CILACAP, Suara Muhammadiyah — Lebih dari empat ribu jamaah memadati Gedung IPHI Kabupaten Cilacap dalam acara Silaturahim Keluarga Besar Muhammadiyah Kabupaten Cilacap. Acara yang sekaligus menjadi acara Pelepasan Jamaah Calon Haji KBIHU Al-Mabrur ini diselenggarakan pada Ahad (12/04). Ketua Pimpinan Wilayah Muhammadiyah Jawa Tengah, Dr. K.H. Tafsir, M.Ag., hadir sebagai narasumber utama dan membawakan pengajian yang sarat wawasan tentang silaturahim, halal bihalal, dan haji.
Dalam tausiah-nya, K.H. Tafsir menegaskan bahwa tradisi halal bihalal di bulan Syawal bukan sekadar kebiasaan tanpa landasan, melainkan memiliki nalar syariat yang kuat. Ia menjelaskan bahwa kesucian seorang muslim kepada Allah setelah Ramadan belumlah sempurna tanpa disertai upaya bersih kepada sesama manusia.
"Bersih kepada Allah kita tempuh dengan ibadah. Tetapi bersih kepada sesama tidak bisa dengan ibadah. Kalau punya salah, harus minta maaf. Bersih kepada Allah itu satu arah, tetapi bersih kepada sesama harus dua arah," tegasnya.
Itulah, kata K.H. Tafsir, sebabnya halal bihalal digelar tepat setelah Ramadan. "Mumpung masih berdekatan dengan Ramadan, maka saling halal bihalal. Sehingga bersih kepada Allah menjadi sempurna karena disempurnakan bersih kepada sesama," ujarnya.
K.H. Tafsir secara khusus mengapresiasi keberhasilan ulama Indonesia menjadikan halal bihalal sebagai budaya bangsa. Menurutnya, ini bukan hal yang mudah dicapai.
"Muhammadiyah bisa membangun rumah sakit, kampus, dan sekolah. Tetapi belum tentu bisa mengubah syariat menjadi budaya bangsa," ujarnya.
Halal bihalal kini diikuti seluruh lapisan masyarakat, dari presiden hingga ketua RT, dari warga muslim hingga non-muslim. Bagi K.H. Tafsir, ini adalah keberhasilan dakwah sekaligus bagian dari jihad budaya. Ia pun mengingatkan umat Islam agar tidak kendur semangat berbudaya. "Kalau Desember lebih semarak dari Ramadan, artinya umat Islam kalah jihad budaya," tandasnya.
Islam Adaptif, Bukan Kaku
K.H. Tafsir juga mengulas prinsip bahwa Islam bersifat adaptif terhadap perubahan ruang dan waktu, sesuai kaidah al-islamu shalihun likulli zamanin wa makanin. Ia mencontohkan tradisi imsak di Indonesia yang berjarak 10 menit sebelum subuh sebagai bentuk ikhtiar ulama, meskipun secara syariat imsak dan subuh sejatinya bermakna sama. Begitu pula zakat fitrah yang di Indonesia ditunaikan dengan beras—bukan kurma seperti zaman Nabi—atas pertimbangan makanan pokok yang berlaku.
Ramadan yang akrab disebut "bulan suci" oleh masyarakat Indonesia pun ia kupas. Secara teks hadis, Ramadan disebut syahrun mubarokun atau bulan penuh berkah. Namun K.H. Tafsir menilai penyebutan "bulan suci" tidak keliru, sebab Ramadan memang bulan penyucian dosa, sebagaimana dijanjikan Rasulullah SAW: siapa yang berpuasa dengan iman dan ikhlas, diampuni dosa-dosanya yang telah lalu.
"Karena kita memahami Ramadan sebagai bulan penyucian dosa, maka tidak salah Ramadan disebut bulan suci," jelasnya.
Acara ini sekaligus menjadi momen pelepasan 193 jamaah calon haji KBIHU Al-Mabrur Muhammadiyah Kabupaten Cilacap. Panitia yang diwakili Bapak Nasihin menyampaikan rasa syukur atas antusias jamaah yang hadir jauh melampaui perkiraan. "Kursi yang tersedia hampir tiga ribu itu terpenuhi. Artinya jamaah yang hadir lebih dari tiga ribu," ujarnya, seraya memohon maaf atas segala kekurangan fasilitas.
Ketua PDM Kabupaten Cilacap, Dr. H. Habib Munawir Ghazali, S.Ag., S.H., M.Sy., menegaskan bahwa Muhammadiyah siap menjadi mitra pemerintah di semua lini. "Muhammadiyah hadir adalah dalam rangka melayani umat, sebagaimana yang sudah kita maklumi di bidang pendidikan, kesehatan, termasuk dalam pengelolaan ibadah haji," katanya. Ia juga mengajak seluruh ormas untuk berkolaborasi membangun Cilacap.
Mewakili Pelaksana Tugas Bupati Cilacap, Pelaksana Harian Sekretaris Daerah, Anisa Fabriana, S.H., M.Si., menyampaikan apresiasi pemerintah atas peran Muhammadiyah selama ini. "Peran aktif dan kontribusi Muhammadiyah sangat luar biasa dan nyata dirasakan oleh masyarakat, baik di bidang pendidikan, kesehatan, maupun sosial keagamaan," ujarnya. Ia pun mendoakan seluruh jamaah calon haji agar dapat menunaikan ibadah dengan lancar dan kembali dengan predikat haji yang mabrur dan mabrurah. (Naf)
