Ajari Saya Mencintai Muhammadiyah
Penulis: Dr. Hasbullah, M. Pd.I, Wakil Ketua Majelis Dikdasmen PNF PWM Lampung, Dosen Universitas Muhammadiyah Pringsewu
“Ajari saya mencintai Muhammadiyah.” Kalimat itu saya dengar ketika menjadi narasumber pada Workshop Guru Muhammadiyah di salah satu sekolah Muhammadiyah di Lampung dalam materi Internalisasi Nilai-Nilai Al-Islam dan Kemuhammadiyahan (AIK) dalam Pembelajaran. Pertanyaan tersebut lahir setelah seorang guru menyampaikan pengalaman yang sangat reflektif.
Selama delapan tahun mengabdi di sekolah Muhammadiyah, ia mengaku bahwa tujuh tahun pertama belum sepenuhnya menerima pandangan Muhammadiyah terhadap ajaran Islam. Baru dalam satu tahun terakhir ia mulai memahami dan mengamalkan manhaj keagamaan Muhammadiyah, terutama dalam pelaksanaan ibadah salat.
Pengakuan tersebut tidak saya pandang sebagai kelemahan pribadi, melainkan sebagai cermin yang memantulkan tantangan besar pendidikan Muhammadiyah saat ini. Di tengah pesatnya perkembangan Amal Usaha Muhammadiyah (AUM), masih terdapat guru yang bekerja di lingkungan Muhammadiyah tanpa memiliki keterikatan ideologis dan emosional yang kuat terhadap nilai-nilai persyarikatan. Kondisi ini menunjukkan bahwa kaderisasi tidak cukup dilakukan melalui proses rekrutmen, tetapi harus dilanjutkan dengan proses internalisasi nilai yang sistematis, berkelanjutan, dan menyentuh dimensi spiritual.
Allah Swt. Mengingatkan: “Sesungguhnya Allah tidak akan mengubah keadaan suatu kaum sampai mereka mengubah keadaan yang ada pada diri mereka sendiri.” (QS. Ar-Ra'd [13]: 11). Ayat ini memberikan pesan bahwa perubahan organisasi selalu berawal dari perubahan kesadaran individu. Sekolah Muhammadiyah yang unggul hanya dapat dibangun oleh guru-guru yang lebih dahulu mengalami transformasi nilai dalam dirinya.
Di tengah masyarakat, Muhammadiyah sering kali dipersepsikan hanya melalui perbedaan praktik ibadah, seperti tata cara salat, penentuan awal Ramadan, atau persoalan-persoalan fikih lainnya. Akibatnya, identitas Muhammadiyah direduksi menjadi sekumpulan perbedaan ritual.
Padahal, sejak berdirinya pada tahun 1912, Muhammadiyah tidak lahir untuk mempertajam perbedaan, tetapi untuk melakukan tajdid, yaitu pemurnian akidah dan pembaruan kehidupan umat berdasarkan Al-Qur'an dan As-Sunnah.
Hal tersebut ditegaskan dalam Muqaddimah Anggaran Dasar Muhammadiyah bahwa Muhammadiyah merupakan gerakan Islam yang melaksanakan dakwah amar makruf nahi mungkar dengan tujuan menegakkan dan menjunjung tinggi agama Islam sehingga terwujud masyarakat Islam yang sebenar-benarnya.
Karena itu, memahami Muhammadiyah harus dimulai dari memahami cita-cita besarnya. Muhammadiyah bukan hanya gerakan ritual, melainkan gerakan peradaban yang menjadikan tauhid sebagai landasan transformasi sosial. Tauhid melahirkan kejujuran, keadilan, kepedulian, profesionalisme, dan keberpihakan kepada kaum lemah.
Al-Qur'an menegaskan: “Dan katakanlah: Bekerjalah kamu, maka Allah akan melihat pekerjaanmu, begitu pula Rasul-Nya dan orang-orang mukmin.” (QS. At-Taubah [9]: 105). Ayat ini menjadi salah satu fondasi etos amal Muhammadiyah: iman harus diwujudkan dalam kerja nyata yang memberi manfaat bagi umat.
KH. Ahmad Dahlan: Mengajarkan Al-Qur'an dengan Amal
Salah satu pelajaran terbesar dari KH. Ahmad Dahlan menyatakan bahwa pendidikan tidak berhenti pada transfer pengetahuan, tetapi harus melahirkan transformasi kehidupan. Beliau pernah berpesan: “Hidup-hidupilah Muhammadiyah, jangan mencari hidup di Muhammadiyah.” Pesan tersebut mengandung makna bahwa Muhammadiyah bukan tempat mencari keuntungan pribadi, melainkan ladang pengabdian untuk mencari rida Allah.
Pelajaran paling monumental beliau adalah pengajaran Surah Al-Ma'un. KH. Ahmad Dahlan tidak segera berpindah ke surah berikutnya sebelum murid-muridnya benar-benar mengamalkan isi surah tersebut melalui pelayanan kepada fakir miskin, anak yatim, dan masyarakat yang membutuhkan. Hal ini selaras dengan firman Allah: “Tahukah kamu orang yang mendustakan agama? Itulah orang yang menghardik anak yatim dan tidak mendorong memberi makan orang miskin.” (QS. Al-Ma'un [107]: 1–3).
Bagi KH. Ahmad Dahlan, memahami Al-Qur'an berarti menghidupkan Al-Qur'an. Ayat tidak berhenti menjadi bacaan, tetapi menjelma menjadi tindakan sosial.
Inilah yang kemudian menjadi DNA Muhammadiyah: mengubah tafsir menjadi amal, mengubah iman menjadi pelayanan, dan mengubah dakwah menjadi gerakan pemberdayaan masyarakat.
Prinsip tersebut sangat relevan dengan tantangan pendidikan Muhammadiyah dewasa ini. Internalisasi AIK tidak cukup diwujudkan dalam bentuk mata pelajaran atau hafalan konsep. Nilai-nilai AIK harus hadir dalam budaya sekolah, perilaku guru, kepemimpinan kepala sekolah, proses pembelajaran, hingga pelayanan kepada peserta didik.
Dalam perspektif pendidikan modern, pembelajaran bergerak dari knowing, menuju feeling, kemudian doing, dan akhirnya being. Pendidikan Muhammadiyah tidak berhenti pada peserta didik yang mengetahui ajaran Islam, tetapi membentuk pribadi Muslim yang menjadikan Islam sebagai karakter hidup. Karena itu, guru Muhammadiyah tidak cukup hanya kompeten secara akademik. Ia harus menjadi teladan akhlak, integritas, dan spiritualitas.
Allah Swt. berfirman: “Wahai orang-orang yang beriman, mengapa kamu mengatakan sesuatu yang tidak kamu kerjakan? Sangat besar kebencian di sisi Allah bahwa kamu mengatakan apa yang tidak kamu kerjakan.” (QS. Ash-Shaff [61]: 2–3).
Ayat ini menjadi dasar bahwa pendidikan yang paling efektif adalah keteladanan.
Mencintai Muhammadiyah Melalui Pengalaman Nilai
Mengapa tidak mudah mencintai Muhammadiyah? Karena cinta tidak lahir melalui indoktrinasi, melainkan melalui pengalaman. Seseorang akan mencintai Muhammadiyah ketika ia melihat guru yang ikhlas mengajar, kepala sekolah yang amanah, rumah sakit yang melayani tanpa diskriminasi, panti asuhan yang memuliakan anak yatim, serta relawan Muhammadiyah yang hadir ketika masyarakat tertimpa bencana.
Dalam Pedoman Hidup Islami Warga Muhammadiyah (PHIWM) ditegaskan bahwa setiap warga Muhammadiyah dituntut menghadirkan akhlak Islami dalam kehidupan pribadi, keluarga, pekerjaan, organisasi, dan kehidupan bermasyarakat. Dengan kata lain, identitas Muhammadiyah harus tampak dalam perilaku, bukan hanya dalam atribut organisasi.
Semangat tersebut diperkuat dalam Risalah Islam Berkemajuan yang menegaskan bahwa Islam adalah agama yang menghadirkan kemajuan, mendorong penguasaan ilmu pengetahuan, membangun keadaban, membela kemanusiaan, serta menghadirkan solusi bagi persoalan bangsa dan dunia. Artinya, mencintai Muhammadiyah berarti mencintai gerakan ilmu, dakwah, pelayanan sosial, pemberdayaan masyarakat, dan pembangunan peradaban.
Pengalaman guru yang bertanya, “Ajari saya mencintai Muhammadiyah,” menunjukkan bahwa banyak guru telah memiliki loyalitas administratif karena bekerja di sekolah Muhammadiyah, tetapi belum semuanya memiliki komitmen ideologis terhadap cita-cita persyarikatan.
Komitmen tersebut tidak dibangun melalui pemaksaan, melainkan melalui pembinaan yang dialogis, Baitul Arqam yang berkualitas, budaya sekolah yang Islami, keteladanan pimpinan, serta pengalaman langsung dalam amal usaha Muhammadiyah.
Di sinilah pentingnya AIK sebagai ruh pendidikan Muhammadiyah. AIK bukan sekadar mata pelajaran, tetapi paradigma yang mengintegrasikan ilmu, iman, amal, dan akhlak dalam seluruh proses pendidikan. Sebagaimana firman Allah: “Sesungguhnya orang-orang yang beriman dan beramal saleh, bagi mereka Tuhan Yang Maha Pengasih akan menanamkan rasa kasih sayang.” (QS. Maryam [19]: 96).
Cinta terhadap Muhammadiyah pada akhirnya tidak tumbuh karena simbol, tetapi karena amal saleh yang terus dilakukan secara istiqamah.
Pertanyaan “Ajari saya mencintai Muhammadiyah” sesungguhnya bukan hanya pertanyaan seorang guru. Ia adalah pertanyaan yang layak diajukan oleh seluruh warga persyarikatan kepada dirinya sendiri. Apakah Muhammadiyah telah hadir dalam cara kita berpikir, mengajar, memimpin, melayani, dan berdakwah? Jawabannya tidak cukup melalui ceramah atau hafalan sejarah organisasi. Jawaban terbaik adalah menghadirkan Muhammadiyah dalam kehidupan sehari-hari sebagai gerakan yang mencerahkan, memajukan, dan membebaskan.
Sebagaimana ditegaskan dalam Risalah Islam Berkemajuan, Muhammadiyah dipanggil untuk menghadirkan Islam sebagai agama yang membawa rahmat, kemajuan, keadilan, dan kemanusiaan universal. Karena itu, orang tidak akan mencintai Muhammadiyah hanya karena sejarahnya yang panjang atau amal usahanya yang besar. Mereka akan mencintainya ketika menyaksikan nilai-nilai Islam hidup dalam keteladanan guru, kejujuran pemimpin, pelayanan rumah sakit, kepedulian sosial, dan keberpihakan kepada kaum yang lemah.
Di situlah Muhammadiyah menemukan maknanya: bukan sekadar organisasi yang dipelajari, melainkan gerakan yang dihayati; bukan sekadar identitas yang disandang, melainkan jalan pengabdian untuk menghadirkan Islam Berkemajuan sebagai rahmat bagi seluruh alam (QS. Al-Anbiya' [21]: 107).

