Ketika Sang Kiai Kampung Menjadi Penentu Urusan Umat di Era Modern

Suara Muhammadiyah

24 June 2026

44
Foto Ilustrasi

Foto Ilustrasi

Ketika Sang Kiai Kampung Menjadi Penentu Urusan Umat di Era Modern

Oleh: Rumini Zulfikar (Gus Zul), Penasihat PRM Troketon, Pedan, Klaten

"Pada dasarnya manusia itu sendiri menjadi penentu apakah akan terpuji atau sebaliknya."

عِنْدَمَا يَكُونُ مَرْجِعًا حَاسِمًا فِي كُلِّ أَمْرٍ

‘Indamā yakūnu marji‘an ḥāsiman fī kulli amr

(Ketika menjadi tempat rujukan dalam setiap urusan).

Kyai/ustaz merupakan sosok pribadi yang sangat dihormati dan disegani karena dalam dirinya terdapat kedalaman ilmu, keluasan ilmu, baik ilmu agama, ilmu umum, maupun ilmu hikmah, serta akhlaknya yang begitu mulia. Maka masyarakat di sekelilingnya menaruh hormat (ta'dzim). Bahkan dalam buku Muslim Tanpa Masjid karya Prof. Dr. Kuntowijoyo, seorang cendekiawan muslim dan tokoh Muhammadiyah, dijelaskan bahwa seorang kyai, atau dalam bahasa Jawa disebut ajengan, merupakan sosok yang menjadi tempat curahan hati dan tempat meminta pertimbangan umat dan masyarakat dalam urusan agama, sosial, budaya, ekonomi, bahkan dalam urusan perjodohan. Peran sang kyai menjadi sangat menentukan.

Akan tetapi, di tengah era disrupsi (perubahan) dari masyarakat agraris menuju masyarakat industrial, tata kelola kehidupan umat manusia dalam berbagai sendi kehidupan, baik ekonomi, politik, maupun sosial budaya, ikut terpengaruh. Seiring perkembangan zaman di era digital, masyarakat awam pun sangat mudah mengakses apa yang ingin ditanyakan. Mereka dapat memperoleh jawaban hanya dengan bertanya kepada "Mbah Google", AI, dan lainnya.

Kita dapat membandingkan kondisi tahun 1900-an hingga akhir 1999-an. Saat itu masih sangat kental tata kelola kehidupan yang berlangsung dengan model budaya patron, yaitu seorang figur publik begitu dihormati dan disegani oleh umat dan masyarakat serta menjadi tempat untuk mencurahkan segala problematika kehidupan dalam berbagai sendi kehidupan. Sosok tersebut adalah sang kyai karena dipandang mumpuni dalam ilmu agama maupun ilmu umum. Tentunya, akhlak mulia sang panutan umat juga menjadi parameter utama.

Akan tetapi, seiring berjalannya waktu, peran utama sang kyai, ustaz, atau tokoh agama mengalami penurunan. Jika kita jujur, sekarang sangat mudah mengakses berbagai informasi. Selain itu, sikap yang dipertontonkan oleh sebagian orang yang seharusnya menjadi panutan justru tidak memberikan teladan yang baik. Tidak kalah penting, kecanggihan teknologi telah mampu memenuhi berbagai kebutuhan manusia.

Budaya ngaji ala kampung sudah bergeser. Dari mengaji menggunakan buku, kini berpindah ke benda tipis yang mampu mengakses berbagai kebutuhan hanya dengan sekali klik.

Maka tidak salah jika muncul pemikiran bahwa peran dan kepakaran para ulama, kyai, ustaz, dan cendekiawan telah tergeser oleh teknologi.

Dalam kesempatan tertentu, penulis mendapatkan pengalaman yang sangat menggelitik. Tiba-tiba telepon Android penulis berdering. Dalam percakapan tersebut, seseorang meminta saran dan pertimbangan.

Peribahasa Arab di atas menggarisbawahi bahwa "tatkala menjadi rujukan atau tempat bertanya dalam setiap problematika, itulah sosok ulama dan kyai."

Penelpon: Mas, ini teman saya mau mulai usaha di bidang pertanian. Dari situ dia bertanya, enaknya dimulai hari apa?

Penulis: Lantas saya tanya, waktunya mendesak atau tidak? Jika mendesak, ya hari Sabtu Legi, Mas. Walaupun setiap hari itu baik semuanya.

Pak Kirman: Oh, nggih, Mas. Nanti saya sampaikan ke teman saya. Kebetulan ini beliau ada di tempat saya, Mas.

Penulis: Oh nggih, nanti bisa ngobrol dengan beliau.

Selang beberapa saat, penulis bertemu setelah pulang dari tempat kerja. Terjadi obrolan bertiga antara penulis, Pak Kirman, dan Pak Jundi.

Dari obrolan tersebut, Pak Jundi langsung menyampaikan keinginannya untuk bertanya.

Pak Jundi: Ngeten, Pak. Saya mau melanjutkan usaha jamur. Untuk memulai membangun kumbung jamur itu enaknya hari apa, ya Pak?

Kyai Kampung: Lha, setiap hari baik, Pak. Apalagi diawali dengan niat, keyakinan, dan sikap yang baik, Pak.

Pak Jundi: Oh nggih, Pak.

Kyai Kampung: Besok Sabtu Legi juga baik, Pak.

Pak Jundi: Oh nggih, siap Pak. Nanti saya mulai hari Sabtu Legi.

Yang kedua adalah peristiwa ketika seorang ibu janda setengah baya datang ke rumah sang kyai untuk meminta saran dan pertimbangan karena akan menikahkan anak perempuannya. Dalam pertemuan kurang lebih 10 menit tersebut terjadi diskusi yang menarik antara sang tamu, sebut saja Bu Wira, dan tuan rumah.

Bu Wira: Assalamu'alaikum warahmatullahi wabarakatuh. Kulo nuwun, Pak.

Kyai Kampung: Wa'alaikumussalam, Bu. Monggo pinarak lenggah. Wonten dawuh, Bu?

Bu Wira: Begini, Pak. Kedatangan saya ke sini yang pertama silaturahim, yang kedua saya minta tolong panjenengan untuk menerima pasrah temanten dari pihak besan, jadi panjenengan mewakili saya, Pak.

Kyai Kampung: Oh nggih, Bu. Mugi-mugi saged melaksanakan apa yang menjadi keperluan panjenengan.

Bu Wira: Oh nggih, Pak. Begini, saya minta saran dan pertimbangannya, Pak. Untuk pertemuan panitia kecil kapan, nggih? Dan siapa saja yang diundang, Pak?

Kyai Kampung: Oh begitu, Bu. Ya hari Jumat malam Sabtu, Bu. Yang diundang yang kemarin menerima lamaran (khitbah), kemudian Pak RW, Pak RT, dan perwakilan Karang Taruna, Bu. Tentunya juga keluarga inti panjenengan.

Bu Wira: Nggih, Pak. Matur suwun sarannya.

Pelaksanaan pertemuan panitia inti atau panitia kecil pernikahan pun sesuai dengan apa yang disarankan.

Itulah sebuah potret yang masih terawat dalam tata kelola kehidupan masyarakat di era modern.

Oleh karena itu, hal tersebut sangat penting dan harus menjadi kultur yang dirawat dan dipertahankan.

Menjaga Marwah dengan Menjaga Kepercayaan (I'tiqah)

Kyai/ustaz adalah sosok manusia biasa yang bisa berbuat salah dan khilaf, dan itu manusiawi. Kyai dan ustaz bukan manusia suci. Akan tetapi, dalam rangka menjaga marwah atau harga diri, baik secara pribadi, keluarga, maupun umat, sangat penting untuk menjaga i'tiqah (kepercayaan) tersebut.

Jika hal ini terjaga dengan baik, akan sangat mudah menuju kemajuan umat manusia itu sendiri. Dengan tetap menjaga kepercayaan, maka dengan sendirinya akan memberikan atsar atau bekas yang baik. Akan tetapi sebaliknya, jika kepercayaan itu rusak, maka akan mencederai marwah itu sendiri.

Fenomena akhir-akhir ini menunjukkan adanya sejumlah kejadian yang mencoreng nama para kyai dan ustaz, baik karena kasus asusila maupun tindak pidana lainnya. Hal ini menyayat hati. Sosok yang sangat dijunjung dan dielu-elukan umat justru mengkhianati nilai-nilai luhur itu sendiri. Ibaratnya tidak mampu menjadi teladan yang baik dan hanya pandai berbicara teori. Alias jarkoni ("pinter ngajari ora pinter ngelakoni").

Oleh karena itulah penting membangun keselarasan antara teori dan praktik. Keduanya harus berjalan seirama. Hal ini sering kali kurang diperhatikan karena memang sangat mudah diucapkan, tetapi membutuhkan perjuangan ekstra dalam implementasinya.

Maka yang harus dipegang teguh adalah menjaga integritas, moral, dan wawasan keilmuan yang kontemporer.

Tidak kalah penting adalah menjaga adab dan akhlak yang harus menjadi busana dalam kehidupan ini, sebagaimana telah dicontohkan para pendahulu kita, terutama keteladanan Nabi Muhammad SAW.

Oleh sebab itu, siapa pun yang mendapatkan amanah dengan menyandang nama tambahan, entah sebagai kyai, ustaz, gus, ajengan, atau apa pun sebutannya, pada intinya harus menjaga marwahnya.


Berita Lainnya

Berita Terkait

Tentang Politik, Pemerintahan, Partai, Dll

Wawasan

Saat Hatimu Butuh Istirahat Oleh: Ernawati, Ketua Bidang Dakwah PDNA Batang Hati adalah pusat dar....

Suara Muhammadiyah

20 January 2025

Wawasan

Jamane Wis Akhir: Dalam Kehidupan Manusia Oleh: Rumini Zulfikar, Penasehat PRM Troketon "Bumi ini ....

Suara Muhammadiyah

15 March 2025

Wawasan

Perempuan-Perempuan Ka'bah Oleh: Pradana Boy ZTF, Dosen Fakultas Agama Islam Universias Muhamm....

Suara Muhammadiyah

13 May 2025

Wawasan

Membangun Ekonomi Muhammadiyah  Oleh: Saidun Derani Tulisan penulis tentang “Memegang d....

Suara Muhammadiyah

13 May 2024

Wawasan

Oleh: Ir Tito Yuwono, ST., MSc., PhD., IPM, Dosen Jurusan Teknik Elektro-Universitas Islam Indonesia....

Suara Muhammadiyah

14 May 2025

Tentang

© Copyright . Suara Muhammadiyah