DEPOK, Suara Muhammadiyah — Wakil Menteri Agama Republik Indonesia, Romo Muhammad Syafi’i menekankan pentingnya penguatan pendidikan Muhammadiyah sebagai bagian dari dakwah, pembentukan karakter, dan pemberdayaan umat. Menurutnya, Muhammadiyah memiliki sejarah panjang dalam mengelola dan mengembangkan pendidikan di Indonesia.
"Sejak awal, pendidikan Muhammadiyah tidak hanya diarahkan untuk mencerdaskan peserta didik, tetapi juga menjadi instrumen dakwah serta sarana membangun manusia yang memiliki karakter dan kepedulian terhadap kehidupan masyarakat," terangnya.
Menurutnya, ribuan lembaga pendidikan Muhammadiyah yang tersebar di berbagai daerah merupakan kekuatan strategis bagi bangsa dan negara. Keberadaan satuan pendidikan tersebut menunjukkan besarnya kontribusi Muhammadiyah dalam mencerdaskan kehidupan bangsa sekaligus menyiapkan sumber daya manusia yang mampu menghadapi perubahan zaman.
“Pendidikan Muhammadiyah sebagai jalan dakwah, pembentukan karakter, dan pemberdayaan umat,” ujarnya, Jumat (28/8) saat keynote speech Pendidikan Khusus Kepala Madrasah (Diksuskamad) Region DKI Jakarta di Balai Besar Pengembangan Penjaminan Mutu Pendidikan Vokasi (BBPPMPV) Bisnis dan Pariwisata, Bojongsari Baru, Bojongsari, Kota Depok, Jawa Barat.
Wamenag juga memberikan apresiasi terhadap karakter warga Muhammadiyah yang dinilainya memiliki integritas kuat. Menurutnya, karakter tersebut menjadi modal penting dalam menjalankan gerakan pendidikan yang berkelanjutan.
“Saya sangat terkesan dengan karakteristik orang-orang Muhammadiyah. Mereka dikenal sebagai orang-orang yang memiliki karakter yang kuat, jujur, teruji, dan amanah,” katanya.
Atas dasar itu, ia berpesan kepada para kepala madrasah Muhammadiyah agar terus menjaga sekaligus mengembangkan warisan panjang pendidikan Muhammadiyah. Menurutnya, tantangan pendidikan saat ini bukan hanya bagaimana melahirkan generasi yang menguasai ilmu pengetahuan, tetapi juga bagaimana membentuk manusia yang memiliki karakter dan akhlak mulia.
“Pendidikan tidak boleh hanya melahirkan orang-orang yang berilmu saja, tetapi harus melahirkan orang-orang yang berkarakter atau berakhlak,” tegasnya.
Ia menambahkan, pendidikan karakter tidak cukup hanya diajarkan dan dipahami secara teoritis. Nilai-nilai tersebut harus dipraktikkan dalam kehidupan sehari-hari melalui pembiasaan, keteladanan, dan budaya sekolah atau madrasah.
Karena itu, madrasah dituntut tidak berhenti sebagai tempat berlangsungnya proses pembelajaran, tetapi harus mampu menjadi lingkungan yang membentuk kepribadian peserta didik. Madrasah perlu menghadirkan pendidikan yang mengintegrasikan kecerdasan intelektual, spiritual, sosial, dan moral.
Lebih jauh, Wamenag menekankan bahwa madrasah harus dikembalikan pada fungsi utamanya sebagai pusat perubahan dan peradaban. Pendidikan Islam, menurutnya, harus memiliki martabat, daya saing, serta semangat kemajuan agar mampu menjawab kebutuhan masyarakat dan tantangan global.
Keyakinan tersebut, lanjutnya, sangat mungkin diwujudkan oleh Muhammadiyah. Sebagai organisasi yang memiliki jaringan pendidikan luas, sistem organisasi yang tertata, dan manajemen yang relatif mapan, Muhammadiyah memiliki modal sosial dan kelembagaan yang kuat untuk terus meningkatkan kualitas pendidikan Islam.
“Saya percaya bahwa hal ini bisa dilakukan oleh Muhammadiyah karena Muhammadiyah sebagai organisasi masyarakat memiliki sistem yang rapi dan manajemen yang mapan,” ujarnya.
Ia pun berharap madrasah Muhammadiyah tidak hanya menjadi pilihan masyarakat, tetapi mampu berkembang menjadi **rujukan pendidikan madrasah di Indonesia, bahkan di tingkat dunia.
“Saya berharap madrasah Muhammadiyah menjadi rujukan madrasah di Indonesia, bahkan di dunia,” harapnya.

