Ulama Aisyiyah Siap Respons Masalah Keumatan dan Kebangsaan

Suara Muhammadiyah

18 May 2026

413

YOGYAKARTA, Suara Muhammadiyah - Konferensi dan Silaturahmi Nasional Ulama Aisyiyah yang berlangsung pada Senin, 18 Mei 2026 menjadi ruang penegasan bahwa yang disebut ulama bukan hanya laki-laki. Dalam sejarah Islam, telah banyak ulama perempuan lahir, salah satunya yang terkenal adalah istri Nabi yang bernama Aisyah. Ia berhasil meriwayatkan 2210 hadits di sepanjang hidupnya. Di era Kiai Dahlan juga demikian, muncul sosok ulama perempuan disegani yang tak lain adalah istrinya sendiri, Nyai Walidah. 

Mengusung tema “Konstruksi Pemikiran Ulama Aisyiyah: Respons terhadap Isu Keumatan dan Kebangsaan, Salmah Orbayinah, Ketua Umum Pimpinan Pusat Aisyiyah mengatakan bahwa tema tersebut sangat relevan dengan situasi dan tantangan yang terjadi saat ini. Dimana peran dari Ulama Aisyiyah diharapkan dapat memberikan warna baru dalam berbagai persoalan kontemporer yang dihadapi umat. 

“Ulama perempuan Aisyiyah harus menjadi aktor gerakan,” tegasnya. 

Menurutnya, ada tiga kriteria seseorang dapat disebut sebagai ulama. Pertama, menguasai ilmu fikih. Sebagai landasan hukum dalam menetapkan sebuah ijtihad. Kedua, memiliki kompetensi yang mumpuni dalam ilmu tafsir. Dan ketiga, menguasai bahasa Arab. 

“Melalui forum ini kita berharap bisa melahirkan ulama perempuan yang melampaui kebesaran Nyai Walidah,” ujar Salmah kepada Suara Muhammadiyah (18/5). 

Selain itu ia berharap bahwa forum ini mampu menguatkan fungsi dari keluarga sakinah, mengingat tantangan yang dihadapi setiap keluarga di era sekarang semakin menantang. Banyak isu tentang keluarga yang relevan untuk dibahas, mulai dari dinamika pembagian waris hingga fenomena suami-istri yang melakukan LDM (Long Distance Marriage). 

“Sebagai silaturahmi intelektual, mudah-mudahan konferensi ini bisa memberikan solusi kontekstual, serta memperkuat langkah-langkah konkrit untuk keumatan dan kebangsaan,” ujarnya di Ballroom Hotel SM Tower Malioboro. 

Siti Aisyah, Ketua Pimpinan Pusat Aisyiyah yang membidangi ketarjihan menegaskan siapa yang disebut ulama Aisyiyah. Yaitu mereka yang memiliki kesalehan baik personal maupun sosial. Kemudian, mereka yang siap bergerak dan berkontribusi dengan ilmunya. Memiliki pemahaman yang mendalam terkait isu-isu keumatan kontemporer dari sudut pandang ilmu fikih dan tafsir. Dan yang terakhir, ulama perempuan Aisyiyah harus berpandangan wasathiyah, yaitu prinsip hidup yang mengajarkan sikap adil, seimbang, dan mengambil jalan tengah. 

Konsep ini menjauhi segala bentuk sikap ekstrem, baik yang berlebih-lebihan (ifrath) maupun yang mengurangi ajaran agama (tafrith), sehingga menciptakan harmoni dan toleransi di tengah keberagaman. 

Siti Aisyah, dalam sesi sambutannya memaparkan beberapa agenda strategis Aisyiyah ke depan. Mulai dari penulisan tafsir tematik tentang perempuan, penyusunan fikih perempuan berkemajuan, dan pembuatan profil serta roadmap ulama perempuan Aisyiyah. 

“Dengan lahirnya ulama Aisyiyah, melalui pikirannya kita berharap bisa memberikan solusi terhadap berbagai persoalan umat dan bangsa,” tutupnya. (diko)


Berita Lainnya

Berita Terkait

Tentang Politik, Pemerintahan, Partai, Dll

Berita

JAKARTA, Suara Muhammadiyah - Baru-baru ini pendeta Gilbert sudah menyinggung perasaan dan melukai k....

Suara Muhammadiyah

19 April 2024

Berita

PALANGKARAYA, Suara Muhammadiyah - SDIT Muhammadiyah Palangka Raya menggelar acara pelepasan si....

Suara Muhammadiyah

10 June 2026

Berita

KOBAR, Suara Muhammadiyah - Ikhtiar untuk kemajuan dan kemakmuran rakyat, pelaksanaan Milad ke-112 M....

Suara Muhammadiyah

9 December 2024

Berita

YOGYAKARTA, Suara Muhammadiyah – Ketua Majelis Tarjih dan Pengembangan Pemikiran Islam Pimpina....

Suara Muhammadiyah

22 February 2026

Berita

BANDUNG, Suara Muhammadiyah — Program Studi Kriya Tekstil dan Fashion Universitas Muhammadiyah....

Suara Muhammadiyah

25 June 2024

Tentang

© Copyright . Suara Muhammadiyah