KUANSING, Suara Muhammadiyah - Santri akhir Pondok Pesantren (Ponpes) KH. Ahmad Dahlan Boarding School menerima pembekalan intensif mengenai ideologi dan peran strategis santri di tengah masyarakat. Kegiatan yang berlangsung pada Selasa (6/1/2026) ini dipusatkan di Masjid Nurul Ilmi Ahmad Dahlan Boarding School.
Acara ini menghadirkan dua tokoh penting sebagai pemateri guna memperkuat karakter dan mentalitas santri sebelum mereka terjun langsung mengabdi kepada umat.
Sesi pertama diisi oleh Dr. H. Bakhtiar Saleh, S.Ag., MH. (Ketua Pimpinan Daerah Muhammadiyah Kuantan Singingi/Koordinator MPKSDI). Dalam paparannya, ia menekankan bahwa identitas utama kader Muhammadiyah adalah kemurnian akidah. Ia menjelaskan secara mendalam mengenai karakteristik yang harus melekat pada diri santri sebagai representasi gerakan dakwah.
Poin utama yang menjadi sorotan Dr. Bakhtiar adalah penguatan pemahaman santri terkait bahaya Tahayyul, Bid’ah, dan Khurafat (TBC). Ia menegaskan bahwa santri Ahmad Dahlan Boarding School harus menjadi pelopor dalam meluruskan pemahaman agama di masyarakat dengan cara yang bijak, sesuai dengan tuntunan Al-Qur'an dan Sunnah.
Melanjutkan sesi kedua, hadir H. Burdianto, M.Kom, selaku Kepala Seksi Pendidikan Agama dan Keagamaan Islam (Pakis) Kemenag Kuantan Singingi, yang juga merupakan Sekretaris Pimpinan Daerah Muhammadiyah Kuantan Singingi. Ia membawakan materi bertajuk "Sukses Menjadi Santri sebagai Kader Umat dan Bangsa".
Dalam motivasinya, H. Burdianto menggugah semangat para santri untuk bangga membawa identitas sebagai kader Muhammadiyah. Ia menitipkan beberapa poin kunci untuk kesuksesan di medan pengabdian, pertama, Menjaga Marwah Pondok: Santri adalah duta pesantren, sehingga wajib menjaga sikap dan akhlak di lingkungan baru.
Kedua, Menghormati Kearifan Lokal: Mampu beradaptasi dan berkolaborasi dengan masyarakat setempat tanpa kehilangan jati diri. Ketiga, Kontribusi Positif: Aktif memberikan solusi dan dampak nyata bagi kemajuan umat.

