TORONTO, Suara Muhammadiyah — Universitas Muhammadiyah Yogyakarta (UMY), bekerja sama dengan University of Toronto (UoT), Kanada, melaksanakan kegiatan penelitian disertasi yang terintegrasi dengan pengabdian masyarakat internasional guna memperkuat kolaborasi global dalam isu adaptasi dan tata kelola perubahan iklim.
Inisiatif ini berfokus pada pertukaran pengetahuan antara Global South dan Global North, khususnya dengan memperkenalkan praktik adaptasi perubahan iklim berbasis komunitas di Indonesia kepada peneliti dan mahasiswa pascasarjana di Environmental Science in Society Lab (ESSL), University of Toronto.
Kolaborasi ini berangkat dari riset lapangan yang dilakukan di Tanjung Leban, Bengkalis, Provinsi Riau oleh Rijal Ramdani, Ph.D dari UMY bersama Dr. Nicole Klenk dari UoT. Penelitian tersebut mengkaji bagaimana masyarakat pedesaan di Indonesia beradaptasi terhadap dampak perubahan iklim, khususnya kebakaran lahan gambut akibat dari kemarau panjang.
Dalam periode 23 April hingga 31 Mei 2026, Rijal Ramdani akan melaksanakan kegiatan knowledge sharing di ESSL, University of Toronto. Kegiatan ini mencakup pemaparan studi kasus dari Indonesia kepada peneliti dan mahasiswa pascasarjana, berbagi dataset berbasis Geographic Information System (GIS), serta diskusi kolaboratif yang diarahkan pada penyusunan policy brief.
Program ini merupakan bagian dari pengabdian masyarakat UMY yang bertujuan menerjemahkan temuan ilmiah menjadi rekomendasi yang aplikatif, khususnya bagi pembuat kebijakan dan komunitas akademik.
Ketua tim pengabdi UMY, Rijal Ramdani, menyatakan bahwa kolaborasi ini menjawab kesenjangan penting dalam diskursus global mengenai perubahan iklim.
“Banyak peneliti di Global North masih memiliki keterbatasan dalam memahami bagaimana praktik adaptasi iklim dijalankan di konteks pedesaan seperti di Indonesia,” ujar Ramdani. “Melalui program ini, kami tidak hanya berbagi data, tetapi juga pengalaman hidup dan strategi masyarakat lokal yang sering kali terabaikan dalam diskusi global.”
Ia menambahkan bahwa inisiatif ini juga mendorong knowledge co-production, yaitu penggabungan perspektif lintas wilayah untuk menghasilkan pendekatan yang lebih inklusif dalam tata kelola adaptasi perubahan iklim.
“Kolaborasi ini memungkinkan kami menghubungkan realitas empiris dari Indonesia dengan perspektif akademik internasional. Tujuannya adalah menghasilkan solusi iklim yang tidak hanya kuat secara ilmiah, tetapi juga relevan secara sosial dan kontekstual,” katanya.
Dengan dukungan analisis spasial berbasis GIS, penelitian ini memetakan pola penggunaan lahan, distribusi gambut, serta risiko lingkungan di wilayah studi. Dalam kerja sama ini, University of Toronto berperan sebagai mitra fasilitator dengan menyediakan dukungan institusional serta akses ke jejaring riset internasional. Sementara itu, UMY berkontribusi melalui data empiris, wawasan kontekstual, serta pengetahuan berbasis riset lapangan di Indonesia.
Selain menghasilkan luaran akademik, program ini diharapkan menjadi fondasi bagi kerja sama jangka panjang antara Indonesia dan Kanada, termasuk penelitian bersama, pertukaran akademik, serta pengembangan program pengabdian internasional di masa mendatang.
Kolaborasi ini sekaligus menegaskan komitmen UMY sebagai perguruan tinggi yang aktif di tingkat global dalam mendukung upaya penanganan perubahan iklim dan pembangunan berkelanjutan melalui kemitraan internasional.
