YOGYAKARTA, Suara Muhammadiyah – Layanan penitipan anak (daycare) semestinya menjadi ruang aman dan nyaman bagi proses tumbuh kembangnya anak-anak. Tetapi, output di lapangan belakangan ini menampakkan bias dan jauh panggang dari api.
Bukti konkretnya? Ada di daerah Umbulharjo, Yogyakarta. Banyak media menurunkan informasi, kalau bayi dalam kondisi diikat serta adanya dugaan kekerasan dan penganiayaan.
Belum surut masalah pelik itu, muncul lagi di permukaan. Tepatnya, di Pakem, Sleman, di mana diduga belum memiliki izin resmi sebagai daycare atau lembaga pengasuhan anak.
Fakta mengejutkan, sudah ada 11 bayi berada di rumah tersebut. Dan, praktik penitipan bayi itu disebut telah berlangsung selama sekitar lima bulan.
Maka, semua pihak dibuat prihatin atas fenomena tersebut. Demikian juga halnya dengan Pimpinan Pusat ‘Aisyiyah. “’Aisyiyah prihatin pasti ya,” ucap Salmah Orbayinah, singkat dan tegas.
Refleksi atas semua itu, kata Ketua Umum Pimpinan Pusat ‘Aisyiyah tersebut, ‘Aisyiyah punya daycare. “Kita mendata daycare-daycare kita,” sebutnya, Senin (18/5) saat konferensi pers di SM Tower Malioboro Yogyakarta.
Terpenting, Salmah mendorong agar ada surat resmi perizinan sebagai daycare atau lembaga pengasuhan anak. “Kalau yang belum punya surat izin, harus segera punya surat izin,” pintanya.
Sebagai manifestasinya, di perguruan tinggi ‘Aisyiyah, juga sudah ada beberapa yang menyediakan layanan daycare. “Untuk langsung menjaga anak-anak para dosen yang bekerja,” sebutnya.
Dipastikan oleh Salmah, layanan daycare milik ‘Aisyiyah terjamin keamanannya. “Itu terukur, aman daycare kita,” singkapnya.
Pada saat yang sama, ‘Aisyiyah juga memberi motivasi kepada para ibu-ibu dan lebih khusus kalangan usia muda dengan membekali nilai-nilai moralitas dan nilai-nilai adiluhung.
“Kalau kita punya anak, harus kita berikan pengertian penuh bahwa anak itu adalah titipan dari Allah yang harus kita jaga dan kelola dengan baik,” tegasnya.
Di situlah relevansi mendidik anak dalam kehidupan. “Karena itu titipan dari Allah,” tekan Salmah, sekali lagi. Sehingga karenanya, peranan mendidik mesti ditempatkan sesuai substansinya.
“Mendidik harus ikhlas. Jadi harus kita didik dengan baik. Tidak boleh kita telantarkan,” tandasnya. (Cris)

