasis smartphone yang terintegrasi dengan Google Maps. Aplikasi tersebut memungkinkan titik lokasi pengguna dipantau ketika bepergian.

Fitur pemantauan juga mencakup detak jantung pengguna. Jika detak jantung mencapai 120 BPM, sistem akan memberikan respons berupa penghentian motor kursi roda secara otomatis.

Pengembangan smart wheelchair ini melibatkan mahasiswa dari beberapa disiplin ilmu di UMY, yakni Teknologi Elektro-Medis, Teknik Elektro, dan Ilmu Keperawatan.

Kolaborasi lintas bidang tersebut menjadi bagian penting dalam proses pengembangan. Teknologi Elektro-Medis dan Teknik Elektro berperan dalam pengembangan sistem serta perangkat elektronik, sedangkan mahasiswa Ilmu Keperawatan memberikan perspektif mengenai kondisi dan kebutuhan pengguna.

Menurut Alfiansyah, keterlibatan mahasiswa Keperawatan membantu tim memahami alat bukan hanya dari sisi teknologi, tetapi juga dari kebutuhan pasien sebagai pengguna.

Prototipe yang dikembangkan tim sejauh ini telah diuji coba pada pengguna yang tidak memiliki kondisi quadriplegia dan dapat berfungsi dengan normal. Sementara itu, pengujian langsung kepada pasien dengan quadriplegia belum dapat dilakukan karena keterbatasan waktu pelaksanaan program yang memasuki tahap evaluasi lanjutan.

Meski demikian, pengalaman tersebut menjadi bagian dari proses pengembangan alat agar teknologi yang dihasilkan tidak berhenti sebagai prototipe. Alfiansyah berharap inovasi bersama timnya nantinya dapat dikembangkan lebih lanjut dan benar-benar membantu penyandang kelumpuhan total memperoleh kemandirian dalam bergerak.

“Harapannya, alat hasil penelitian kami ini nantinya dapat membantu pasien yang benar-benar membutuhkan,” pungkasnya.(ID)


Berita Lainnya

Berita Terkait

Tentang Politik, Pemerintahan, Partai, Dll

Berita

YOGYAKARTA, Suara Muhammadiyah - Kegiatan Halal Bihalal Pimpinan Cabang Istimewa Muhammadiyah (PCIM)....

Suara Muhammadiyah

16 April 2025

Berita

BANDUNG, Suara Muhammadiyah – Ketua Badan Eksekutif Mahasiswa (BEM) Universitas Muhammadiyah (....

Suara Muhammadiyah

13 November 2024

Berita

BENER MERIAH, Suara Muhammadiyah – Majelis Kesejahteraan Sosial Pimpinan Wilayah ‘Aisyiy....

Suara Muhammadiyah

31 January 2026

Berita

YOGYAKARTA, Suara Muhammadiyah - Dalam rangka penutupan Milad 74, SMA Muhammadiyah 1 (Muhi) Yogya me....

Suara Muhammadiyah

3 October 2023

Berita

Pengukuhan UPP PDM-BPP PDA, dan PCM-PCA se-Kabupaten Jepara JEPARA, Suara Muhammadiyah - Berlangsun....

Suara Muhammadiyah

1 October 2023

Tentang

© Copyright . Suara Muhammadiyah