JAKARTA, Suara Muhammadiyah – Area Aquatic Gelora Bung Karno (GBK) mendadak berubah menjadi lautan energi pada Minggu malam, 26 April 2026. Bukan untuk kejuaraan renang, melainkan untuk merayakan edisi ketiga Limau Fest, sebuah agenda tahunan ikonik persembahan SMA Muhammadiyah 3 Jakarta.
Sejak pukul 19.00 WIB, kurang lebih 1.500 pasang mata mulai dari siswa, orang tua murid, hingga penonton umum berkumpul menciptakan suasana yang hangat namun membara. Mengusung konsep trilogi emosi, Limau Fest Vol. 3 sukses membawa penonton melewati "roller coaster" perasaan selama 3,5 jam penuh.
Fase Pertama: "Lantas" Terhanyut Bersama Juicy Luicy
Malam dibuka dengan suasana syahdu saat Juicy Luicy naik ke atas panggung. Selama satu jam pertama, Aquatic GBK dipenuhi dengan koor massal lagu-lagu hits yang menusuk hati. Cahaya lampu dari ponsel menyala, mengiringi petikan gitar yang membawa penonton masuk ke fase galau nasional. Lagu-lagu seperti Lantas dan Tampar sukses membuat suasana menjadi melankolis sekaligus intim, sebuah awal yang manis untuk mencurahkan perasaan.
Fase Kedua: Lepas Penat, Ambyar Bareng Feel Koplo
Belum sempat menghapus sisa-sisa kegalauan, suasana langsung berputar 180 derajat saatFeel Koplo mengambil alih kendali panggung. Tanpa basa-basi, musik remix khas mereka mengubah suasana melankolis menjadi pesta rakyat. Tidak ada lagi jarak antara guru, siswa, maupun orang tua; semuanya larut dalam joget bersama. Selama satu jam, penonton diajak merayakan kesedihan dengan cara yang paling menyenangkan: berjoget di bawah langit Senayan.
Fase Ketiga: Ledakan Energi The Changcuters
Sebagai puncaknya, grup band legendaris The Changcuters hadir menutup malam dengan ledakan energi rock n roll. Tria dan kawan-kawan membuktikan bahwa meski sudah masuk ke penghujung acara pukul 21.30, energi penonton justru semakin memuncak. Dengan aksi panggung yang eksentrik dan lagu-lagu bertempo tinggi, penonton diajak melompat bersama hingga acara berakhir pada pukul 22.30 WIB.
Sinergi Di Balik Layar
Kesuksesan Limau Fest Vol. 3 ini bukan tanpa alasan. Di balik kemegahan panggung, terdapat kerja keras kolaboratif antara guru, siswa, hingga koordinasi kelas (korlas). Sinergi lintas generasi ini menjadi bukti bahwa kegiatan sekolah bisa dikemas secara profesional setara festival musik nasional.
"Ini adalah kerja super team, super team dari guru-guru, super team dari siswa-siswa, dan super team dari orang tua orang tua ," ujar Muhammad Ilham, ketua pelaksana kegiatan dalam sambutannya.
Malam itu, Limau Fest Vol. 3 tidak hanya meninggalkan suara yang serak karena bernyanyi, tapi juga kenangan indah tentang bagaimana sebuah sekolah mampu menyatukan ribuan orang dalam satu harmoni dari galau, ambyar, hingga kembali bersemangat. (Sindi)

