SURABAYA, Suara Muhammadiyah - Indonesia berada di titik temu lempeng tektonik yang membuatnya rawan gempa, tsunami, hingga banjir. Namun di tengah kerawanan itu, jarang ada ruang bagi suara pelajar untuk turut bicara soal bagaimana generasi muda semestinya berperan dalam kesiapsiagaan bencana. Celah itulah yang coba diisi oleh tiga siswa SMA Muhammadiyah 10 Surabaya (SMAMX) yang tergabung dalam tim riset SMAMX. Mereka adalah Panji Tegar Wikantama, Anas Audah, dan Farah Khalifa As Silmi.
Ketiganya akan mewakili Indonesia dalam 16th International Conference of the Integrated Disaster Risk Management (IDRiM) 2026, yang berlangsung di Bali pada 5-9 September mendatang. Forum ini diisi oleh akademisi dan peneliti senior dari berbagai negara, sehingga kehadiran pelajar SMA yang berbicara langsung soal ketahanan bencana menjadi catatan tersendiri.
Kepedulian itu bermula dari pengamatan sederhana di lingkungan sekolah. Panji, yang menjadi peneliti utama, menyadari bahwa organisasi pelajar seperti IPM, OSIS dan Pramuka sebenarnya memiliki potensi besar dalam mendukung manajemen bencana, tetapi potensi itu jarang dipetakan secara serius. Dari keresahan itu, lahirlah riset berjudul "Assessing Student-Based Youth Organizations Capacity Using McKinsey 7S Framework: Their Contribution to Disaster Resilience and Management".
Menggunakan kerangka McKinsey 7S, riset ini menelaah kesiapan dua jenis organisasi pelajar dalam menghadapi bencana. Temuannya menunjukkan bahwa organisasi kepanduan seperti Pramuka unggul pada fase tanggap darurat, ditopang keterampilan teknis seperti pencarian dan pertolongan (SAR) serta pertolongan pertama. Sementara itu, organisasi pelajar umum seperti OSIS lebih berperan pada fase mitigasi, melalui edukasi, sosialisasi, dan penggalangan dana.
"Riset ini sebenarnya berangkat dari hal yang dekat dengan keseharian siswa, yaitu organisasi yang mereka ikuti sendiri di sekolah. Tapi ternyata dari situ bisa lahir gagasan yang relevan sampai ke level internasional," kata Azmi Izuddin, guru pembina penelitian SMAMX yang membimbing riset ini.
Azmi menambahkan, temuan riset ini merekomendasikan kolaborasi antara organisasi pelajar umum dan organisasi kepanduan sebagai bagian dari manajemen bencana yang terintegrasi, di bawah koordinasi Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB) dan Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) setempat.
Kepala SMAMX, Salim Bahrisy, menyebut keberangkatan tiga siswanya ke Bali sebagai bukti bahwa kepedulian sosial pelajar Indonesia bisa diangkat menjadi riset yang diakui dunia. "Ini bukan sekadar prestasi akademik, tapi juga bukti bahwa anak-anak kami punya kepekaan terhadap persoalan bangsa, dan berani menyuarakannya di forum internasional," ujarnya.
Riset karya Panji, Anas, dan Farah akan dipresentasikan dalam sesi oral presentation bertema Track 05, Urban Community Resilience pada IDRiM 2026, berdampingan dengan makalah dari peneliti Ritsumeikan University (Jepang), Khalifa University (Uni Emirat Arab), dan sejumlah institusi internasional lainnya. Konferensi ini sendiri mengusung tema besar "Resilient Cities in Multi-Hazard Crises: Bridging Innovation, Implementation Science, and Grassroots Action". (Alfianur)

