‘Aisyi Tower Klaten, Bukti Kemandirian Muhammadiyah dan ‘Aisyiyah yang Berbuah Karya Nyata

Suara Muhammadiyah

Penulis

0
164
Prof Dr Haedar Nashir, MSi

Prof Dr Haedar Nashir, MSi

KLATEN, Suara Muhammadiyah – ‘Aisyi Tower Klaten merupakan manifestasi usaha dakwah di bidang ekonomi, khususnya dalam maujud perhotelan. Pada saat yang sama, kata Haedar Nashir, juga merupakan wujud dari ikhtiar Muhammadiyah dan ‘Aisyiyah untuk terus membangun kemandirian organisasi.

“Langkah ini tentu merupakan langkah yang harus terus dikelola dengan sebaik-baiknya dengan manajemen yang maju, profesional, dan modern. Lebih dari itu, tentu juga harus ‘Aisyi Tower Klaten dirancang sedemikian rupa agar semakin maju,” kata Ketua Umum Pimpinan Pusat Muhammadiyah tersebut.

Haedar menyebut, dengan hadirnya ‘Aisyi Tower Klaten ini, tampak jelas antara ‘Aisyiyah dan Suara Muhammadiyah saling berkolaborasi dan berupaya untuk meningkatkan kualitas usaha di bidang ekonomi dan bisnis.

“Yang dapat memberikan kemanfaatan bagi organisasi maupun kepada pihak lain. Dengan memanfaatkan jasa ‘Aisyi Tower ini, sehingga mereka juga menjadi merasa terlayani,” tuturnya, Selasa (16/6) saat Soft Opening ‘Aisyi Tower Klaten secara daring.

Sebagai organisasi Islam, pangkal pembahasan tidak selalu berkutat pada diskursus keagamaan yang elementer, khususnya menyangkut akidah, ibadah, akhlak. Namun, kata Haedar, ada hal yang jauh lebih substansial di dalamnya: mewujudkan dimensi muamalah dunyawiyah secara niscaya.

“(Ini) untuk mewujudkan muamalah dunyawiyah dalam kepentingan yang semakin aktual dan semakin produktif,” ujarnya.

Dalam pada itu, sebagai organisasi Islam berbasis keagamaan dan kemasyarakatan, mesti mengembangkan etos kemandirian. Karena sungguh betapa mahal kemandirian tersebut.

“Muhammadiyah dan ‘Aisyiyah harus terus memperkokoh kekuatan kemandirian itu. Tidak bisa menggantungkan kepada orang lain, kecuali kita harus bisa berdikari atau berdiri di atas kaki sendiri,” tekannya.

Lebih dalam lagi, menggarisbawahi konteks kemandirian itu, Haedar meminta jangan terus didiskusikan dalam forum semata. Bahkan, menjadi isu-isu yang tidak produktif bahkan serba konfrontatif seakan-akan tidak memerlukan bantuan orang lain.

“Kemandirian justru kita membangun kekuatan sendiri, tetapi juga dengan berkolaborasi. Buktinya bahwa ‘Aisyiyah dengan PT SCM bisa berkolaborasi karena kita tidak bisa sendiri. Juga pihak luar, baik pemerintah maupun berbagai pihak lainnya. Bahwa kemandirian itu juga memerlukan kolaborasi,” tegas Haedar.

Pokok pangkalnya di sini kalau ingin berbuat untuk orang banyak dan bisa bersaing dengan berbagai pihak dalam dakwah, maka kuncinya mesti mempunyai sesuatu yang dimiliki.

“Sesuatu itu bukan hanya pikiran, ide-ide, suara, apalagi retorika, tetapi karya nyata. Dan untuk sampai ke karya nyata, sungguh yang diperlukan langkah-langkah nyata, kerja-kerja nyata, dan komitmen-komitmen yang diwujudkan dalam langkah-langkah nyata itu,” terangnya.

Dalam konteks sedemikan itu, maka Haedar mendorong Muhammadiyah dan ‘Aisyiyah harus semakin produktif dan menghasilkan sesuatu yang dapat memberi nilai kemanfaatan bagi organisasi maupun masyarakat secara luas.

“Nilai amaliyah kita sungguh akan diuji karena kemanfaatannya. Khoirunnas Anfa'uhum Linnas, sebaik-baik manusia adalah yang memberi kemanfaatan. Begitu juga kita nisbahkan kepada organisasi. Sebaik-baik organisasi adalah yang memberi kemanfaatan bagi orang banyak,” beber Haedar.

Di situlah kerja produktif menemukan relevansinya. Sementara, hal-hal yang bersifat seremonial atau simbolik, mesti ditepikan atau diminimalisasikan. Kenapa? “Agar kita bisa kerja produktif. Karena tidak bisa dilakukan kedua-keduanya,” imbuhnya.

Seraya menarik benang merahnya, akumulasi dari usaha di bidang bisnis, ekonomi, membangun kemandirian, dan langkah-langkah produktif merupakan fondasi penting bagi kemajuan persyarikatan.

Sejumput dengan hal itu, Haedar mendorong agar ke depan Muhammadiyah, ‘Aisyiyah dan seluruh amal usahanya, harus bisa melangkah lebih maju, modern, dan profesional.

“Bukan dengan retorika dan kegiatan-kegiatan seremonial yang hanya indah untuk diviralkan atau mungkin menjadi isu media massa, tetapi tidak membawa perubahan bagi kehidupan nyata, Persyarikatan, umat, dan bangsa,” tandas Haedar. (Cris)


Berita Lainnya

Berita Terkait

Tentang Politik, Pemerintahan, Partai, Dll

Berita

HONG KONG, Suara Muhammadiyah — Universitas Muhammadiyah Yogyakarta (UMY) bermitra dengan Saha....

Suara Muhammadiyah

6 May 2026

Berita

BANJARMASIN, Suara Muhammadiyah — Lembaga Pengembangan Cabang Ranting dan Pembinaan Masjid (LP....

Suara Muhammadiyah

18 October 2025

Berita

MALANG, Suara Muhammadiyah - Berbekal kemudahan dalam satu genggaman, sistem pembayaran nontunai QRI....

Suara Muhammadiyah

22 January 2026

Berita

YOGYAKARTA, Suara Muhammadiyah - Pimpinan Cabang Muhammadiyah (PCM) Kotagede berkolaborasi dengan La....

Suara Muhammadiyah

22 December 2024

Berita

UM Bandung Selenggarakan Mimbar Iqra Edisi ke-8 BANDUNG, Suara Muhammadiyah – Dosen prog....

Suara Muhammadiyah

6 December 2023

Tentang

© Copyright . Suara Muhammadiyah