BEKASI, Suara Muhammadiyah – Muhammadiyah selalu bergerak terdepan hadir di tengah masyarakat dalam misi membangun kehidupan. Hal tersebut menunjukkan bukti Muhammadiyah sebagai organisasi yang berkemajuan.
“Selalu bergerak, selalu berinisiatif, selalu memprakarsai,” tegas Muhadjir Effendy, Ketua Pimpinan Pusat Muhammadiyah.
Secara umum, Muhammadiyah melakukan seperti itu berpokok pangkal pada Qs alam Nasyrah ayat 7. “Apabila engkau telah selesai (dengan suatu kebajikan), teruslah bekerja keras (untuk kebajikan yang lain).”
“Jangan sampai terhenti. Kalau perlu pekerjaannya belum selesai, otaknya sudah mulai berpikir, setelah ini mau mengerjakan apa,” ujar Muhadjir, Ahad (30/8) saat Pengajian Hari Bermuhammadiyah di Komplek Perguruan Muhammadiyah Sriamur Perum Mustika Permai 3 Sriamur, Tambun Utara, Bekasi, Jawa Barat.
Demikianlah menjadi ciri khas yang melekat di tubuh Muhammadiyah. Salah satu spirit mahsyurnya yaitu, “Sedikit Bicara Banyak Bekerja”, yang ini menjadi etos dan kekuatan inti dakwah Muhammadiyah terejawantah di akar rumput.
“Kalau saya turun ke daerah mesti saya tanyakan dulu, "Apa yang mau dikerjakan?” Saya paling kecewa kalau ada Cabang atau Ranting, saya ditanya, “Tidak ada yang mau dikerjakan. Itu berarti di sini tidak jalan (Cabang dan Ranting),” tegasnya.
Secara terang benderangnya, Muhadjir mengharapkan tidak terjadi di lingkungan Cabang dan Ranting mana pun. Sebab Menurutnya, jika hal demikian sampai terjadi, yang muncul bukanlah kemajuan, melainkan sebaliknya, kemunduran.
“Berkemajuan kan maju terus, bukan mundur. Kalau diam itu berkemunduran, bukan berkemajuan,” sebutnya.
Di sinilah bertungkus lumus itu perlu dilakukan secara saksama, pelan namun pasti. “Jangan setelah kita ini berpikir untuk berhenti bergerak. Pokoknya harus bergerak terus. Kalau kita bergerak, berarti kitalah yang di depan,” ajak Muhadjir.
Mengaksentuasikan konteks tersebut, sebutnya, menjadi akar tunjang dari pangajaran Kiai Dahlan, pendiri Muhammadiyah.
“Semangat beliau selalu mendoktrinkan, ‘Sedikit bicara banyak kerja’,” terangnya, yang juga Penasehat Khusus Presiden Bidang Haji.
Hal paling fundamentalnya lagi, turut ditopang dengan pikiran terbuka (open minded) dan sikap terbuka (attitude minded). Muhammadiyah, sebut Muhadjir, tidak pernah menutup diri terhadap siapa pun, selalu menjalin kolaborasi dan bergerak bersama untuk kepentingan umat dan bangsa.
“Kiai Dahlan itu salah satu hal yang menurut saya istimewa adalah open minded dan attitude minded. Tidak gampang mengeras, menutup diri, apalagi disertai dengan perasaan yang paling hebat dan perasaan yang paling benar. Kemudian menganggap orang lain tidak benar. Dan itu tidak dilakukan oleh Kiai Dahlan,” tegasnya.
Di sinilah pentingnya open minded dan attitude minded. Karena dua variabel ini menjadi prasyarat Muhammadiyah menjadi semakin berkemajuan ke depannya.
“Jangan gampang meninggalkan sesuatu. Dalam berdakwah juga harus selalu mencermati. Insyaallah kalau itu kita pegang, kita kita berani berada di dalam sanad yang lurus, yaitu dari dalam perjuangan kita, yaitu dari Kiai Dahlan dan Rasulullah Saw,” tandasnya. (Cris)

