Yang Menyetor dan yang Menyedot

Publish

28 January 2026

Suara Muhammadiyah

Penulis

0
802
Foto Ilustrasi

Foto Ilustrasi

Yang Menyetor dan yang Menyedot

(Amal Usaha Muhammadiyah: Dari Pelayanan menuju Entrepreneur yang Mandiri)

Oleh ; Firdaus, SE, M.Si, Ketua Majelis Ekonomi PW Muhammadiyah Riau


Ekonomi itu jujur.

Ia tidak bisa diajak kompromi.

Yang menyetor akan bertahan.

Yang menyedot akan kelelahan—cepat atau lambat.


Banyak yang terlihat besar: gedung megah, program ramai, aktivitas heboh. Tapi kalau tiap bulan hanya menguras anggaran tanpa memberi hasil nyata, itu liabilitas. Cantik di mata, tapi menghisap napas lembaga.

Aset berbeda. Ia diam, pendiam, tapi rajin menyetor. Sedikit tapi konsisten. Ia membuat organisasi tetap tidak panik, bahkan di tengah krisis.

Inilah titik kunci bagi Amal Usaha Muhammadiyah (AUM). Tidak cukup hanya “bermanfaat” secara formal. AUM harus menjadi lembaga entrepreneur, mandiri, dengan multiple income, bukan hanya mengandalkan donasi, SPP, atau satu sumber pendapatan. Diversifikasi itu bukan mewah; itu keharusan agar AUM kuat dan berkelanjutan.

Contohnya nyata: sekolah, perguruan tinggi, rumah sakit, dan unit sosial harus memiliki aset penyetor: ruko produktif, kebun produktif,  lahan dan unit bisnis yang menghasilkan, unit usaha yang sehat, kerja sama bisnis strategis. Semua itu bukan untuk menggeser misi dan konsentrasi lembaga, tapi menopang dan memperluasnya.

Kesalahan paling mahal adalah mendahulukan yang menyedot (Liabilitas) dan menunda yang menyetor (Aset). Gedung besar dulu, unit usaha produktif nanti. Program ramai dulu, arus kas stabil belakangan. Padahal masa depan Muhammadiyah tidak dibangun dari simbol, melainkan dari aset yang bekerja dalam diam, menyetor manfaat, dan menopang dakwah lintas generasi.

AUM yang sehat adalah AUM yang mampu membiayai dirinya sendiri, meningkatkan mutu layanan, dan tetap memberi ruang pengabdian. Ia bukan beban Persyarikatan; ia adalah penopang dakwah, pendidikan, dan sosial.

Refleksi sederhana tapi tajam:

AUM yang kita kelola hari ini, sudahkah menjadi aset penyetor?

Kalau belum, waktunya berbenah.

Kalau sudah, waktunya memperkuat.


Karena masa depan Muhammadiyah bukan soal terlihat hebat hari ini, tetapi soal mampu bertahan, memberi manfaat, dan menopang dakwah secara mandiri untuk generasi yang akan datang.


Komentar

Berita Lainnya

Berita Terkait

Tentang Politik, Pemerintahan, Partai, Dll

Wawasan

Menelusuri Kiprah Muhammadiyah Ponorogo: Dari Masjid hingga Kemandirian Ekonomi Umat Oleh: Ahsan Ja....

Suara Muhammadiyah

18 September 2025

Wawasan

Inilah Fungsi Utama TKA Oleh: Wiguna Yuniarsih, Wakil Kepala SMK Muhammadiyah 1 Ciputat Tangerang S....

Suara Muhammadiyah

10 January 2026

Wawasan

Pendekatan Kritis dalam Otentikasi Hadits Oleh: Donny Syofyan, Dosen Fakultas Ilmu Budaya Universit....

Suara Muhammadiyah

18 November 2024

Wawasan

Internasionalisasi Muhammadiyah: Dari Jejak Lokal ke Kepemimpinan Peradaban Penulis: Yayah Khisbiya....

Suara Muhammadiyah

7 January 2026

Wawasan

Masjid Kita Masjid Inklusif Oleh: Dr Muhammad Julijanto, Dosen Fakultas Syariah UIN Raden Mas Said ....

Suara Muhammadiyah

29 January 2025