Perkuat Pembinaan Spiritual dan Kemanusiaan Warga Binaan
YOGYAKARTA, Suara Muhammadiyah - Universitas Muhammadiyah Yogyakarta (UMY) secara resmi meluncurkan Program Pengabdian kepada Masyarakat Skema Khusus Pendampingan Lapas Kelas IIA Yogyakarta melalui seremoni peluncuran yang digelar di Masjid Al-Fajar, Lapas Wirogunan, Senin (12/1). Program ini menjadi wujud nyata komitmen UMY dalam menghadirkan pengabdian masyarakat yang berorientasi pada pembangunan manusia secara utuh, mencakup aspek fisik, intelektual, sosial, dan spiritual.
Acara peluncuran dihadiri Kepala Lapas Kelas IIA Yogyakarta, Marjiyanto, Wakil Rektor Bidang Pengembangan Universitas serta Al-Islam dan Kemuhammadiyahan (AIK) UMY, Prof. Faris Al-Fadhat, S.IP., M.A., Ph.D., serta Kepala Subdirektorat Pengabdian Masyarakat bagi Dosen UMY, Dr. drg. Laelia Dwi Anggraini, Sp.KGA.
Dalam sambutannya, Prof. Faris Al-Fadhat menegaskan bahwa fondasi utama dari seluruh program pendampingan ini adalah niat yang tulus. Menurutnya, menjaga niat merupakan aspek paling mendasar sekaligus paling menantang dalam setiap amal perbuatan.
“Allah tidak melihat apa yang telah kita lakukan di masa lalu, tetapi apa yang kita niatkan hari ini dan apa yang akan kita lakukan ke depan. Allah Maha Pengampun dan Maha Melupakan kesalahan,” tutur Faris.
Ia menekankan bahwa kehadiran UMY di Lapas Wirogunan bukan untuk merasa lebih baik dari warga binaan, melainkan untuk berjalan bersama dalam proses memanusiakan manusia dan memperbaiki kualitas diri. Faris juga menegaskan komitmen UMY untuk terus mendampingi warga binaan melalui program-program berkelanjutan, dimulai dari bantuan awal hingga penguatan pembinaan jangka panjang.
Sementara itu, Kepala Lapas Kelas IIA Yogyakarta, Marjiyanto, menyambut positif kolaborasi tersebut dan menilai pendampingan UMY sebagai langkah strategis dalam pembinaan warga binaan. Ia menyebut sinergi dengan perguruan tinggi menghadirkan nilai profesionalitas, integritas, dan kepedulian sosial yang kuat.
“Program ini sangat baik. Muhammadiyah merupakan organisasi besar dengan sumber daya manusia yang berintegritas dan menjunjung tinggi profesionalitas. Kami berharap Masjid Al-Fajar ke depan semakin memberi manfaat bagi warga binaan,” ujarnya.
Marjiyanto juga menjelaskan pendekatan humanis yang kini dikembangkan di Lapas Wirogunan, termasuk dengan menyebut warga binaan sebagai santri, bukan narapidana. Langkah ini diharapkan mampu meningkatkan martabat, kepercayaan diri, serta semangat perubahan para warga binaan.
Di sisi lain, Kepala Subdirektorat Pengabdian Masyarakat bagi Dosen UMY, Dr. drg. Laelia Dwi Anggraini, Sp.KGA., menjelaskan bahwa program pendampingan ini akan dilaksanakan secara bertahap selama satu bulan ke depan dan dirancang berkelanjutan hingga dua sampai empat tahun mendatang.
Program pengabdian mencakup berbagai aspek, mulai dari edukasi kesehatan, pendidikan, penguatan keislaman, hingga kegiatan lain sesuai dengan keahlian dosen yang terlibat. Sebanyak 10 dosen UMY ambil bagian dalam program ini.
“Setiap dosen memperoleh hibah sebesar Rp12 juta. Dari jumlah tersebut, 35 persen dialokasikan untuk bantuan barang sesuai kebutuhan Lapas, khususnya pengembangan Masjid Al-Fajar, serta 30 persen untuk kegiatan penyuluhan sesuai bidang keilmuan dosen,” jelasnya.
Pada tahap awal, dua dosen Fakultas Kedokteran dan Ilmu Kesehatan (FKIK) UMY, yakni Dr. dr. Sagiran, Sp.B(K) KL., M.Kes., dan dr. Ika Setyawati, M.Sc., telah menyalurkan hibah berupa peralatan pendukung madrasah dan Masjid Al-Fajar Lapas Wirogunan.
Melalui Program Pengabdian kepada Masyarakat Skema Khusus Lapas ini, UMY menegaskan perannya sebagai perguruan tinggi yang tidak hanya berfokus pada pengembangan akademik, tetapi juga pada pembinaan kemanusiaan dan spiritual, sejalan dengan nilai-nilai Islam dan Kemuhammadiyahan.
Program ini diharapkan mampu menghadirkan perubahan yang bermakna bagi warga binaan, sekaligus memperkuat peran kampus sebagai mitra strategis dalam membangun masyarakat yang lebih beradab dan berkeadilan. (Jeed)

