110 TAHUN ORBIT LITERASI BERKEMAJUAN
Mugi-mugi Allah paring manah dhumateng para darmawan Muslimin samiya kersa paring sih kawelasan dhumateng saras utawi gesanging Suara Muhammadiyah, inggih punika paring darma sakadaripun,... sampun ngantos agami kita kalajeng-lajeng mundur..... Mangga sami pados kamajengan ingkang sajati; donya akherat.
Semoga Allah menggerakkan jiwa kesadaran di hati kaum Muslim untuk berbelas kasih pada keberlangsungan hidup Suara Muhammadiyah. Yakni dengan memberikan derma (infak) kepada Suara Muhammadiyah, jangan sampai agama kita ini terus mengalami kemunduran. Marilah kita bersama mengupayakan kemajuan yang sejati; (untuk) dunia (dan) akhirat.
P enggalan surat di atas dimuat dalam Majalah Suara Muhammadiyah nomor 4 tahun 1916 yang terbit tanggal 1 Mulud (Rabiul awal) 1334 H. Surat yang ditulis dengan bahasa dan aksara jawa ini cukup panjang dan dimuat di halaman 74 sampai 77.
Pada intinya, penulis yang menyebut dirinya sebagai santri pondok ini telah menerima dan membaca Suara Muhammadiyah edisi satu sampai edisi tiga. Apa yang tertulis di Suara Muhammadiyah itu membuatnya terbangun. Dia menjadi sadar bahwa keadaan Islam saat itu telah jauh tertinggal. Suara Muhammadiyah membangkitkan kembali jiwa kemajuan Islam. Itulah jiwa Islam yang sejati yakni jiwa yang berkemajuan.
Sayangnya, umat Islam yang terbangun itu masih sangat terbatas. Untuk itu, penulis berharap Suara Muhammadiyah tidak pernah berhenti terbit dan terus memperluas sebarannya agar Islam dapat terus maju dan semakin banyak umat Islam yang mau mengupayakan terwujudnya kemajuan yang sejati tersebut.
Selengkapnya dapat membeli Majalah Suara Muhammadiyah digital di sini Majalah SM Digital Edisi 15/2025

