UMY Hadirkan Kesaksian Langsung Jurnalis Gaza dalam Talkshow dan Pameran Foto Palestina

Suara Muhammadiyah

29 June 2026

45
Foto Dok SM

Foto Dok SM

YOGYAKARTA, Suara Muhammadiyah - Universitas Muhammadiyah Yogyakarta (UMY) kembali menegaskan komitmennya dalam mendukung perjuangan kemanusiaan bagi Palestina melalui penyelenggaraan Talkshow and Photo Exhibition bertajuk “Palestine Through the Lens”, Senin (29/06/2026), di Amphiteater Gedung Pascasarjana UMY. Di hadapan para mahasiswa, kegiatan ini menghadirkan akademisi, jurnalis internasional, fotografer perang, hingga aktivis kemanusiaan sebagai ruang refleksi sekaligus pengingat bahwa perjuangan rakyat Palestina belum berakhir.

Kegiatan ini adalah hasil kolaborasi Program Doktor dan Magister Hubungan Internasional, Program Studi Ilmu Komunikasi, dan Komunitas Fotka (Fotografi Komunikasi). Dalam sambutannya, Wakil Dekan II Bidang Sumber Daya dan AIK Fakultas Ilmu Sosial dan Politik (Fisipol) UMY, Dr. Sugeng Riyanto, S.IP., M.Si., mengatakan bahwa konflik Palestina-Israel yang telah berlangsung hampir delapan dekade merupakan tragedi kemanusiaan yang tidak boleh dilupakan oleh masyarakat dunia.

“Semua bentuk kejahatan kemanusiaan seolah telah terjadi di Palestina, mulai dari penyiksaan, penculikan, pembunuhan hingga genosida. Karena itu perjuangan membela Palestina harus terus disuarakan,” ujarnya.

Menurut Sugeng, lahirnya Muhammadiyah Palestine Study Center di UMY menjadi bentuk nyata komitmen Muhammadiyah dalam mendukung kemerdekaan Palestina melalui jalur pendidikan, diplomasi, dan kemanusiaan.

“Indonesia selama ini memiliki posisi yang kuat dalam mendukung Palestina. Namun perjuangan ini tidak boleh bergantung pada situasi politik semata. Kesadaran masyarakat harus terus dipelihara melalui berbagai ruang edukasi seperti ini,” tambahnya.

Dalam kegiatan talkshow tersebut, fotografer Palestina Mohammed Asad mengungkapkan beratnya perjuangan jurnalis di Gaza yang tetap mendokumentasikan konflik meski menghadapi hancurnya kantor media, pemutusan internet, hingga ancaman keselamatan, demi menjaga agar suara Palestina tidak dilupakan. Tantangan ini diperparah oleh bias teknologi kecerdasan buatan (AI) yang disoroti oleh jurnalis Australia Zoe Reynold, di mana sistem AI kedapatan menolak menghasilkan visual terkait tragedi kemanusiaan di sana. 

Di sisi lain, aktivis kemanusiaan Chiki Fawzi menegaskan bahwa meskipun misi kemanusiaan laut yang diikutinya gagal mencapai Gaza akibat intersepsi militer Israel, semangat solidaritas masyarakat sipil global tetap krusial dalam menjaga perhatian dunia.

Sementara itu, dosen Hubungan Internasional UMY Dr. Ahmad Sahide, S.IP., M.A., menilai bahwa tekanan masyarakat sipil internasional semakin penting dalam memengaruhi kebijakan negara-negara besar terhadap konflik Palestina. Ia juga mengajak masyarakat Indonesia untuk terus mempertahankan dukungan moral maupun kemanusiaan terhadap Palestina melalui berbagai bentuk aksi damai, edukasi, serta diplomasi publik.

Kesaksian Langsung Jurnalis dari Gaza

Deretan foto yang memenuhi ruang pamer lantai dasar Gedung Pascasarjana Universitas Muhammadiyah Yogyakarta (UMY) bukan sekadar karya fotografi. Setiap bingkai menjadi saksi bisu atas penderitaan warga Gaza yang selama bertahun-tahun hidup di tengah perang dan krisis kemanusiaan.

Ketua Program Studi Ilmu Komunikasi UMY, Dr. Filosa Gita Sukmono, S.I.Kom., M.A., menjelaskan bahwa kegiatan tersebut tidak sekadar menghadirkan diskusi, tetapi juga menjadi media untuk membangun sensitivitas publik terhadap tragedi kemanusiaan yang masih berlangsung.

“Kami ingin masyarakat melihat Palestina dari sudut pandang yang lebih manusiawi. Jangan sampai isu ini hilang dari perhatian dunia. Foto-foto yang ditampilkan diharapkan mampu menggugah hati agar masyarakat ikut menyuarakan kemerdekaan Palestina,” jelasnya.

Ia menambahkan, penyelenggaraan kegiatan tersebut juga selaras dengan sikap Muhammadiyah dan UMY yang selama ini secara konsisten mendukung perjuangan rakyat Palestina.

“Kita tidak cukup hanya menyatakan sikap, tetapi juga perlu melakukan aksi nyata. Bisa melalui karya, pemikiran, pendidikan, maupun ruang-ruang diskusi seperti ini,” katanya.

Filosa Gita Sukmono, mengatakan bahwa foto memiliki kekuatan untuk menghadirkan realitas yang sering kali tidak mampu dijelaskan melalui kata-kata.

“Melalui foto-foto ini kita diajak melihat langsung berbagai peristiwa yang terjadi di Palestina. Harapannya, sensitivitas kemanusiaan masyarakat terus terbangun sehingga isu Palestina tidak pernah hilang dari perhatian dunia,” ujarnya.

Menurut Filosa, karya yang dipamerkan berasal dari dua perspektif berbeda. Zoe Reynold mendokumentasikan situasi di kawasan perbatasan Mesir-Palestina, sedangkan Mohammed Asad merupakan fotografer yang bekerja langsung di wilayah konflik Gaza.

“Foto-foto Mohammed Asad benar-benar menggambarkan kondisi nyata di lapangan karena beliau berada langsung di tengah konflik,” katanya.

Bagi Mohammed Asad, setiap foto yang dipajang merupakan bagian kecil dari tragedi yang jauh lebih besar. Ia mengungkapkan bahwa selama lebih dari dua tahun terakhir, para jurnalis di Gaza bekerja dalam situasi yang sangat berbahaya. Kantor media dihancurkan, kendaraan dibom, bahan bakar diblokade, jaringan internet diputus, bahkan lebih dari 263 jurnalis dilaporkan meninggal dunia. Meski demikian, para jurnalis tetap berusaha mengabadikan setiap peristiwa agar dunia mengetahui apa yang sebenarnya terjadi.

“Kami berjalan jauh hanya dengan membawa telepon genggam untuk mendokumentasikan kenyataan di sekitar kami. Tolong terus dukung kami agar Palestina tidak dilupakan,” ujarnya.

Sementara itu, Zoe Reynold mengungkapkan tantangan lain yang ia hadapi ketika mencoba mengolah dokumentasi konflik menggunakan teknologi kecerdasan buatan. Menurutnya, beberapa sistem AI justru menolak menghasilkan visual yang menggambarkan kekerasan terhadap warga Palestina.

“Ini menjadi ironi ketika teknologi yang seharusnya netral justru tidak mampu merepresentasikan kenyataan yang terjadi di lapangan secara objektif,” ungkapnya.

Filosa menilai bahwa pameran foto tersebut bukan sekadar menghadirkan karya jurnalistik, tetapi juga menjadi bentuk advokasi kemanusiaan.

“Foto-foto ini diharapkan mampu menggugah hati setiap pengunjung. Kita mungkin tidak bisa hadir langsung di Palestina, tetapi kita bisa terus menyuarakan kemerdekaan mereka melalui karya, pemikiran, dan solidaritas kemanusiaan,” tuturnya.


Berita Lainnya

Berita Terkait

Tentang Politik, Pemerintahan, Partai, Dll

Berita

PURWOKERTO, Suara Muhammadiyah - Universitas Muhammadiyah Purwokerto (UMP) sukses menyelenggara....

Suara Muhammadiyah

3 March 2024

Berita

JAKARTA, Suara Muhammadiyah - Ibadah haji memiliki makna kemanusiaan mendalam. Namun Rektor Universi....

Suara Muhammadiyah

17 June 2024

Berita

SURAKARTA, Suara Muhammadiyah – Program Pendidikan Profesi Fisioterapis Fakultas Ilmu Kesehata....

Suara Muhammadiyah

18 December 2023

Berita

PALANGKARAYA, Suara Muhammadiyah - Bulan Ramadhan 1447 H sebentar lagi akan datang. Suasana Ramadhan....

Suara Muhammadiyah

13 January 2026

Berita

MALANG, Suara Muhammadiyah - Di tengah arus perubahan ekonomi global yang semakin kompleks, kebutuha....

Suara Muhammadiyah

17 April 2026

Tentang

© Copyright . Suara Muhammadiyah