UMY Berdayakan Petani Sayuran Organik di Thailand Selatan

Publish

13 March 2026

Suara Muhammadiyah

Penulis

0
86
Dok Istimewa

Dok Istimewa

YALA, Suara Muhammadiyah - Ketika sebagian besar program akademik masih berkutat di dalam kelas, sekelompok dosen Fakultas Ekonomi dan Bisnis Universitas Muhammadiyah Yogyakarta (UMY) memilih turun langsung ke ladang—bukan di Indonesia, melainkan di Provinsi Yala, ujung selatan Thailand yang berbatasan langsung dengan Malaysia. Selama empat hari penuh, 6–9 Maret 2026, mereka mendampingi petani setempat untuk melakukan sesuatu yang jarang dilakukan oleh akademisi: mengubah cara petani bercerita tentang produk mereka kepada dunia.

Program bertema “Increasing Market Innovation to Develop Sustainable Business in Southern Thailand” ini bukan sekadar kunjungan seremonial. Ia adalah intervensi nyata: membawa pengetahuan pemasaran, strategi branding, dan dukungan peralatan langsung ke tangan Organic Vegetable Bouquet Farmers Group—kelompok petani yang selama ini berjuang memasarkan sayuran organik mereka dalam kemasan bouquet bernilai estetika tinggi, namun belum memiliki kapasitas promosi yang memadai untuk menjangkau pasar lebih luas.

Yala dan Tantangan Petani Organik di Selatan Thailand

Provinsi Yala dikenal sebagai salah satu wilayah paling subur di Thailand Selatan, dengan iklim tropis yang mendukung budidaya berbagai jenis sayuran. Namun, letak geografisnya yang jauh dari pusat ekonomi Bangkok, ditambah keterbatasan infrastruktur pemasaran, menjadikan para petani di sini kesulitan bersaing di pasar modern.

Di tengah tren global yang semakin memihak produk organik—konsumen urban di Thailand, Malaysia, hingga Singapura kian bersedia membayar lebih untuk produk pertanian yang sehat dan berkelanjutan—kelompok petani seperti Organic Vegetable Bouquet Farmers Group sebenarnya menyimpan potensi besar. Sayuran organik yang mereka tanam dikemas dalam bentuk bouquet, sebuah presentasi inovatif yang memadukan nilai nutrisi dengan estetika visual, layaknya rangkaian bunga namun isinya adalah sayuran segar pilihan.

Persoalannya bukan pada kualitas produk, melainkan pada kemampuan mempresentasikan nilai tersebut kepada calon pembeli. Di sinilah peran tim pengabdian UMY menjadi krusial.

Program pengabdian ini diketuai oleh Susilo Nur Aji Cokro Darsono, Ph.D., ekonom dari Prodi Ekonomi UMY yang selama beberapa tahun terakhir aktif membangun jejaring riset dan pengabdian di Asia Tenggara. Ia didampingi dua kolega dari kampus yang sama: Hafiez Sofyani, Ph.D., pakar akuntansi dari Prodi Akuntansi UMY yang dikenal atas penelitiannya tentang keberlanjutan bisnis, serta Prof. Imamudin Yuliadi, M.Si., ekonom senior dari Prodi Magister Ekonomi dengan pengalaman panjang dalam kajian pembangunan ekonomi regional.

Yang membuat program ini berbeda dari pengabdian masyarakat konvensional adalah komposisi timnya yang benar-benar lintas batas. Dua akademisi dari luar UMY turut dilibatkan: Ferry Fadzlul Rahman, Ph.D., dari Fakultas Kesehatan Masyarakat, Universitas Muhammadiyah Kalimantan Timur dan Nguyen Tranh Thai Ha, Ph.D., dari Khon Kaen Business School yang membawa perspektif serta pengalaman riset dari konteks yang lebih beragam. Kolaborasi ini menjadikan pendekatan yang digunakan jauh lebih kaya secara metodologi dan relevansi lokal.

Jembatan antara tim dan komunitas petani dijembatani oleh Maisaroh Samaee dari Yala Rajabhat University, perguruan tinggi negeri setempat yang memiliki pemahaman mendalam tentang dinamika sosial-ekonomi masyarakat di wilayah tersebut. Kehadirannya bukan sekadar formalitas; ia adalah kunci yang membuka akses kepercayaan komunitas petani terhadap tim dari luar.

“Tanpa mitra lokal yang benar-benar memahami komunitas, program seperti ini mudah tergelincir menjadi proyek satu arah. Maisaroh adalah jangkar kami di sini," kata Susilo Nur Aji Cokro Darsono, Ph.D., Ketua Tim Pengabdian UMY.

Inti dari program ini adalah kegiatan bertajuk “Innovation to Enhance the Promotional Capacity of the Organic Vegetable Bouquet Farmers Group.” Tim pengabdian terlebih dahulu melakukan asesmen kebutuhan—mengidentifikasi titik-titik lemah dalam rantai pemasaran kelompok petani, dari cara memotret produk hingga bagaimana mereka berkomunikasi dengan calon pembeli di pasar. Dari hasil asesmen itulah kemudian ditentukan jenis peralatan yang paling dibutuhkan untuk memperkuat kapasitas promosi mereka.

Peralatan yang diserahkan dirancang untuk menjawab tiga kebutuhan utama: pertama, meningkatkan kualitas visual produk melalui perlengkapan fotografi sederhana namun efektif; kedua, memperkuat presentasi produk di titik penjualan dengan media display yang menarik; ketiga, memberikan sarana produksi konten digital yang memungkinkan kelompok tani memanfaatkan media sosial sebagai kanal pemasaran.

Di luar dukungan fisik, sesi pendampingan intensif digelar setiap hari selama program berlangsung. Topik yang dibahas mencakup strategi penetapan harga produk organik premium, teknik bercerita (storytelling) untuk branding produk pertanian, pengembangan kemasan yang fungsional sekaligus estetis, hingga perencanaan sederhana untuk ekspansi pasar ke kota-kota besar di Thailand Selatan dan potensi ekspor ke Malaysia.

“Kami tidak hanya belajar cara memotret sayuran dengan lebih bagus. Kami belajar bagaimana membuat orang yang belum pernah datang ke ladang kami bisa merasakan nilainya," tutur Perwakilan Organic Vegetable Bouquet Farmers Group.

Salah satu aspek yang jarang disorot dalam program pengabdian internasional adalah pelibatan mahasiswa dan staf non-dosen secara aktif—bukan sekadar sebagai pengamat atau pencatat dokumen, tetapi sebagai kontributor nyata.

Dalam program ini, Intan Mutiara, S.E., tenaga kependidikan Prodi Ekonomi UMY, turut terlibat langsung dalam koordinasi logistik dan pendampingan lapangan. Sementara Pazri Nugraha, SE mahasiswa Magister Ekonomi UMY dan Adly Putra, SE mahasiswa Magister Akuntansi UMY yang ikut serta, mendapatkan pengalaman yang tidak akan pernah diperolehnya dari bangku kuliah: melihat bagaimana teori ekonomi dan pemasaran bekerja—atau terkadang perlu disesuaikan—dalam konteks nyata di lapangan.

Bagi UMY, pelibatan ini bukan sekadar bonus tambahan. Ia adalah bagian dari filosofi bahwa pengabdian masyarakat yang bermakna harus mampu menjadi ruang belajar bagi semua pihak yang terlibat, bukan hanya bagi komunitas yang menjadi sasaran program.

Tim pengabdian menargetkan setidaknya tiga dampak terukur dari program ini: peningkatan omzet penjualan kelompok tani dalam enam bulan ke depan, perluasan jaringan distribusi ke minimal dua kota baru di Thailand Selatan, serta kemampuan mandiri kelompok tani dalam memproduksi konten promosi digital tanpa bergantung pada pihak luar.

Namun, dampak jangka panjang yang lebih penting mungkin bersifat struktural: membantu petani mengubah posisi tawar mereka. Dari penjual komoditas yang harga dan nasibnya ditentukan oleh tengkulak, menjadi produsen merek yang memiliki kendali lebih besar atas nilai produknya.

Relevansi program ini bagi Indonesia tidak bisa diabaikan. Di banyak daerah di Indonesia—dari lereng Dieng hingga dataran tinggi Toraja—ribuan petani sayuran organik menghadapi persoalan yang identik: produk berkualitas, tetapi gagap pasar. Model pengabdian yang dikembangkan UMY di Yala bisa menjadi cetak biru yang diadaptasi untuk konteks domestik.

“Apa yang kami pelajari dari Yala justru membuat kami semakin ingin mengaplikasikan pendekatan serupa di komunitas petani organik di Indonesia. Tantangannya tidak jauh berbeda," ungkap Hafiez Sofyani, Ph.D., Anggota Tim Pengabdian UMY.

Program di Yala bukan yang pertama bagi UMY dalam peta pengabdian internasional, dan boleh jadi bukan yang terakhir. Universitas berbasis nilai Islam ini dalam beberapa tahun terakhir secara konsisten mendorong dosen-dosennya untuk tidak hanya mempublikasikan riset di jurnal internasional, tetapi juga membawa manfaat nyata ke komunitas di luar kampus—termasuk komunitas yang berada jauh melampaui batas negara.

Bagi Susilo dan tim, program ini adalah bukti bahwa tridarma perguruan tinggi—pendidikan, penelitian, dan pengabdian—tidak harus dijalankan secara terpisah. Program di Yala memadukan ketiganya sekaligus: ada transfer pengetahuan akademik, ada pengumpulan data lapangan yang bisa menjadi bahan riset lanjutan, dan ada dampak nyata bagi komunitas.


Komentar

Berita Lainnya

Berita Terkait

Tentang Politik, Pemerintahan, Partai, Dll

Berita

PEKANBARU, Suara Muhammadiyah - Fakultas Kedokteran Universitas Muhammadiyah Riau (FK Umri) menggela....

Suara Muhammadiyah

27 May 2025

Berita

YOGYAKARTA, Suara Muhammadiyah – Tidak bisa dinafikan, saat ini dunia media benar-benar mengha....

Suara Muhammadiyah

20 January 2026

Berita

SMP Mutu Plus Sekolah Go Internasional, Karnaval Mobil Hias Miniatur Pesawat Terbang  CILACAP,....

Suara Muhammadiyah

25 August 2025

Berita

YOGYAKARTA, Suara Muhammadiyah - Pimpinan Pusat Muhammadiyah dan PT PLN (Persero) secara resmi menan....

Suara Muhammadiyah

6 January 2024

Berita

BOGOR, Suara Muhammadiyah - Ramadhan telah memasuki hari ke-11. Namun, apa yang telah kita kerjakan ....

Suara Muhammadiyah

1 March 2026

Tentang

© Copyright . Suara Muhammadiyah