Tidak Hanya Omon-omon, Harus Dipraktikkan secara Nyata

Suara Muhammadiyah

11 May 2026

341
Muhammad Sayuti, MPd., MEd., PhD. Foto: Abyan

Muhammad Sayuti, MPd., MEd., PhD. Foto: Abyan

BANTUL, Suara Muhammadiyah – Ada sebuah hadis yang menarik: al iimaanu `aqdun bil qalbi wa iqraarun billisaani wa `amalun bil arkaani. Iman adalah tambatan hati, ucapan lisan dan laku perbuatan.

“Jadi iman itu diamalkan dengan seluruh badan kita, seluruh hidup kita,” demikian kata Muhammad Sayuti, Sekretaris Pimpinan Pusat Muhammadiyah mengemukakan.

Yang diperlukan di sini, menurut Sayuti, butuh keyakinan dalam hati, butuh ikrar dalam lisan. Maknanya, iman mesti dipraktikkan dalam maujud nyata.

“Tidak hanya omon-omon. Tidak hanya dilisan, tapi di diamalkan,” tekannya, Ahad (10/5) saat Subuh Ceria di Masjid Khoirul Ummi Tamantirto, Kasihan, Bantul.

Keberlangsungan iman dalam kehidupan umat Islam tercermin dari pengejawantahan amal yang baik. Sebuah sampel dikemukakan Sayuti: kebersihan. “Bersih harus diamalkan,” ucapnya.

Yang hal demikian itu, mutlak melekat dalam jatidiri umat beriman. “Yang mengaku iman harus bersih. Shalat ke masjid dalam baju yang bersih,” ujar Sayuti.

Jelaslah kemudian di situ ada pergulatan sedemikian rupa. Tidak mungkin bersifat bim salabim, tetapi upaya dari setiap personal untuk mencapai kepada titik tersebut.

“Itu ada perjuangannya untuk bersih. Harus diperjuangkan, harus diikhtiarkan, harus diistikamahi,” bebernya.

Demikian pakem ajaran Islam amat fundamental. Yang hal itu, sudah semestinyalah menghunjam ke petala kehidupan umat Islam secara universal.

“Islam mengajarkan Islam niku bersih, lahir batin. Ada perjuangannya, ada ikhtiarnya,” ujarnya.

Lebih substansialnya, mempoles jiwa dengan perangai jujur. Tugas ini sungguh teramat berat, tapi itulah risikonya orang beriman.

“Jujur itu juga perlu diperjuangkan, perlu dilatih, perlu diteladani,” tegas Sayuti.

Bagaimana pun, bersamaan dengan menyeruaknya teknologi yang demikian digdayanya, perangai kejujuran tampak mengalami degradasi yang amat akut.

“Orang beriman itu jujur, tapi bukan hanya di bibir saja, mesti diamalkan,” terangnya. Di sinilah koherensi ajaran keimanan yang mendasari pada tiga variabel vital; pikiran, ucapan, dan tindakan.

“Karena kalau tidak diamalkan, hanya tinggal konsep, tinggal teori,” celetuknya.

Karena itu, kemampuan mengamalkan ajaran menjadi niscaya. Pada saat yang sama, penting diletakkan basis kesadaran kolektif di sini: bergerak dengan nyata, bukan hanya ucapan semata.

“Iman itu dibenarkan dalam hati, diikrarkan dengan lisan, diamalkan dengan perbuatan,” tandas Sayuti. (Cris)


Berita Lainnya

Berita Terkait

Tentang Politik, Pemerintahan, Partai, Dll

Berita

BANDUNG, Suara Muhammadiyah – Ketua Program Studi Akuntansi Universitas Muhammadiyah Bandung I....

Suara Muhammadiyah

18 March 2025

Berita

CILACAP, Suara Muhammadiyah – Sekitar 60 santri Pondok Pesantren AILA (Aila An-Nur Insan Mulia....

Suara Muhammadiyah

6 March 2026

Berita

SEMARANG, Suara Muhammadiyah — Menteri Pendidikan Dasar dan Menengah (Mendikdasmen), Abdul Mu&....

Suara Muhammadiyah

28 July 2025

Berita

JAKARTA, Suara Muhammadiyah - Tim Dosen Farkultas Farmasi dan Sains  (FFS) Universitas Muhammad....

Suara Muhammadiyah

22 June 2026

Berita

LAMPUNG SELATAN, Suara Muhammadiyah – Forum Kepala Sekolah/Madrasah Muhammadiyah dan Aisyiyah ....

Suara Muhammadiyah

19 May 2025

Tentang

© Copyright . Suara Muhammadiyah