Air Mata di Universitas Granada
Oleh Dr. Saidul Amin, MA, Rektor UMRI dan UMAM
"Jangan kau menangis seperti Perempuan,
jika kau gagal mempertahankan Islam seperti lelaki'
Kemarin saya mengunjungi Universidad de Granada atau The University of Granada yang berada di jantung kota itu. Ketika memasuki gedung Rektorat saya tertegun kagum dan tercengang. Bangunannya kokoh walau sudah berumur hampir 500 tahun. Sesaat sebelum menandatangani MoU, Prof. Inmaculada Marrero Rocha, wakil Rektor hubungan Internasional didampingi Prof. Katia Caballero Rodriguez Dekan Fakultas Pendidikan dan beberapa staf humas menerima saya dan rombongan. Saat duduk berdampingan dia betkata, bahwa tahun ini mereka akan memperingati 500 tahun bangunan eksotik ini. Ternyata didirikan pada tahun 1526 M. Menakjubkan.
Universitas ini didirikan oleh Raja Charles V pada tahun 1531. Kini menjadi Perguruan Tinggi terbesar ketiga dan terbaik ketujuh di Spanyol. Di bawah Pimpinan Rektor Prof. Pedro Mercado Pacheco kini memiliki hampir 60.000 mahasiswa, 3700 dosen, 2600 staf tendik, lebih 6000 mahasiswa international. Di sini ada 27 Fakultas, 90 program S1, 140 program S2, Dan 28 program S3. Hebatnya lagi memiliki dana abadi (endowment) Sebanyak 395.663.000 euro atau lebih kurang Rp. 7.9 trilliun. Luar biasa.
Dalam perjalanan pulang ke hotel, saya selalu berfikir, apakah Universitas ini bermula dari ranah hampa atau sudah ada fondasi sebelumnya. Banyak catatan dan tulisan ditelusuri di dunia maya. Ternyata ada fakta yang mengejutkan. Pada era Dinasti Nasrid yang berkuasa di Granada pada tahun 1238 sampai 1492. Ada seorang pemimpin cerdas yang sangat peduli kepada Dunia peradaban, Sultan Yusuf I. Dialah yang merintis pembangunan pusat Pendidikan yang mengajarkan Ilmu Kedokteran, astronomi, hukum dan logika. Pada akhirnya Lembaga Pendidikan ini menjadi Universitas pertama di Granada yang dikenal dengan "madrasah Yusufiyah". Lebih duaratus tahun madrasah ini menjadi pusat Ilmu yang bukan hanya menyinari Granada, tapi juga Eropah.
Pada tahun 1492, lenyaplah kekuasaan Islam di Granada. Sultan Muhammad XII yang dikenal dengan Boabdil menyerahkan kunci kota kepada penguasa baru Katolik Raja Ferdinand II Dari Aragon dan Ratu Isabella Dari Kastila. Lalu dia beserta keluarga dan sisa-sisa pengikut yang ada terpaksa meninggalkan istana dan kota menuju tempat pengasingan yang ada di sebelah bukit. Sambil sesekali sultan kembali melihat istana yang 250 tahun berada dalam dekapan Islam kini harus terlepas. Saat itu air matanya jatuh bercucuran dan dia menangis pilu. Salah seorang karabatnya yang bernama Aisyah, melarangnya menangis sambil betkata, "Jangan kau menangis seperti perempuan, jika kau gagal mempertahankan kota itu seperti lelaki."
Raja Charles V mengambil alih madrasah Yusufiyah, lalu tetap melanjutkan tradisi Ilmu di kota itu dengan melakukan berbagai inovasi dan penyesuaian. Khususnya merubah silabus Dan nuansa Pendidikan dari Islam kepada ajaran Katolik.
Tidak hanya dari segi materi Pendidikan, Charles V juga merubah gedung madrasah dengan nuansa Katolik, tanpa merusak ornamen yang ada. Sehingga di samping ada kaligrafi Islam tetap juga gambar bunda maria dan yesus. Penguasa berganti, akan tetapi budaya Ilmu tetap terjaga.
Madrasah Yusufiyah inilah yang menjadi cikal bakal Universidad de Granada hari ini. Dia bukan muncul dari nol, tapi ada peran luar biasa umat Islam di sana. Saya menangis ketika kembali melihat Universitas itu. Sedih membaca malapetaka sejarah, tapi menangis untuk Spanyol Islam yang akan datang ke depan yang membawa pencerahan untuk semesta.
