Tazkiyatun Nufus (Mukadimah)
Penulis: M. Saifudin, Lc, Pimpinan Pondok Pesantren Muhammadiyah Sangen Weru Sukoharjo
Terkadang kita merasa hidup berat karena keadaan, karena keterbatasan harta dan fasilitas atau karena tekanan pekerjaan dan kondisi. Padahal, yang sesungguhnya terjadi adalah cara hati dalam menyikapinya. Hati yang rapuh, persoalan semakin terasa rumit, sedangkan bagi hati yang kokoh setiap masalah dapat dihadapi dengan baik. Dan itulah orang-orang sukses:
Allah Ta’ala berfirman:
قَدْ أَفْلَحَ مَن زَكَّاهَا وَقَدْ خَابَ مَن دَسَّاهَا
“Sungguh beruntung orang yang menyucikan jiwanya, dan sungguh rugi orang yang mengotorinya.” (QS. Asy-Syams: 9–10)
Dalam Kitab Hilyat al Awliya pada bab muhasabah, diriwayatkan, pada suatu malam, khalifah Umar bin Khattab radhiyallahu ‘anhu berkeliling seperti biasa, mengawasi keadaan umatnya. Di sela-sela tugasnya, tiba-tiba beliau berhenti sejenak dan merenung, lalu berkata kepada dirinya sendiri:
حَاسِبُوا أَنْفُسَكُمْ قَبْلَ أَنْ تُحَاسَبُوا
“Hisablah diri kalian sebelum kalian dihisab.”
Ungkapan yang terdengar sederhana itu sarat dengan pesan dan makna. Seorang sahabat Nabi yang dijamin masuk surga, Umar bin Khattab radhiyallahu ’anhu, ketika mengurus dan mengawasi rakyatnya, ia masih ingat pada diri sendiri. Padahal beliau dikenal sebagai sahabat yang sangat berhati-hati dalam setiap tindakannya. Meski beliau sebagai seorang khalifah, pemimpin tertinggi umat pada waktu itu, yang di pundaknya segala urusan, dari urusan dunia hingga urusan ibadah, namun beliau tidak lupa pada diri sendiri.
Beliau menyadari bahwa dirinya juga manusia yang tidak luput dari khilaf dan kesalahan, sehingga terbersitlah kalimat yang mengandung makna yang dalam dan mendorong untuk selalu melakukan introspeksi.
Dari sini terlihat, bahwa orang-orang mulia terdahulu, tidak saja memperhatikan amal yang tampak, tetapi juga sangat perhatian pada apa-apa yang tersembunyi dalam diri, yaitu hati. Sebab, hati adalah unsur terpenting dalam diri manusia, yang menentukan kualitas seseorang. Sebagaimana sabda Nabi Muhammad shallallahu ‘alaihi wasallam,
أَلَا وَإِنَّ فِي الْجَسَدِ مُضْغَةً إِذَا صَلَحَتْ صَلَحَ الْجَسَدُ كُلُّهُ وَإِذَا فَسَدَتْ فَسَدَ الْجَسَدُ كُلُّهُ أَلَا وَهِيَ الْقَلْبُ
“Ingatlah, dalam tubuh terdapat segumpal daging. Jika ia baik, maka baiklah seluruh tubuh. Jika ia rusak, maka rusaklah seluruh tubuh. Ketahuilah, itulah hati.” (HR. Bukhari dan Muslim)
Untuk itu, Allah Ta’ala mengutus para nabi bukan sekadar untuk menyampaikan wahyu dan mengajak kepada kebenaran, namun juga bertugas untuk menyucikan jiwa manusia, yakni dengan menyuruh untuk berbuat baik, meninggalkan keburukan dan melaksanakan perintah Allah dan Rasul-Nya:
هُوَ الَّذِي بَعَثَ فِي الْأُمِّيِّينَ رَسُولًا مِّنْهُمْ يَتْلُو عَلَيْهِمْ آيَاتِهِ وَيُزَكِّيهِمْ
“Dialah yang mengutus kepada kaum yang buta huruf seorang rasul dari kalangan mereka, yang membacakan ayat-ayat-Nya kepada mereka dan menyucikan mereka.” (QS. Al-Jumu’ah: 2)
Saking pentingnya menjaga hati, bahkan Rasulullah Muhammad shallallahu ’alaihi wasallam selalu berdoa untuk dirinya agar terjaga kesucian hatinya:
اللَّهُمَّ آتِ نَفْسِي تَقْوَاهَا وَزَكِّهَا أَنْتَ خَيْرُ مَنْ زَكَّاهَا
“Ya Allah, berikanlah jiwaku ketakwaannya dan sucikanlah ia. Engkau sebaik-baik yang mensucikannya.” (HR. Muslim)
Dengan hati yang suci, maka hati pun menjadi sehat. Dan hanya dengan hati yang sehat, seorang hamba akan mencapai kepada ridha Allah Ta’ala:
يَوْمَ لَا يَنفَعُ مَالٌ وَلَا بَنُونَ إِلَّا مَنْ أَتَى اللَّهَ بِقَلْبٍ سَلِيمٍ
“Hari ketika harta dan anak-anak tidak berguna, kecuali orang yang datang kepada Allah dengan hati yang bersih.” (QS. Asy-Syu’ara: 88–89)
Harta dan kedudukan tidak mampu mengantarkan seorang hamba kepada ridha Allah Ta’ala, jika hati dibiarkan dalam keadaan kotor dan berpenyakit. Maka pada ayat itu, ditegaskan dengan gaya bahasa nafyi (peniadaan) dan itsbat (penetapan), yakni, tidak ada apa pun yang bisa mengantarkan seseorang untuk dapat meraih ridha Allah Ta’ala, melainkan hanya dengan qalbun salim yaitu hati yang sehat dan bersih dari penyakit.
Sebagaimana diungkapkan oleh Hamka, “Hati manusia itu laksana cermin. Jika ia kotor, maka ia tidak dapat memantulkan kebenaran. Tetapi jika ia bersih, ia akan menerima cahaya kebenaran dengan jernih.” Hal ini menegaskan bahwa kejernihan hidup sangat ditentukan oleh kebersihan hati. Bahkan beliau juga menegaskan, “Bahagia itu bukanlah terletak pada banyaknya harta, tetapi pada ketenteraman jiwa,” yang semuanya berakar dari hati yang dekat kepada Allah.
Senada dengan itu, Sayyid Sabiq mengingatkan bahwa kebersihan jiwa adalah asas segala kebaikan. Jika jiwa bersih, maka amal akan baik dan kehidupan menjadi lurus. Ini menunjukkan bahwa tazkiyatun nufus bukan sekadar aspek tambahan, tetapi inti dari bangunan keislaman seseorang.
Imam Ibnu Qayyim al-Jauziyyah menjelaskan bahwa hati yang selamat adalah hati yang bersih dari syubhat dan syahwat, serta hanya tunduk kepada Allah. Sementara Abu Hamid al-Ghazali menggambarkan hati sebagai raja, dan anggota badan sebagai tentaranya, jika hati baik, maka seluruh amal akan baik.
Tazkiyatun nufus adalah proses memperbaiki yang tersembunyi dalam diri, dimulai dari muhasabah yakni introspeksi, dilanjutkan dengan ilmu, dan disempurnakan dengan amal. Siapa yang menjaga hatinya, maka ia telah menjaga seluruh hidupnya. Dan siapa yang lalai dari hatinya, maka ia telah membuka pintu kerusakan bagi dirinya sendiri.

