Tadhhiyah, Mengubah Cinta Menjadi Pengabdian

Suara Muhammadiyah

8 July 2026

110
Foto Ilustrasi

Foto Ilustrasi

Tadhhiyah, Mengubah Cinta Menjadi Pengabdian

Oleh : Dr. Jaharuddin, Dosen FEB Universitas Muhammadiyah Jakarta

Ada satu pertanyaan sunyi yang selalu menguji kejujuran iman kita, apa yang paling kita cintai, dan untuk apa kita rela mengorbankannya?

Pertanyaan ini sederhana, tetapi tajam. Ia menembus lapisan terdalam keberagamaan kita. Sebab tidak sedikit orang mampu berbicara fasih tentang iman, tetapi gagap ketika iman meminta waktu. Banyak yang menyebut dakwah dengan bangga, tetapi mundur ketika dakwah menuntut tenaga. Banyak yang mencintai Islam sebagai identitas, tetapi belum sungguh-sungguh menjadikannya sebagai jalan pengabdian.

Di sinilah makna tadhhiyah menemukan relevansinya. Tadhhiyah berarti pengorbanan. Namun dalam cakrawala iman, ia bukan sekadar memberi sesuatu yang tersisa. Tadhhiyah adalah kesediaan mempersembahkan yang bernilai, jiwa, harta, waktu, pikiran, tenaga, kenyamanan, bahkan ego pribadi, demi meraih ridha Allah dan menghadirkan kemaslahatan bagi kehidupan.

Al-Qur’an menggambarkan pengorbanan orang beriman dengan bahasa yang sangat agung: “Sesungguhnya Allah membeli dari orang-orang mukmin diri dan harta mereka dengan memberikan surga untuk mereka,” sebagaimana ditegaskan dalam QS. At-Taubah [9]: 111. Ayat ini bukan sekadar pernyataan teologis, melainkan deklarasi nilai. Diri dan harta manusia beriman tidak semestinya habis hanya untuk ambisi kecil, kesenangan sesaat, atau perlombaan konsumsi yang melelahkan. Hidup seorang mukmin terlalu mulia jika hanya dihabiskan untuk mengejar apa yang pada akhirnya akan ditinggalkan.

Dalam QS. At-Taubah [9]: 24, Allah juga mengingatkan agar cinta kepada orang tua, anak, saudara, pasangan, keluarga, harta, perniagaan, dan tempat tinggal tidak melebihi cinta kepada Allah, Rasul-Nya, dan perjuangan di jalan-Nya. Ayat ini tidak mengajarkan kita membenci keluarga atau meninggalkan urusan dunia. Islam justru memuliakan keluarga, kerja, rumah, dan harta yang halal. Tetapi semuanya harus berada dalam orbit pengabdian kepada Allah, bukan berubah menjadi berhala baru yang menawan keberanian moral manusia.

Karena itu, tadhhiyah pada hakikatnya adalah seni menata prioritas hidup. Ia mengajarkan bahwa Allah harus lebih tinggi daripada dunia, kebenaran harus lebih mahal daripada kenyamanan, dan dakwah tidak boleh hanya menunggu waktu luang dari para pencintanya.

Dakwah sepanjang sejarah tidak pernah tumbuh dari manusia-manusia yang hanya mencari aman. Dakwah bergerak karena ada orang yang rela mengurangi tidurnya, menyisihkan hartanya, menahan egonya, melapangkan waktunya, dan memikul beban yang tidak selalu terlihat oleh orang banyak. Di balik setiap gerakan kebaikan selalu ada pengorbanan yang sunyi. Di balik lembaga pendidikan, rumah sakit, masjid, panti asuhan, gerakan sosial, dan kerja kemanusiaan, selalu ada orang-orang yang memilih memberi lebih banyak daripada menuntut.

Namun tadhhiyah tidak boleh berhenti sebagai slogan yang menggetarkan. Ia harus menjadi etos perubahan. Pengorbanan yang benar mesti melahirkan manusia yang lebih bertanggung jawab, keluarga yang lebih kokoh, masyarakat yang lebih peduli, dan umat yang lebih berdaya. Dalam bahasa dakwah berkemajuan, tadhhiyah adalah energi yang mengubah iman menjadi amal, mengubah ilmu menjadi pelayanan, dan mengubah cinta kepada Allah menjadi keberpihakan nyata kepada kemanusiaan.

Tadhhiyah hari ini tidak selalu hadir dalam bentuk yang dramatis. Ia tampak pada seorang ayah yang mengurangi pengeluaran sia-sia agar dapat berinfak untuk pendidikan anak-anak miskin. Ia hidup dalam diri seorang ibu yang sabar membangun budaya salat, ilmu, dan akhlak di rumahnya. Ia hadir pada guru yang terus mendidik meski penghargaan material tidak selalu sepadan dengan pengabdiannya. Ia tampak pada anak muda yang memilih belajar, berkarya, dan membangun umat ketika sebagian lingkungannya tenggelam dalam budaya pamer, hiburan dangkal, dan hidup tanpa arah.

Tadhhiyah juga hadir pada aktivis dakwah, pendidik, tenaga kesehatan, relawan sosial, dan penggerak masyarakat yang terus bekerja meski tidak selalu viral, tidak selalu dipuji, dan tidak selalu mendapat tepuk tangan. Amal yang paling tulus sering kali tidak gaduh. Ia tumbuh dalam diam, tetapi buahnya dirasakan banyak orang.

Meski demikian, pengorbanan dalam Islam harus selalu dikawal oleh ilmu, akhlak, hikmah, dan kemaslahatan. Semangat tanpa ilmu dapat berubah menjadi fanatisme. Keberanian tanpa hikmah dapat melahirkan kerusakan. Militansi tanpa akhlak dapat menjauhkan manusia dari pesan rahmat Islam. Maka tadhhiyah yang dibutuhkan umat hari ini adalah tadhhiyah yang membangun, bukan merusak; mencerdaskan, bukan membodohkan; menyatukan, bukan memecah belah; memuliakan kehidupan, bukan meremehkannya.

Tantangan terbesar umat modern sering kali bukan ketiadaan potensi, melainkan lemahnya kesediaan untuk berkorban. Kita memiliki banyak orang pintar, tetapi belum tentu banyak yang rela mencurahkan pikirannya untuk umat. Kita memiliki banyak orang mampu, tetapi belum tentu banyak yang menjadikan hartanya sebagai jalan panjang amal jariyah. Kita memiliki banyak waktu untuk layar gawai, tetapi kerap merasa tidak punya waktu untuk majelis ilmu, pelayanan sosial, dan pembinaan generasi.

Di sinilah tadhhiyah menjadi kritik terhadap keberagamaan yang terlalu nyaman. Agama tidak boleh hanya menjadi hiasan identitas. Dakwah tidak boleh berhenti sebagai acara seremonial. Masjid tidak semestinya ramai hanya pada momen tertentu, tetapi sepi dari gerakan pemberdayaan. Pengajian tidak boleh selesai pada rasa haru, melainkan harus melahirkan perubahan perilaku.

Tentu, tadhhiyah harus proporsional. Islam tidak mengajarkan manusia menzalimi diri sendiri. Dalam QS. Al-Baqarah [2]: 286, Allah menegaskan bahwa Dia tidak membebani seseorang melainkan sesuai dengan kesanggupannya. Maka pengorbanan bukan memaksakan yang mustahil, melainkan memberikan yang terbaik dalam batas kemampuan yang bertanggung jawab. Ada yang berkorban dengan harta, ilmu, tenaga, jaringan, doa, keteladanan, atau kesabaran. Tidak semua orang berada di medan yang sama, tetapi setiap orang dapat mengambil bagian.

Yang berbahaya adalah ketika seseorang tidak mengambil bagian sama sekali, tetapi merasa cukup menjadi penonton. Umat ini tidak akan berubah hanya oleh keluhan. Peradaban tidak lahir dari komentar. Dakwah tidak tumbuh dari tepuk tangan. Perubahan membutuhkan orang-orang yang bersedia turun tangan.

Pada akhirnya, tadhhiyah mengajarkan bahwa nilai hidup manusia tidak ditentukan oleh seberapa banyak yang ia simpan, tetapi oleh seberapa besar yang ia persembahkan. Dunia menghitung keberhasilan dari kepemilikan. Iman menghitung kemuliaan dari pengabdian.

Maka marilah bertanya kepada diri sendiri, waktu terbaik kita untuk apa? Harta terbaik kita mengalir ke mana? Ilmu yang kita miliki menerangi siapa? Tenaga kita memperkuat apa? Dan hidup kita, pada akhirnya, sedang kita persembahkan untuk siapa?

Jika pertanyaan itu dijawab dengan jujur, tadhhiyah tidak lagi menjadi istilah yang jauh. Ia menjadi jalan pulang menuju makna hidup yang lebih tinggi, menjadi manusia yang tidak hanya saleh secara pribadi, tetapi juga hadir sebagai rahmat bagi sesama.


Berita Lainnya

Berita Terkait

Tentang Politik, Pemerintahan, Partai, Dll

Wawasan

Apakah Pendidikan Kita Siap untuk Era AI? Catatan dari Forum Asia Tenggara di Jeju Korea Selatan Ol....

Suara Muhammadiyah

7 May 2026

Wawasan

Ikhtiar Awal Menuju Keluarga Sakinah (28) Oleh: Mohammad Fakhrudin (warga Muhammadiyah tinggal di M....

Suara Muhammadiyah

14 March 2024

Wawasan

Melawan Kasta, Merangkul Persaudaraan Oleh: Donny Syofyan, Dosen Fakultas Ilmu Budaya Universitas A....

Suara Muhammadiyah

17 September 2025

Wawasan

Tapak Suci dan Empat Jalan Pengabdiannya Oleh: Yudha Kurniawan (Ketua Pimda 02 Tapak Suci Bantul, b....

Suara Muhammadiyah

10 June 2026

Wawasan

Bulan Miladiah dan Menjelang Muktamar Tapak Suci: Momentum Perguruan Seni Beladiri Indonesia Tapak S....

Suara Muhammadiyah

7 July 2026

Tentang

© Copyright . Suara Muhammadiyah