Takwa Dulu atau Syukur Dulu?; Refleksi QS. Ali Imran ayat 123

Publish

25 February 2026

Suara Muhammadiyah

Penulis

0
405
Foto Ilustrasi

Foto Ilustrasi

Takwa Dulu atau Syukur Dulu?; Refleksi QS. Ali Imran ayat 123

Oleh: Rais Yudistira, Pengajar Madrasah Muallimin Muhammadiyah Yogyakarta

Seringkali kita menyangka bahwa takwa merupakan puncak dari ketaatan. Bertakwa dengan mengerjakan seluruh perintah Allah dan meninggalkan seluruh larangan-Nya. Menariknya, ketika Allah mengisahkan peristiwa perang Badar dalam Qur’an, Allah berfirman,

وَلَقَدْ نَصَرَكُمُ اللَّهُ بِبَدْرٍ وَأَنتُمْ أَذِلَّةٌ ۖ فَاتَّقُوا اللَّهَ لَعَلَّكُمْ تَشْكُرُونَ

“Sungguh Allah telah menolong kamu dalam peperangan Badar, padahal kamu adalah (ketika itu) orang-orang yang lemah. Karena itu bertakwalah kepada Allah, supaya kamu mensyukuri-Nya.”  (QS. Ali Imran: 123)

Dalam ayat ini Allah menegaskan bahwa derajat kesyukuran dapat dicapai melalui ketakwaan, menandakan bahwa ada yang lebih tinggi dari derajat takwa yaitu syukur.

Syekh Khalid Al Juhani dalam bukunya al-Kalimat as-Sadidah menjelaskan bahwa syukur diaplikasikan melalui 3 hal. Yang pertama, syukur lisan yaitu dengan berdizikir kepada Allah, syukur anggota tubuh dengan menggunakannya untuk hal-hal yang Allah ridhoi, dan syukur hati dengan meyakini semua kenikmatan yang diterima berasal dari Allah semata.

Poin bersyukur dengan menggunakan anggota badan merupakan hakikat takwa yang barangkali tidak terpikir oleh kita. Seringkali kita mencukupkan makna syukur dengan mengucap hamdalah ketika mendapat nikmat dan meyakini bahwa nikmat tersebut asalnya dari Allah, namun tidak sampai bahwa kemaksiatan yang kita kerjakan merupakan tanda menjauhnya kita dari rasa syukur.

Sempitnya pemikiran bahwa tidak bersyukur adalah dengan sebatas tidak menerima atau merasa puas akan kenikmatan yang Allah berikan perlu kita perluas menjadi setiap pelanggaran syar’i yang dikerjakan seorang hamba adalah bentuk ketidaksyukuran.

Jika Allah berikan nikmat mulut, maka berkata kotor merupakan tanda kufur nikmat, jika Allah berikan nikmat mata, maka memandang kepada hal-hal yang haram tanda kufur nikmat, jika Allah berikan nikmat telinga, mendengar hal-hal yang mendatangkan murkanya Allah merupakan tanda kufur nikmat.

Maka benar adanya, iblis dan bala tentaranya akan selalu menyasatkan manusia agar tidak bersyukur, Allah ta’ala berfirman,

 قَالَ فَبِمَا أَغْوَيْتَنِي لَأَقْعُدَنَّ لَهُمْ صِرَاطَكَ الْمُسْتَقِيمَ (16 (ثُمَّ لَآتِيَنَّهُم مِّن بَيْنِ أَيْدِيهِمْ وَمِنْ خَلْفِهِمْ وَعَنْ أَيْمَانِهِمْ وَعَن شَمَائِلِهِمْ ۖ وَلَا تَجِدُ أَكْثَرَهُمْ شَاكِرِينَ (17)

“Ia (Iblis) menjawab, “Karena Engkau telah menyesatkan aku, pasti aku akan selalu menghalangi mereka dari jalan-Mu yang lurus. Kemudian, pasti aku akan mendatangi mereka dari depan, dari belakang, dari kanan, dan dari kiri mereka. Engkau tidak akan mendapati kebanyakan mereka bersyukur.” (QS. al-A’raf: 16-17)

Iblis tidak mengatakan, “Engkau tidak akan mendapati kebanyakan mereka bertaqwa.” karena syukur yang dimaksud sudah mencakup ketakwaan. Berkata al - Imam ath -Thabari ketika menafsirkan ayat ini,

و "شكرهم إياه "، طاعتهم له بالإقرار بتوحيده, واتّباع أمره ونهيه.

“Yang dimaksud dengan syukur manusia terhadap Allah adalah taatnya mereka kepada Allah dengan mengikrarkan akan keesaannya, dan mengikuti segala perintah dan meninggalkan segala larangan-Nya.”

Terakhir, sebagai bentuk refleksi, kita bisa menganalogikan bahwa manusia yang hidup di bumi Allah ibarat seseorang yang sedang bertamu di rumah orang. Tamu akan selalu menjaga adab dan sopan santun, tidak masuk, duduk, menyantap hidangan kecuali dipersilahkan. 

Selama tamu mampu menjaga yang demikian ia dianggap tamu yang baik.Wa lillahi matsalul a’la, bagaimana bisa seorang hamba diberikan nikmat dan dipersilahkan hidup di bumi Allah, namun ia tidak bersyukur kepada Sang Pemberi dengan berbuat kerusakan dan kemaksiatan.


Berita Lainnya

Berita Terkait

Tentang Politik, Pemerintahan, Partai, Dll

Wawasan

Oleh: Suko Wahyudi Dalam beberapa dekade terakhir, budaya konsumtif telah menjadi fenomena global y....

Suara Muhammadiyah

7 December 2024

Wawasan

Bisakah Muhammadiyah Menjawab Tantangan Kesehatan Mental? Oleh: Nurul Kodriati,Ph.D Hari kesehatan....

Suara Muhammadiyah

10 October 2023

Wawasan

Mengenali Fatwa Tarjih Muhammadiyah Oleh: Prahasti Suyaman Perkembangan ilmu pengetahuan dan tekn....

Suara Muhammadiyah

28 August 2024

Wawasan

TKA, Kesehatan Mental Siswa, dan Pendidikan yang Mencerahkan Oleh: Nabigh Shorim Faozan, Mahasiswa ....

Suara Muhammadiyah

21 January 2026

Wawasan

Kemanfaatan Muhammadiyah untuk Semua Oleh: Iu Rusliana, Dosen Program Magister Manajemen UHAMKA Jak....

Suara Muhammadiyah

15 November 2025

Tentang

© Copyright . Suara Muhammadiyah