Viral Lembar Kitab, Benarkah Ini Rujukan Muhammadiyah?

Publish

19 February 2026

Suara Muhammadiyah

Penulis

1
1586
Dok Istimewa

Dok Istimewa

Viral Lembar Kitab, Benarkah Ini Rujukan Muhammadiyah?

M. Saifudin, Pondok Pesantren Muhammadiyah Sangen

Beberapa hari terakhir, media sosial diramaikan foto satu halaman kitab klasik berjudul At-Taufīqāt al-Ilhāmiyyah. Lembar kitab itu justru menegaskan bahwa hisab bukan metode baru, ia sudah lama hadir dalam tradisi Islam

Beredarnya lembar kitab itu justru menegaskan bahwa hisab bukan metode baru. Ia sudah lama hadir dalam tradisi Islam. Hanya saja, pada masa Nabi, ia belum menjadi praktik sosial di Makkah dan Madinah karena kondisi masyarakat saat itu berbeda.

Beberapa hari terakhir, media sosial diramaikan foto satu halaman kitab klasik berjudul At-Taufīqāt al-Ilhāmiyyah fī Muqāranat at-Tawārīkh al-Hijriyyah bi Ghairihā min at-Tawārīkh al-Qibthiyyah wal-Ifranjiyyah wa Ghairihā, karya Mukhtar Pasha pada akhir abad ke-19, era Utsmaniyah.

Kitab itu berisi tabel komparasi kalender: Hijriyah dibandingkan dengan kalender Qibthi dan Masehi. Sebuah karya teknis, penuh angka, yang disusun untuk memudahkan konversi tanggal dalam administrasi dan pencatatan sejarah, bukan kitab fikih, bukan pula kitab khusus penetapan awal Ramadhan. Kitab ini produk tradisi komputasi kalender dalam dunia Islam.

Ketika tabel itu dicocokkan dengan kalender sekarang, muncul angka 1 Ramadhan 1447 H jatuh pada 18 Februari 2026, sama persis dengan keputusan Muhammadiyah. 

Sebagian orang berkesimpulan, “Oh, ini ya kitab rujukan Muhammadiyah?” Jawabnya tentu tidak. Hasil yang sama belum tentu dari cara dan rujukan yang sama.

Kitab karya Mukhtar Pasha berbasis aritmetika kalender klasik dengan pola siklus. Sementara Muhammadiyah menggunakan hisab hakiki berbasis astronomi modern, yakni, menghitung ijtimak, posisi bulan, serta parameter visibilitas secara presisi. Metode dan perangkatnya berbeda. Yang sama hanyalah objek, yaitu peredaran bulan yang berjalan teratur.

Karena itu, kesamaan tanggal bukan sesuatu yang aneh. Jika dua pendekatan sama-sama membaca orbit bulan yang sama, sangat mungkin bertemu pada angka yang sama, karena hukum alam konsisten.

Viral lembar kitab itu menjadi bukti sejarah bahwa tradisi hisab telah lama berkembang dalam khazanah peradaban Islam. Tradisi menghitung posisi bulan tumbuh berabad-abad sebelum lahirnya organisasi modern mana pun. Ilmu falak berkembang di pusat-pusat keilmuan Islam. Tabel astronomi disusun, kalender dibandingkan, dan demikian pula perhitungan, menjadi bagian dari khazanah ilmiah umat.

Lalu mengapa pada masa Nabi digunakan rukyat? Karena konteks sosialnya berbeda. Hadits yang  berbunyi:

إِنَّا أُمَّةٌ أُمِّيَّةٌ لَا نَكْتُبُ وَلَا نَحْسُبُ

“Kita ini umat yang ummi, tidak menulis dan tidak berhitung.”

Itu adalah gambaran kondisi masyarakat Hijaz saat itu. Tradisi astronomi presisi belum menjadi praktik sosial di Makkah dan Madinah. Metode yang paling mudah, paling sederhana, dan paling dapat dilakukan adalah rukyat.

Namun Al-Qur’an juga menegaskan bahwa alam berjalan dalam sistem yang terukur:

وَقَدَّرَهُ مَنَازِلَ لِتَعْلَمُوا عَدَدَ السِّنِينَ وَالْحِسَابَ (QS. Yunus: 5)

الشَّمْسُ وَالْقَمَرُ بِحُسْبَا(QS. Ar-Rahman: 5)

Bulan memiliki fase agar manusia mengetahui hitungan. Matahari dan bulan beredar dengan perhitungan. Artinya, sistem kosmik memang presisi dan dapat dihitung.

Seiring perkembangan ilmu, kemampuan menghitung menjadi bagian dari ikhtiar manusia membaca sunnatullah. Maka lahirlah metode hisab dengan berbagai pendekatan. Perbedaan metode pun muncul: rukyat, hisab wujudul hilal, imkan rukyat, dan seterusnya. Semua itu berada dalam wilayah ijtihad.

Muhammadiyah memilih hisab hakiki berbasis astronomi modern karena menilainya paling mendekati kepastian ilmiah sekaligus memiliki dasar syar’i. Pilihan itu bukan untuk berbeda, melainkan upaya menghadirkan kepastian yang dapat dihitung jauh hari.

Karena itu, lembaran kitab yang viral itu bukan insinuasi apa pun. Ia justru pengingat bahwa tradisi ilmu dalam Islam memiliki perjalanan panjang dan matang. Penghitungan bulan bukan inovasi modern, melainkan bagian dari warisan intelektual umat sejak masa lampau. Sebagaimana dalam berbagai urusan dunia lainnya, perkembangan ilmu adalah keniscayaan “kalian lebih tahu urusan dunia kalian” (Al Hadits).

Perbedaan metode adalah dinamika ijtihad. Dan yang lebih penting dari itu semua, mari jalani Ramadhan dengan hati yang bersih dan optimal dalam beribadah, hingga kita meraih jenjang takwa.


Komentar

Helmi

Diera ini apapun bisa dibuat menggunakan AI, apalagi untuk tujuan pembenaran bukan untuk membuktikan kebenaran. Kembalilah ke jalan yg benar. Kembalilah ke Alqur'an yg memerintahkan untuk patuh kepada pimpinan. Kalau berani, coba hidup di Saudi dan berbedalah dg raja !

Berita Lainnya

Berita Terkait

Tentang Politik, Pemerintahan, Partai, Dll

Wawasan

𝗔𝗻𝘁𝗮𝗿𝗮 𝗧𝗮𝗻𝗮𝗵 𝗦𝘂𝗰𝗶 𝗗𝗮𝗻 𝗧𝗮𝗻𝗮𝗵 �....

Suara Muhammadiyah

5 July 2025

Wawasan

Etika Ekologis dalam Ibadah Ramadhan Oleh : Gufron Amirullah, Dosen Uhamka, Wakil Sekretaris Majeli....

Suara Muhammadiyah

21 February 2026

Wawasan

Tonggak Baru Diplomasi Budaya Indonesia di Dunia Islam  Oleh: Famelia Zhafirah Alya Putri, Mah....

Suara Muhammadiyah

8 November 2025

Wawasan

Wakaf Hutan dan Keberlanjutan Lingkungan Oleh: Muhammad Zulfikar Yusuf, Ketua Divisi Dakwah Sekolah....

Suara Muhammadiyah

13 January 2026

Wawasan

Anak Saleh (28) Oleh: Mohammad Fakhrudin "Anak saleh bukan barang instan. Dia diperoleh melalui pr....

Suara Muhammadiyah

30 January 2025

Tentang

© Copyright . Suara Muhammadiyah