SURAKARTA, Suara Muhammadiyah — Tempa Penitipan Anak (TPA) ‘Aisyiyah memiliki peran strategis dalam menjawab kebutuhan masyarakat modern sekaligus menjadi bagian dari gerakan dakwah dan pemberdayaan umat. Hal tersebut disampaikan Sekretaris Pimpinan Pusat ‘Aisyiyah, Dr. Diyah Puspitarini, M.Pd., saat menjadi narasumber dalam Rapat Koordinasi PAUD Dasmen dan IGABA se-Jawa Tengah yang berlangsung di Auditorium Djasman Al-Kindi Universitas Muhammadiyah Surakarta (UMS), Sabtu (30/5/2026).
Pada kegiatan yang mengusung semangat penguatan kinerja dan sinergi organisasi tersebut, Diyah menyampaikan materi bertajuk “Konsep TPA ‘Aisyiyah di Indonesia”. Dalam paparannya, ia mengajak seluruh peserta untuk memandang layanan pendidikan dan pengasuhan anak bukan sekadar aktivitas sosial, melainkan bagian penting dari gerakan dakwah yang harus terus berkembang sesuai kebutuhan masyarakat dan tantangan zaman.
Menurut Diyah, keberadaan TPA ‘Aisyiyah tidak boleh dipahami hanya sebagai tempat penitipan anak ketika orang tua bekerja. Lebih dari itu, TPA harus menjadi pusat tumbuh kembang anak yang mengintegrasikan pendidikan, pengasuhan, perlindungan, kesehatan, serta penanaman nilai-nilai keislaman dan karakter sejak usia dini.
“Anak-anak yang hari ini kita dampingi adalah generasi yang akan menentukan masa depan bangsa. Karena itu, mereka harus mendapatkan layanan yang berkualitas, aman, ramah anak, dan sesuai dengan tahapan perkembangannya,” tegasnya di hadapan peserta rakor.
Diyah menjelaskan, perubahan sosial dan ekonomi yang terjadi saat ini telah menghadirkan kebutuhan baru dalam masyarakat. Banyak keluarga muda membutuhkan lembaga yang mampu memberikan layanan pengasuhan secara profesional dan terpercaya ketika orang tua menjalankan aktivitas pekerjaan maupun sosial. Dalam konteks itulah, TPA ‘Aisyiyah memiliki peluang besar untuk hadir sebagai solusi yang tidak hanya berorientasi pada pengawasan anak, tetapi juga mendukung proses pendidikan dan pembentukan karakter mereka.
Tokoh nasional yang aktif mewakili ‘Aisyiyah dalam berbagai forum strategis, termasuk penguatan perlindungan dan pemenuhan hak anak bersama Komisi Perlindungan Anak Indonesia (KPAI), itu juga menekankan pentingnya menciptakan lingkungan pendidikan yang benar-benar ramah anak.
Menurutnya, seluruh lembaga PAUD, TK ABA, maupun TPA ‘Aisyiyah harus menjadi ruang yang aman bagi anak-anak, bebas dari segala bentuk kekerasan, diskriminasi, maupun perundungan. Prinsip perlindungan anak harus menjadi bagian yang tidak terpisahkan dari tata kelola lembaga pendidikan.
Selain itu, Diyah mengajak para pengelola lembaga untuk terus meningkatkan kualitas tata kelola organisasi, memperkuat kompetensi pendidik dan pengasuh, serta membangun kolaborasi dengan berbagai pihak. Upaya tersebut dinilai penting agar layanan pendidikan anak usia dini mampu menjawab tantangan masa depan sekaligus memenuhi harapan masyarakat yang semakin tinggi terhadap mutu pendidikan.
Pada kesempatan tersebut, Diyah juga menyoroti besarnya potensi yang dimiliki ‘Aisyiyah melalui jaringan organisasi yang tersebar dari tingkat pusat hingga ranting. Menurutnya, kekuatan jejaring inilah yang menjadi modal besar untuk menghadirkan layanan pendidikan dan pengasuhan anak yang unggul dan berkemajuan.
Ia meyakini bahwa apabila seluruh potensi tersebut dapat disinergikan dengan baik, maka TPA, PAUD, dan TK ABA akan mampu menjadi model layanan pendidikan anak usia dini yang berkualitas serta menjadi rujukan di tingkat nasional.
Melalui Rakor PAUD Dasmen dan IGABA se-Jawa Tengah ini, semangat penguatan layanan pendidikan anak usia dini kembali diteguhkan. Tidak hanya untuk menjawab kebutuhan masyarakat hari ini, tetapi juga untuk menyiapkan generasi masa depan yang sehat, cerdas, berkarakter, dan berakhlak mulia. (Dzaky)

