Antara das Sein dan das Sollen Pendidikan Karakter pada Era Reformasi

Suara Muhammadiyah

Penulis

0
78
Foto Ilustrasi

Foto Ilustrasi

Antara das Sein dan das Sollen Pendidikan Karakter pada Era Reformasi

Oleh: Mohammad Fakhrudin, Warga Muhammadiyah Magelang

Peringatan Hari Pendidikan Nasional (hardiknas) 2 Mei  2026 bertema “Menguatkan Partisipasi Semesta Mewujudkan Pendidikan Bermutu untuk Semua”. Tema tersebut relevan dengan Asta Cita Presiden Prabowo Subianto, yakni bahwa pendidikan adalah usaha bersama untuk membangun sumber daya manusia Indonesia yang unggul, kuat, dan tangguh untuk  menjadikan Indonesia sebagai negara yang maju, makmur, dan bermartabat. Relevansi tema dengan Asta Cita Presiden Prabowo Subianto dapat kita ketahui, antara lain, dari frasa partisipasi semesta yang terdapat tema peringatan dan usaha bersama yang terdapat pada Asta Cita Presiden Prabowo Subianto. 

Berkenaan dengan tema tersebut, Menteri Pendidikan Dasar dan Menengah di dalam sambutannya menyampaikan lima kebijakan strategis. Salah satunya, sebagaimana disampaikan pada butir ketiga dari lima butir kebijakan, adalah bahwa pembelajaran mendalam juga perlu diintegrasikan dengan penguatan karakter melalui penciptaan budaya dan lingkungan sekolah yang aman dan nyaman, baik fisik, sosial, maupun spiritual. Dari kebijakan tersebut, kita ketahui pentingnya pendidikan karakter bagi pembangunan sumber daya manusia Indonesia yang unggul, kuat, dan tangguh untuk menjadikan Indonesia sebagai negara yang maju, makmur, dan bermartabat. 

Secara semantis, “menguatkan” berarti membuat kuat. Menguatkan sesuatu berarri membuat sesuatu yang semula lemah menjadi kuat. Dengan demikian, “menguatkan partisipasi semesta” berarti membuat partisipasi semesta yang semula lemah menjadi kuat. Hal itu berarti bahwa partisipasi semesta dalam usaha mewujudkan pendidikan bermutu untuk semua sudah ada, tetapi masih lemah, maka perlu dikuatkan karena pendidikan merupakan usaha bersama semua pemangku kepentingan.

Berbeda halnya jika di dalam tema itu digunakan kata “memperkuat”. Kata ini berarti membuat menjadi lebih kuat. Memperkuat partisipasi semesta berarti membuat partisipasi semesta menjadi lebih kuat. Dengan kata lain, partisipasi semesta itu sudah kuat kemudian dibuat menjadi lebih kuat. 

Eufora Berbahasa dan Berperilaku

Sejak reformasi, terjadi euforia berbahasa dan berperilaku yang sangat masif misalnya penggunaan kata-kata makian, olok-olok, sumpah serapah, hoax, fitnah, "saru", dan ujaran kebencian. Pelakunya tidak hanya preman dan tidak hanya orang yang berpendidikan dan berstatus sosial rendah. Penyebabnya adalah salah pilih rujukan. Cukup banyak orang terdidik, tetapi merujuk kepada bahasa dan perilaku preman. Akibatnya, tidak ada perbedaan bahasa dan perilaku orang terdidik dengan bahasa dan perilaku preman.

Penggunaan kata-kata makian, olok-olok, dan sumpah serapah, ujaran kebencian, hoax, "saru", dan fitnah bertentangan dengan firman Allah Subḥanahu wa Taʻala di dalam Al-Qurʻan, antara lain, surat (2):83; (16):125; surat (17):23, surat (33):70, dan surat (49):11-12. Hal itu bertentangan juga dengan HR al-Bukhari dan Muslim dan HR Ahmad tentang berbicara yang santun.

Penggunaan kata-kata makian, olok-olok, "saru", dan sumpah serapah itu pun menabrak peradaban yang salah satu di antaranya adalah kesantunan berbahasa yang diterapkan oleh penutur bahasa di mana pun (Baca misalnya Wierzbicka (1991:67-129), Aziz (2003:241-270), Leech (2014), dan Rustono dan Mohammad Fakhrudin (2024:99-120). 

Kesenjangan yang Menganga Lebar

Ada fenomena perilaku di antara kita yang sangat memalukan. Di dunia akademis, ada kasus plagiarisme yang dilakukan oleh guru besar dan mafia penerbitan artikel pada jurnal internasional untuk pemerolehan jabatan fungsional guru besar. Akibatnya, jabatan fungsional guru besar mereka dicabut. Di antara mereka ada yang berjabatan struktural sebagai rektor. 

Korupsi dilakukan oleh orang-orang yang diberi amanah, baik di bidang eksekutif, yudikatif, maupun legislatif. Ada menteri yang melakukan korupsi, bahkan menteri agama. Jika hakim memutus Nadiem Makarim terbukti bersalah, kita makin prihatin. Bukankah orang-orang yang diberi amanah di kementerian agama dan kementerian pendidikan semestinya menjadi teladan dalam pendidikan karakter? 

Sungguh makin terasa kesenjangan antara das Sein dan das Sollen dalam pendidikan karakter karena ada.di antara pengasuh pondok pesantren yang melakukan pelecehan seksual terhadap santrinya. Lebih sesat dan menyesatkan lagi, di antara mereka ada yang mengaku wakil nabi. 

Pendidikan karakter merupakan pilar yang sangat penting dalam pembangunan bangsa Indonesia sepanjang masa. Hal itu kita ketahui sekurang-kurangnya pada setiap peringatan hardiknas. Menteri yang diberi amanah di bidang pendidikan dalam sambutannya pasti menyatakan pentingnya pendidikan karakter. Namun, dalam pelaksanaannya ada kesenjangan yang menganga lebar. 

Ketika pernyataan tersebut dipublikasi di berbagai media sepertinya lewat begitu saja. Berapa orang elit bangsa yang mengetahuinya dan secara serius berkomitmen mewujudkannya? 

Di antara pejabat publik ada yang menjawab kritik dengan intimidasi. Tidak selalu mereka sendiri yang melakukannya. Mereka menggunakan buzzer. Jika para buzzer yang berbicara dan bertindak, akhlaqul karimah pasti tidak berlaku sama sekali. Mereka mengabaikan perintah Allah Subhanahu wa Ta’ala di dalam Al-Qur’an surat al-Baqarah (2):83,

وَقُوْلُوْا لِلنَّاسِ حُسْنًا

“Selain itu, bertutur katalah yang baik kepada manusia."

Mereka mengabaikan pula perintah-Nya di dalam surat al-Ahzab (33):70-71

يٰٓاَيُّهَا الَّذِيْنَ اٰمَنُوا اتَّقُوا اللّٰهَ وَقُوْلُوْا قَوْلًا سَدِيْدًاۙ
“Wahai orang-orang yang beriman, bertakwalah kamu kepada Allah dan ucapkanlah perkataan yang benar.

يُّصْلِحْ لَكُمْ اَعْمَالَكُمْ وَيَغْفِرْ لَكُمْ ذُنُوْبَكُمْۗ وَمَنْ يُّطِعِ اللّٰهَ وَرَسُوْلَهٗ فَقَدْ فَازَ فَوْزًا عَظِيْمًا

Niscaya Dia (Allah) akan memperbaiki amal-amalmu dan mengampuni dosa-dosamu. Siapa yang menaati Allah dan Rasul-Nya, sungguh, dia menang dengan kemenangan yang besar”

Masih ada lagi perintah yang dibaikan, yakni perintah Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam,

مَنْ كَانَ يُؤْمِنُ بِاللَّهِ وَالْيَوْمِ اْلآخِرِ فَليَقُلْ خَيْرًا أَوْ لِيَصْمُت

“Barang siapa yang beriman kepada Allah dan Hari Akhir, maka hendaklah ia berkata baik atau hendaklah ia diam.” (HR al-Bukhari dan HR Muslim)

Sementara itu, larangan Allah Subhanahu wa Ta’ala sebagaimana dijelaskan di dalam Al-Qur’an, antara lain, di dalam surat al-Hujurat (49):11 berikut ini justru dilanggar.

يٰٓاَيُّهَا الَّذِيْنَ اٰمَنُوْا لَا يَسْخَرْ قَوْمٌ مِّنْ قَوْمٍ عَسٰٓى اَنْ يَّكُوْنُوْا خَيْرًا مِّنْهُمْ وَلَا نِسَاۤءٌ مِّنْ نِّسَاۤءٍ عَسٰٓى اَنْ يَّكُنَّ خَيْرًا مِّنْهُنَّۚ وَلَا تَلْمِزُوْٓا اَنْفُسَكُمْ وَلَا تَنَابَزُوْا بِالْاَلْقَابِۗ بِئْسَ الِاسْمُ الْفُسُوْقُ بَعْدَ الْاِيْمَانِۚ وَمَنْ لَّمْ يَتُبْ فَاُولٰۤىِٕكَ هُمُ الظّٰلِمُوْنَ

“Wahai, orang-orang yang beriman, janganlah suatu kaum mengolok-olok kaum yang lain (karena) boleh jadi mereka (yang diolok-olokkan itu) lebih baik daripada mereka (yang mengolok-olok) dan jangan pula perempuan-perempuan (mengolok-olok) perempuan lain (karena) boleh jadi perempuan (yang diolok-olok itu) lebih baik daripada perempuan (yang mengolok-olok). Janganlah kamu saling mencela dan saling memanggil dengan julukan yang buruk. Seburuk-buruk panggilan adalah (panggilan) fasik setelah beriman. Siapa yang tidak bertobat, mereka itulah orang-orang zalim.”

Larangan Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam sebagaimana dijelaskan di dalam hadis berikut ini dilanggar pula,

وَإِنَّ اللهَ لَيُبْغِضُ الْفَاحِشَ الْبَذِيْءَ

“Sungguh-sungguh (benar-benar) Allah benci dengan orang yang lisannya kotor dan kasar.” (Diriwayatkan oleh at-Tirmizi)

Hakikatnya hadis itu berisi larangan berbicara kotor dan kasar. 

Jika di antara elit bangsa banyak yang berkarakter tidak sesuai dengan yang kita cita-citakan, bagaimana mungkin generasi penerusnya berkarakter baik? Oleh karena itu, tepat sekali tema peringatan hardiknas 2026. Partisipasi semesta mewujudkan pendidikan bermutu untuk semua memang harus dikuatkan. 

Menurut Mendikdasmen, sesuai dengan amanat Undang-Undang Dasar 1945 dan Undang-undang Sistem  Pendidikan Nasional Nomor 20 Tahun 2003, pendidikan pada hakikatnya adalah proses mencerdaskan kehidupan, membangun watak dan peradaban bangsa.  Pendidikan adalah proses menumbuhkembangkan potensi manusia sehingga  menjadi insan yang beriman dan bertakwa kepada Tuhan Yang Maha Esa,  berakhlak mulia, cerdas, terampil, mandiri, sehat jasmani dan rohani, jujur,  bertanggung jawab, demokratis, dan kepribadian utama lainnya. 

Boleh jadi, generasi Z berbahasa dan berperilaku yang bertentangan dengan karakter yang kita cita-citakan karena sekadar meniru para senior dan mengembangkannya dengan daya keatif yang lebih canggih. Karena menyaksikan para senior misalnya (1) bangga dengan kebohongan, (2) bangga dapat mempermalukan, dan (3) membalas keburukan dengan keburukan juga, generasi Z pun menirunya. Karena teknologi makin canggih, ketiga-tiganya dilakukannnya dengan kecanggihan yang lebih tinggi.

Na’uzubillah!


Berita Lainnya

Berita Terkait

Tentang Politik, Pemerintahan, Partai, Dll

Wawasan

Muhammadiyah dan Tantangan Kesejahteraan Bangsa Oleh: Sri Herwindya Baskara Wijaya, Dosen Prodi Ilm....

Suara Muhammadiyah

19 November 2025

Wawasan

Peringatan Hari Anak: Hadirnya Orangtua Apresiatif Oleh:  Royyan Mahmuda Daulay, M.H., Penguru....

Suara Muhammadiyah

23 July 2025

Wawasan

Pondasi Pendidikan Karakter Oleh: Dartim Ibnu Rushd, Dosen Prodi Pendidikan Agama Islam UMS Pertam....

Suara Muhammadiyah

26 February 2024

Wawasan

Anak Saleh (23) Oleh: Mohammad Fakhrudin "Anak saleh bukan barang instan. Dia diperoleh melalui pr....

Suara Muhammadiyah

26 December 2024

Wawasan

92 Tahun Pemuda Muhammadiyah Menuju Indonesia Emas Oleh: Rumini Zulfikar (Gus Zul), Penasehat PRM T....

Suara Muhammadiyah

3 May 2024

Tentang

© Copyright . Suara Muhammadiyah