YOGYAKARTA, Suara Muhammadiyah - Stadium General Muhadhoroh yang digelar pada Sabtu, 27 Desember 2025. Kegiatan ini hadir bukan sekadar sebagai agenda formal, melainkan sebagai ruang belajar intelektual yang membahas peran mahasiswa dan kader IMM di tengah perubahan zaman yang semakin cepat dan dinamis.
Acara dibuka dengan sambutan Ketua Pelaksana, Ruli Maulana. Sambutan selanjutnya disampaikan oleh Ketua Umum, Agung Rezki. Ia mengajak peserta untuk merenungi QS. An-Nisa ayat 9 sebagai pengingat tentang tanggung jawab generasi hari ini terhadap masa depan.
Mahasiswa, khususnya kader IMM FAI, dihimbau untuk tidak hanya aktif dalam kegiatan organisasi, tetapi juga memiliki visi, kepedulian sosial, dan nilai keislaman yang kuat. Menurutnya, tantangan zaman hanya bisa dijawab oleh kader yang mau belajar, bergerak, dan berproses secara konsisten.
Sambutan ketiga disampaikan oleh perwakilan PC AR. Fakhruddin, Tio. Ia menyoroti kondisi kaderisasi di tengah perubahan pola gerak mahasiswa saat ini. Dunia digital, ritme akademik, dan tuntutan sosial sering kali membuat kader kehilangan arah. Namun justru di situlah peran IMM menjadi penting sebagai ruang pembentukan karakter dan intelektual. Kader IMM FAI dinilai memiliki potensi besar untuk menjadi pelopor gerakan yang relevan dengan kebutuhan zaman.
Memasuki acara inti SG Muhadhoroh, pemateri Stadium General Muhadhoroh mengajak peserta berdiskusi tentang makna menjadi kader dakwah di lingkungan kampus. Masa awal perkuliahan disebut sebagai fase penting yang menentukan arah berpikir mahasiswa. Di fase ini, muncul pilihan menjadi aktivis atau pasifis, yang keduanya memiliki konsekuensi. Namun ditegaskan bahwa menjadi aktivis bukan berarti mengabaikan akademik, dan menjadi mahasiswa akademis bukan berarti menutup mata terhadap persoalan sosial.
Isu stigma mahasiswa berorganisasi yang dianggap membuang waktu juga dibahas secara terbuka. Pemateri menegaskan bahwa persoalannya bukan pada organisasinya, tetapi pada bagaimana mahasiswa mengelola waktu dan menentukan prioritas. Organisasi justru menjadi ruang belajar yang melengkapi bangku kuliah, mulai dari kepemimpinan, komunikasi, hingga kepekaan terhadap lingkungan sekitar.
Pemateri juga menggambarkan kondisi mahasiswa hari ini yang mengalami perubahan pola komunikasi turut menjadi sorotan. Interaksi tidak lagi hanya terjadi di ruang kelas atau forum tatap muka, tetapi juga di ruang digital. Oleh karena itu, kader IMM dituntut mampu menyesuaikan diri tanpa kehilangan nilai.
Tujuan akhirnya adalah melahirkan kader yang mampu membawa nilai baldatun thayyibatun wa rabbun ghafur dalam kehidupan kampus dan masyarakat. Dalam pemaparannya, pemateri juga menyinggung Sistem Perkaderan Muhammadiyah (SPM) sebagai arah gerak kader.
SPM (Sistem Perkaderan Muhammadiyah) menegaskan peran kader sebagai penyempurna, pelopor, dan pengemban amanah demi kemajuan Muhammadiyah. Proses perkaderan tidak berhenti pada pemahaman nilai, tetapi harus sampai pada pengamalan nyata dalam kehidupan sehari-hari.
Konsep kader intelektual juga menjadi pembahasan penting. Kader IMM diharapkan mampu berpikir kritis, kreatif, dan ilmiah, dengan tetap berlandaskan iman dan akhlak. Hal ini diperkuat dengan nilai-nilai dalam QS. Al-Hujurat dan QS. Al-Mujadilah ayat 11, yang menekankan pentingnya ilmu yang disertai akhlak. Kepintaran tanpa karakter justru berpotensi menimbulkan masalah dalam kehidupan.
Selain itu, kader pro-aktif digambarkan sebagai kader yang berani memulai perubahan dari diri sendiri, peka terhadap problem umat, dan mampu menghubungkan ilmu dengan aksi. Prinsip ilmu amaliah dan amal ilmiah menjadi pegangan agar gerakan kader tidak berhenti pada wacana.
Pemateri juga menekankan pentingnya sikap konstruktif dan adaptif. Gerakan harus dibangun di atas pondasi yang kuat dan berbasis riset sesuai realitas. Dakwah tidak selalu harus dilakukan dari mimbar, tetapi bisa melalui media kreatif yang dekat dengan generasi muda.
Stadium general Muhadhoroh merupakan gerbang awal penganter Kader awal PK IMM FAI untuk menjelajah, menggali, serta bekal menjadi seorang mahasiswa sekaligus kader IMM yang mampu berdakwah dilingkungan kampus maupun masyarakat sesuai kapasitas diri kader itu sendiri. Dengan adanya Muhadhoroh menjadi ruang pembekalan yang mampu memberikan manfaat dan insight bagi kader awal PK IMM FAI UMY.

