BANTUL, Suara Muhammadiyah – Ada sebuah hadis yang menarik: al iimaanu `aqdun bil qalbi wa iqraarun billisaani wa `amalun bil arkaani. Iman adalah tambatan hati, ucapan lisan dan laku perbuatan.
“Jadi iman itu diamalkan dengan seluruh badan kita, seluruh hidup kita,” demikian kata Muhammad Sayuti, Sekretaris Pimpinan Pusat Muhammadiyah mengemukakan.
Yang diperlukan di sini, menurut Sayuti, butuh keyakinan dalam hati, butuh ikrar dalam lisan. Maknanya, iman mesti dipraktikkan dalam maujud nyata.
“Tidak hanya omon-omon. Tidak hanya dilisan, tapi di diamalkan,” tekannya, Ahad (10/5) saat Subuh Ceria di Masjid Khoirul Ummi Tamantirto, Kasihan, Bantul.
Keberlangsungan iman dalam kehidupan umat Islam tercermin dari pengejawantahan amal yang baik. Sebuah sampel dikemukakan Sayuti: kebersihan. “Bersih harus diamalkan,” ucapnya.
Yang hal demikian itu, mutlak melekat dalam jatidiri umat beriman. “Yang mengaku iman harus bersih. Shalat ke masjid dalam baju yang bersih,” ujar Sayuti.
Jelaslah kemudian di situ ada pergulatan sedemikian rupa. Tidak mungkin bersifat bim salabim, tetapi upaya dari setiap personal untuk mencapai kepada titik tersebut.
“Itu ada perjuangannya untuk bersih. Harus diperjuangkan, harus diikhtiarkan, harus diistikamahi,” bebernya.
Demikian pakem ajaran Islam amat fundamental. Yang hal itu, sudah semestinyalah menghunjam ke petala kehidupan umat Islam secara universal.
“Islam mengajarkan Islam niku bersih, lahir batin. Ada perjuangannya, ada ikhtiarnya,” ujarnya.
Lebih substansialnya, mempoles jiwa dengan perangai jujur. Tugas ini sungguh teramat berat, tapi itulah risikonya orang beriman.
“Jujur itu juga perlu diperjuangkan, perlu dilatih, perlu diteladani,” tegas Sayuti.
Bagaimana pun, bersamaan dengan menyeruaknya teknologi yang demikian digdayanya, perangai kejujuran tampak mengalami degradasi yang amat akut.
“Orang beriman itu jujur, tapi bukan hanya di bibir saja, mesti diamalkan,” terangnya. Di sinilah koherensi ajaran keimanan yang mendasari pada tiga variabel vital; pikiran, ucapan, dan tindakan.
“Karena kalau tidak diamalkan, hanya tinggal konsep, tinggal teori,” celetuknya.
Karena itu, kemampuan mengamalkan ajaran menjadi niscaya. Pada saat yang sama, penting diletakkan basis kesadaran kolektif di sini: bergerak dengan nyata, bukan hanya ucapan semata.
“Iman itu dibenarkan dalam hati, diikrarkan dengan lisan, diamalkan dengan perbuatan,” tandas Sayuti. (Cris)

