SEMARANG, Suara Muhammadiyah – Tanwir Tapak Suci Putera Muhammadiyah resmi dibuka di Universitas Muhammadiyah Semarang (UNIMUS), Rabu (6/8/2026). Forum permusyawaratan tertinggi sebelum Muktamar ini menjadi momentum penting untuk memperkuat konsolidasi organisasi sekaligus menegaskan arah Tapak Suci sebagai organisasi yang modern, mandiri, dan mendunia.
Ketua Panitia Muktamar Tapak Suci, Wiwoho Aji Santoso, mengungkapkan bahwa Muktamar Tapak Suci ke-16 akan diikuti sejumlah 828 peserta dari berbagai daerah di Indonesia dan luar negeri. Menurutnya, besarnya agenda tersebut tidak mungkin terlaksana tanpa dukungan berbagai pihak.
"Kegiatan ini tidak bisa berjalan sendiri. Kami mendapatkan dukungan yang luar biasa dari banyak pihak, khususnya Universitas Muhammadiyah Semarang sebagai tuan rumah," ujarnya.
Ia berharap penyelenggaraan Tanwir dan Muktamar mampu menjadi tonggak bagi kemajuan Tapak Suci sebagai organisasi otonom Muhammadiyah yang semakin modern, mandiri, dan memiliki daya saing di tingkat global.
Sementara itu, Ketua Umum PP Tapak Suci Putera Muhammadiyah, Afnan Hadikusumo, menjelaskan alasan penyelenggaraan Muktamar yang sempat mengalami penundaan. Menurutnya, pandemi Covid-19 menjadi faktor utama, di samping adanya berbagai program strategis organisasi yang harus dituntaskan terlebih dahulu.
"Penundaan ini terjadi karena pandemi Covid-19 dan tuntutan berbagai program yang harus diwujudkan," katanya.
Afnan mengingatkan bahwa sejak berdiri 63 tahun lalu, Tapak Suci telah melewati berbagai fase perkembangan. Namun, tantangan ke depan akan semakin kompleks sehingga organisasi dituntut terus beradaptasi dengan perubahan zaman.
Semangat adaptasi tersebut, lanjutnya, juga tampak dalam penyelenggaraan Muktamar Tapak Suci yang berlangsung di salah satu PTMA bergengsi. Forum digelar di lingkungan universitas dengan fasilitas modern dan sangat memadai. Sistem administrasi peserta pun telah bertransformasi menuju digital.
Jika sebelumnya peserta harus menandatangani daftar hadir secara manual, kini cukup menempelkan kartu identitas pada perangkat pemindai. Dalam hitungan detik, identitas peserta langsung muncul di layar monitor sebagai bukti kehadiran.
"Inilah salah satu bentuk adaptasi yang dilakukan Tapak Suci dalam menghadapi perkembangan teknologi dan tuntutan zaman," ujarnya.
Menutup sambutannya, Afnan mengajak seluruh peserta menjadikan Tanwir sebagai ruang musyawarah untuk membangun kesepahaman dan persatuan demi kemajuan organisasi.
"Mari kita mencari kata sepakat, mencapai tujuan yang sama demi Tapak Suci yang maju dan berjaya," pungkasnya. (diko)

