Rasa Tanggung Jawab

Publish

9 January 2026

Suara Muhammadiyah

Penulis

0
82
Foto Istimewa

Foto Istimewa

Rasa Tanggung Jawab

Penulis: Iu Rusliana, Penulis adalah dosen Program MM Uhamka dan Sekretaris Pimpinan Wilayah Muhammadiyah Jawa Barat

Salah satu sikap yang paling penting dari seorang pemimpin adalah rasa tanggung jawab (sense of responsibility). Apa jadinya bila kita memimpin atau pun sebaliknya, dipimpin oleh yang kurang bertanggung jawab. Pasukan akan kocar-kacir tanpa arah. Dengan sikap tanggung jawab, ada rasa malu, menjaga diri, dan komitmen tinggi untuk melayani organisasi sepenuh hati. Bukan ingin dilayani dan mendapatkan keuntungan dari organisasi.

Hadis riwayat Bukhari menyatakan: ”Setiap kalian adalah pemimpin, dan setiap pemimpin akan dimintai pertanggungjawaban atas yang dipimpinnya.” Oleh karena itu, bersedialah untuk totalitas melaksanakan tugas dan kewajiban yang ujungnya adalah peduli dengan hasil yang hendak dicapai. Tidak asal-asalan, apalagi seolah-olah bekerja, padahal hanya pencitraan. Semua proses dijalani dan berusaha sebaik mungkin mengerjakannya. Memberikan arahan, dukungan, dan bantuan agar tidak ada ruang bolong dari semua kebutuhan untuk menyukseskan program dan kegiatan.

Kuatnya kesadaran, pengakuan akan tugas yang diemban. Sambil terus menuntaskan amanah yang diberikan. Tidak banyak mengeluh, apalagi mencari-cari alasan. Sejuta alasan bisa disampaikan, tetapi mencari solusi penuh kesungguhan adalah sikap gentle yang tidak mudah ditemukan. Mencari kambing hitam paling mudah dilakukan. Maju dengan kesatria mengakui kesalahan, lalu memperbaikinya masih harus terus dibudayakan.

Komitmen dan sikap proaktif untuk membantu menyukseskan. Semuanya merasa diperhatikan dan mendapat dukungan. Menjaga akuntabilitas dan memastikan integritas serta peduli akan dampaknya. Tidak bersikap sesuka hati, seenaknya. Semuanya dilakukan dengan hati-hati, terukur, dan berdasarkan regulasi.

Berada di depan menjadi contoh dan menarik gerbong gerakan. Di tengah memberikan dukungan ke depan dan ajakan ke belakang. Di belakang mendorong agar rencana bersama segera terealisasikan. Para pimpinan dan kader diajarkan sifat Muhammadiyah yang salah satunya amar makruf nahi mungkar dalam segala lapangan dan menjadi contoh teladan yang baik. Artinya, harus terus memperbaiki diri agar pantas digugu dan ditiru. Perintah terbaik itu bukan perkataan, melainkan keteladanan.

Harus diakui, banyak organisasi yang didirikan, tetapi tidak ada program dan kegiatan. Tukcing, begitu candaannya, dibentuk dilantik lalu cicing, diam. Ada hanya saat dibutuhkan. Biasanya dipimpin para pencari rupiah melalui proposal kegiatan. Semoga kita terjauh dari hal yang demikian. 

Pimpinan Wilayah Muhammadiyah Jawa Barat setiap pekan, Rabu siang, kami melakukan rapat. Tercatat selama tahun 2025, melaksanakan empat puluh enam kali rapat. Ini di luar rapat teknis, rapat pimpinan harian, rapat di level majelis dan lembaga. Rapat adalah salah satu bentuk kinerja pimpinan. Mekanisme pengambilan keputusan tertinggi setelah musyawarah wilayah, musyawarah pimpinan wilayah, dan rapat kerja wilayah. Sementara itu, rutinitas organisasi akan ditangani langsung pimpinan harian dan wakil ketua yang membidangi masing-masing serta majelis dan lembaga di bawahnya. Sejak Rabu 7 Januari kemarin kami mulai rapat.

Layanan pemangku kepentingan tahun 2025 ini memberikan layanan kepada 721 pihak. Ini belum termasuk agenda organisasi otonomnya. Pemangku kepentingan pada organisasi nirlaba atau sosial adalah mereka yang berkaitan erat. Misalnya, pemerintah di berbagai tingkatan, level struktur lebih tinggi atau di bawahnya seperti pimpinan pusat untuk di atasnya, pimpinan daerah, cabang, dan ranting untuk di bawahnya. Amal usaha Muhammadiyah yang jumlahnya ada 15 Perguruan Tinggi Muhammadiyah dan Aisyiyah. Rumah Sakit dan Poliklinik dengan jumlah 36. Lembaga Kesejahteraan Sosial Anak dengan jumlah 42. Sekolah dan madrasah dengan jumlah 380. Ini belum termasuk amal usaha milik Aisyiyah. 

Para anggota dan pimpinan, masyarakat di sekitar persyarikatan, mitra kerja dan bisnis serta para pihak terkait lainnya. Merekalah pemangku kepentingan (stakeholder) persyarikatan yang harus diperhatikan mandatnya. Mandat adalah harapan, keinginan, regulasi yang berlaku terkait erat dengan persyarikatan. Kami pun melakukan survei kepada para pemangku kepentingan agar mendapatkan masukan perbaikan. Jika mereka puas, kita tentu senang. Jika kecewa, kita harus meminta maaf dan memperbaiki sepenuh hati. Jalan dakwah tak pernah mulus, butuh kesungguhan dan keikhlasan.

Mengelola organisasi jangan asal-asalan. Apalagi sekadar cuap-cuap, hanya pencitraan. Jika butuh dana, kita bersama mencarinya. Jangan menunggu ada, duduk di belakang meja, hanya diskusi santai tanpa upaya. Ingat, tidak ada yang langsung jatuh dari langit, semuanya harus diikhtiarkan. Rencanakan, laksanakan, evaluasi, dan tindak lanjuti setiap masukan perbaikan. Menjadi siklus budaya perbaikan berkelanjutan. Berikan layanan prima untuk membahagiakan sesama. Melayani organisasi akan memberikan manfaat untuk diri, keluarga, lingkungan, masyarakat, dan organisasi. Tetaplah bekerja keras, cerdas, tuntas dan ikhlas karena kita akan diminta pertanggungjawaban. Wallaahu’alam.


Komentar

Berita Lainnya

Berita Terkait

Tentang Politik, Pemerintahan, Partai, Dll

Wawasan

Kejujuran Batin dan Amanah Kepemimpinan Oleh: Dr. Edy Nurcahyo, S.H., M.H., Dekan Fakultas Hukum Un....

Suara Muhammadiyah

7 January 2026

Wawasan

Langit dan Kotak Suara Oleh: Suko Wahyudi Di antara langit dan kotak suara, manusia menegosiasikan....

Suara Muhammadiyah

30 October 2025

Wawasan

Empat Fungsi Pendidikan Muhammadiyah: Dari Ruang Kelas untuk Umat, Bangsa, dan Semesta Penulis: M. ....

Suara Muhammadiyah

30 December 2025

Wawasan

Menara Gading yang Terlalu Tinggi Ketika Intelektual Menjauh dari Rakyat Oleh: Figur Ahmad Brillian....

Suara Muhammadiyah

30 April 2025

Wawasan

Politik Bahasa dan Ilusi Kekuasaan Oleh: Suko Wahyudi, PRM Timuran Yogyakarta Bahasa pada hakikatn....

Suara Muhammadiyah

9 September 2025