TANGSEL, Suara Muhammadiyah - SMA Muhammadiyah 25 Setiabudi Pamulang tampak lebih ramai dari biasanya, Sabtu (24/01/2026). Ratusan siswa SMP dan MTs dari berbagai penjuru Jakarta, Bogor, Depok, dan Tangerang berdatangan dengan wajah penuh harapan. Mereka bukan sekadar mengikuti ujian, tetapi menapaki pilihan masa depan pendidikan mereka. Sementara, di ruang yang lain, para orang tua mendapat ruang khusus untuk memahami tantangan untuk mendampingi generasi Z di era serba digital.
Sebanyak 349 siswa dari 22 sekolah SMP/MTs mengikuti Mega Try Out Tes Kemampuan Akademik (TKA) yang digelar SMA Muhammadiyah 25 Setiabudi Pamulang—yang akrab dikenal dengan SMAM DUMA. Kegiatan ini dirancang sebagai ruang pemetaan kemampuan akademik sekaligus sarana pengenalan dunia SMA bagi para peserta didik.
Di ruang-ruang kelas, para siswa mengerjakan soal dengan serius. TKA ini menjadi pengalaman awal bagi mereka untuk mengenali standar asesmen akademik yang kelak akan dihadapi pada jenjang pendidikan selanjutnya. Bagi SMAM DUMA, kegiatan ini bukan semata soal angka dan nilai, melainkan bagian dari ikhtiar pendidikan jangka panjang.
Kepala SMAM DUMA, Dr. Hartono, M.A., menjelaskan bahwa Try Out TKA ini merupakan bentuk kesiapan sekolah dalam mendampingi peserta didik sebelum masuk ke tingkat sekolah yang lebih tinggi.
“Try Out TKA tingkat SMP/MTs ini kami laksanakan sebagai ikhtiar untuk membekali para siswa agar lebih siap menghadapi TKA di tahun berikutnya. Ini juga menjadi ajang mengukur kebolehan akademik antarpelajar,” ujarnya.
Lebih dari itu, kegiatan ini juga menjadi ruang silaturahmi dan pengenalan sekolah kepada masyarakat luas. “Kami ingin SMAM DUMA dikenal memiliki komitmen yang kuat terhadap mutu pendidikan,” tambah Hartono.
Menariknya, di saat para siswa bergelut dengan soal-soal ujian, para orang tua tidak dibiarkan menunggu tanpa makna. Di ruang terpisah, seminar parenting digelar secara paralel. Mengusung tema “Cerdas Mendampingi Gen Z di Zaman Super Digital”, seminar ini menghadirkan I Wayan Widnyana, S.Si., narasumber yang berpengalaman di bidang penelitian dan pengembangan.
Dalam seminar itu, I Wayan menyampaikan bahwa, “Di era super digital, tantangan pengasuhan bukan lagi soal anak bisa atau tidak menggunakan teknologi, melainkan bagaimana orang tua tetap menjadi rujukan nilai dan emosi di tengah derasnya arus informasi.”
Di acara seminar itu, para orang tua diajak merefleksikan kembali peran mereka di tengah derasnya arus digital. Hartono menegaskan bahwa kegiatan parenting ini bukan sekadar pelengkap acara.
“Tujuan dari adanya kegiatan parenting ini untuk membekali para ayah-bunda tentang arti pentingnya menjadikan anak sebagai sahabat yang perlu didampingi. Di era super digital, peran orang tua tidak boleh digantikan oleh gadget dengan segala kemudahannya. Orang tua perlu menghadirkan quality time dan komunikasi empatik bagi ananda,” tuturnya.
Sejumlah orang tua dan pendamping mengaku mendapatkan perspektif baru dari seminar tersebut. Materi yang disampaikan dinilai relevan dengan realitas pengasuhan remaja saat ini—ketika tantangan tidak hanya datang dari lingkungan, tetapi juga dari layar di genggaman.
Salah satu pendamping peserta TKA, yang juga guru bahasa Indonesia dari SMP Djojorejo, Nadhila Zahra, mengaku bahwa “kegiatan parenting untuk orang tua ini begitu penting karena memberikan pengalaman dinamis dan serba cepat dan menantang. Karakteristik yang tumbuh bersama teknologi membuat interaksi sehari-hari dipenuhi inovasi namun membutuhkan pendekatan khusus dalam hal emosional dan sosial”.
Ia juga menambahkan, “semoga kegiatan ini ke depannya dapat diadakan kembali, karena acaranya sangat menarik”.
Kegiatan TKA dan seminar parenting ini mencerminkan pergeseran paradigma pendidikan. Sekolah tidak lagi berdiri sebagai aktor tunggal, melainkan berjalan beriringan dengan keluarga. Kolaborasi sekolah dan orang tua menjadi kebutuhan mendesak dalam membentuk prestasi akademik sekaligus karakter peserta didik.
Bagi SMAM DUMA, kegiatan ini bukan sekadar agenda tahunan penerimaan siswa baru. Lebih dari itu, ia diharapkan menjadi praktik berkelanjutan dalam membangun ekosistem pendidikan yang kolaboratif dan berorientasi pada masa depan.

