PALANGKARAYA, Suara Muhammadiyah - Konsolidasi Antara RS Puluhan pegawai RS Islam PKU Muhammadiyah Palangka Raya, memadati Aula Syafi’i Ma’arif Lantai III, Senin, 13/4/2026, menggelar silaturahim, pemantapan, serta meneguhkan komitmen (persepsi bersama) menjadi rumah sakit pendidikan yang unggul dan berkemajuan di Kalimantan Tengah, yang mendatangkan direktur rumah sakit universitas Muhammadiyah Makassar, Prof. dr. Syarifuddin Wahid, Sp. PA.,Sp.F.,Ph.D., DFM.
Acara diawali dengan pembacaan Al – Qur’an, menyanyikan lagu Indonesia Raya, Mars Muhammadiyah dilanjutkan dengan sambutan ketua BPH, Dr. dr. Sayuti Syamsul, MPPM., menyampaikan perkembangan RS Islam PKU Muhammadiyah Palangka Raya harus berani berinovasi dalam pelayanan pasien sehingga mempunyai layanan unggulan, berhemat (efisiensi) dalam setiap pengeluaran serta memperbanyak jejaring. “Pasien yang dirawat hampir disemua rumah sakit adalah pasien BPJS, maka dari itu RS Islam PKU Muhammadiyah Palangka Raya, wajib berhemat serta membuat dana cadangan agar tetap stabil, bertumbuh serta berkembang tanpa mengganggu pelayanan kesehatan,” ujarnya .
Dalam paparan dari dr. Lia Indriana, menyampaikan perkembangan RS Islam PKU Muhammadiyah yang dahulunya adalah sebuah klinik ibu dan anak, Alhamdulillah saat ini sudah berdiri rumah sakit dengan tipe C serta jumlah bed 100. Melalui perjuangan yang tidak ringan, semua jajaran pengelola terus berupaya untuk terus memperbaiki layanan dan penunjang rumah sakit, serta meneguhkan komitmen menjadi rumah sakit pendidikan di Kalimantan Tengah.
“Suatu perjuangan yang tidak ringan ini, jika tidak diikuti dengan keunggulan, serta kekompakan semua antara lain RS Islam PKU Muhammadiyah Palangka Raya dan UMPR khususnya fakultas kedokteran, maka bukan tidak mungkin amal usaha yaitu rumah sakit pendidikan terwujud segera,” ucapnya.
Memasuki puncak acara, paparan disampaikan Prof. dr. Syarifuddin Wahid, Sp. PA., Sp.F.,Ph. D., DFM., dengan mengutip pesan ideologis yang kuat dari Sir William Osler “To study the phenomena of disease without books is to sail in uncharted sea, while to study book without patients is not to go to sea at all.”
Yang berarti dalam mempelajari suatu penyakit tanpa buku (teori) sama saja dengan berlayar di lautan yang tidak ada petanya sehingga akan kebingungan atau tersesat, sedangkan mempelajari buku tanpa perawatan kesehatan pasien (praktik) sama saja dengan tidak berlayar sama sekali atau ilmu tidak berguna.
“Dalam dunia kedokteran, antara teori (pembelajaran) yaitu berada di kampus dan praktik di rumah sakit harus seimbang, sehingga dapat menghasilkan para dokter (tenaga kesehatan) yang unggul dan berkemajuan,” ungkapnya.
Ia menegaskan bahwa amal usaha Muhammadiyah (AUM) termasuk rumah sakit merupakan amanah persyarikatan yang harus dijaga bersama dengan penuh tanggung jawab. Ia juga menekankan pentingnya loyalitas, keikhlasan, keteladanan, serta profesionalitas sebagai pilar utama dalam mengelola AUM-kesehatan, disertai nilai taat aturan, musyawarah, keadilan, dan saling menghargai.
“Rumah sakit pendidikan di Muhammadiyah adalah milik umat, bukan individu, sehingga harus dijaga dengan penuh tanggung jawab, karena di situlah kemuliaan berada, saya yakin rumah sakit pendidikan kolaborasi antara RS Islam PKU Muhammadiyah dan UMPR bisa terwujud segera,” tegasnya. (mf)
