Suku Hui dan Uyghur: Dua Suku yang Beragama Islam di Tiongkok
Oleh: Buya Anwar Abbas
Ada dua suku di China yang sebagian besar warganya menganut agama Islam, yaitu suku Hui dan Uyghur.
A. Suku Hui
Suku Hui berasal dari keturunan pedagang Arab dan Persia yang datang ke Tiongkok melalui dua jalur, yaitu Jalur Sutra yang umumnya menetap di Chang'an dan sekitarnya, serta jalur laut yang menetap di daerah Quanzhou dan Zhangzhou di pesisir Fujian. Mereka kemudian berasimilasi dengan suku Han sejak masa Dinasti Tang dan melahirkan etnis Hui.
Suku Hui merupakan etnis minoritas Muslim terbesar di China. Jumlah mereka sekitar 11 juta jiwa yang tersebar di seluruh Tiongkok, meskipun umumnya tinggal di wilayah barat laut China, terutama di Daerah Otonomi Ningxia Hui, serta di Gansu, Qinghai, dan Yunnan.
Secara fisik, mereka mirip dengan suku Han (etnis mayoritas Tionghoa), demikian pula dalam hal bahasa. Meskipun sehari-hari menggunakan bahasa Mandarin dan berbaur dengan budaya lokal, mereka tetap memiliki identitas keislaman yang kuat dengan menjalankan ajaran agamanya. Dalam beberapa aspek, tampak pula pengaruh nilai-nilai Konfusianisme. Laki-laki Hui sering mengenakan peci putih, sedangkan perempuannya memakai kerudung.
Mereka terkenal dengan kuliner khas seperti olahan daging sapi, lamian (mi tarik), dan sate domba. Hubungan mereka dengan pemerintah relatif baik karena kemampuan mereka berasimilasi dengan masyarakat dan negara. Orang Hui biasanya memiliki nama Tionghoa dan nama Arab, meskipun belakangan mereka lebih sering menggunakan nama Tionghoa.
Suku Hui memainkan peran penting dalam menjembatani kebudayaan Islam dan Tiongkok. Mereka menjadi pelopor dalam bidang navigasi, astronomi, militer, dan diplomasi internasional, serta memberikan kontribusi besar dalam penyebaran Islam dan pembentukan identitas kebudayaan Tiongkok yang beragam.
Melalui kedatangan para pedagang Arab dan Persia pada masa Dinasti Tang (618–907 M), suku Hui berperan besar dalam memperkenalkan berbagai komoditas dan teknologi dari dunia Islam kepada masyarakat Tiongkok. Mereka turut membangun jaringan perdagangan Jalur Sutra di darat dan jalur rempah di laut.
Tokoh dari suku Hui yang sangat terkenal adalah Laksamana Zheng He (Cheng Ho), seorang pelaut dan diplomat ulung dari Dinasti Ming. Ia memimpin tujuh ekspedisi armada raksasa yang tidak hanya membangun jaringan perdagangan, tetapi juga memperluas pengaruh Tiongkok ke berbagai belahan dunia. Zheng He juga dinilai berjasa dalam penyebaran Islam di Asia Tenggara.
Selain Zheng He, terdapat tokoh Hui lain yang sangat terkenal, yaitu Guo Shoujing yang hidup pada masa Dinasti Yuan. Ia dikenal sebagai ilmuwan dan astronom yang menyempurnakan Kalender Shoushi (Kalender Musim Tanam), salah satu kalender paling akurat pada masanya.
Keberhasilan suku Hui dalam melakukan asimilasi budaya menjadi salah satu faktor penting diterimanya Islam di Tiongkok. Mereka berhasil mengadopsi bahasa, pakaian, dan adat istiadat Tiongkok tanpa kehilangan identitas keagamaan mereka.
Dalam bidang seni, suku Hui melahirkan warisan budaya yang unik, seperti kaligrafi Tionghoa-Arab dan arsitektur masjid yang menyerupai kelenteng atau istana tradisional Tiongkok.
Pada masa Dinasti Yuan dan Ming, suku Hui juga menonjol dalam bidang ilmu pengetahuan dan pengobatan. Mereka memperkenalkan ilmu kedokteran, matematika, dan astronomi Islam ke Tiongkok. Karena keahlian tersebut, mereka dipercaya mengelola Biro Astronomi Kekaisaran yang memadukan ilmu perbintangan dari Persia dan Arab dengan teknologi Tiongkok kuno.
B. Suku Uyghur
Suku Uyghur merupakan etnis minoritas Muslim yang berbahasa Turkik. Jumlah mereka di seluruh dunia sekitar 13,5 juta jiwa, dan sekitar 11,8 juta di antaranya tinggal di Daerah Otonomi Xinjiang, yang dahulu dikenal sebagai Turkistan Timur. Sekitar 90–95 persen dari mereka beragama Islam.
Secara geografis, mereka berada di wilayah barat laut Tiongkok dan termasuk dalam rumpun bangsa Turkik. Dari segi fisik maupun bahasa, mereka lebih dekat dengan masyarakat Asia Tengah. Mereka memiliki bahasa sendiri, yaitu bahasa Uyghur, yang menggunakan aksara Arab.
Suku Uyghur dikenal sangat menjaga identitas tradisional dan budaya mereka. Namun, sikap ini terkadang menimbulkan gesekan kultural dengan pemerintah pusat. Mayoritas mereka menganut Islam bermazhab Hanafi.
Karena kuatnya upaya mempertahankan identitas budaya, mereka sering menghadapi pengawasan, pembatasan budaya, dan tekanan politik dari pemerintah Tiongkok. Ketegangan budaya dan politik di wilayah ini kerap menjadi sorotan berbagai lembaga internasional terkait isu hak asasi manusia dan asimilasi budaya.
Suku Uyghur juga terkenal dengan kekayaan seni dan budayanya, seperti musik tradisional Muqam, arsitektur, serta berbagai kerajinan tangan.
Dalam sejarah, suku Uyghur memiliki peran penting dalam penyebaran Islam dan perkembangan perekonomian Tiongkok. Hal ini tidak terlepas dari posisi geografis Xinjiang yang terletak di jalur utama Jalur Sutra. Karena itu, mereka berperan besar dalam menghubungkan peradaban Timur dan Barat.
Saat ini, dengan dukungan pemerintah pusat, di Xinjiang telah dibangun Urumqi International Landport Zone, yaitu pusat pelabuhan darat yang terletak di Urumqi, ibu kota Xinjiang. Dari kawasan ini, kereta barang dan truk-truk besar mengangkut berbagai komoditas perdagangan menuju Asia Tengah, Asia Selatan, dan Eropa, maupun sebaliknya.
Dengan demikian, Kota Urumqi pada masa depan diproyeksikan menjadi simpul penting Jalur Sutra modern. Perkembangan ini akan menjadikan Xinjiang, khususnya Urumqi, sebagai salah satu pusat pertumbuhan ekonomi dan infrastruktur modern Tiongkok, terutama bagi kawasan barat negara yang dipimpin oleh Presiden Xi Jinping tersebut.
Buya Anwar Abbas, Pengamat Sosial, Ekonomi, dan Keagamaan

