YOGYAKARTA, Suara Muhammadiyah - Akademi Sejarah Muhammadiyah (ASM) tidak hanya menjadi ruang penguatan kapasitas akademik bagi para dosen sejarah di lingkungan Perguruan Tinggi Muhammadiyah dan 'Aisyiyah (PTMA), tetapi juga melahirkan gagasan strategis pembentukan Asosiasi Program Studi Sejarah PTM. Gagasan tersebut mengemuka dalam rapat yang diselenggarakan pada Ahad (12/7) di Student Dormitory Universitas Muhammadiyah Yogyakarta (UMY) dipimpin Widyastuti, M.Hum., wakil ketua Majelis Pustaka dan Informasi PP Muhammadiyah.
Forum yang dihadiri perwakilan program studi sejarah dan pendidikan sejarah dari berbagai PTM yang memiliki Prodi Pendidikan Sejarah seperti UM Palembang, UM Metro, UHAMKA, UM Purwokerto ini membahas peluang kolaborasi untuk memperkuat pendidikan sejarah di lingkungan Muhammadiyah. Selain menyepakati gagasan ini sebagai langkah awal pendirian asosiasi, peserta juga merancang sejumlah agenda strategis yang akan ditindaklanjuti dalam Akademi Sejarah Muhammadiyah Batch 2 di Surabaya pada Agustus mendatang.
Dalam diskusi, Ipong Jazimah M.Pd, Kaprodi Pendidikan Sejarah UM Purwokerto, menyoroti pentingnya penyesuaian kurikulum berbasis Outcome-Based Education (OBE) sekaligus mendorong hadirnya mata kuliah berciri khas Muhammadiyah. Pengalaman Universitas Muhammadiyah Purwokerto yang mengembangkan mata kuliah Sejarah Muhammadiyah serta rencana pembukaan mata kuliah Muhammadiyah Perspektif Sejarah pada 2027 dinilai dapat menjadi inspirasi bagi PTMA lain.
Sementara itu, Andi, M.Pd., Kaprodi Pendidikan Sejarah UHAMKA, menilai keberadaan asosiasi akan memperkuat promosi program studi sejarah yang saat ini menghadapi tren penurunan jumlah mahasiswa. Dr. Asep Daud Kosasih, dosen Pendidikan Sejarah UM Purwokerto, menekankan pentingnya penguatan kajian Sejarah Muhammadiyah Indonesia sebagai bagian dari pengembangan mata kuliah Al-Islam dan Kemuhammadiyahan (AIK).
Diskusi juga mengemukakan mengenai perbedaan karakter antara ilmu sejarah dan pendidikan sejarah. Dr. Yuvel Kusnoto mengingatkan bahwa keduanya memiliki landasan filsafat dan pedagogi yang berbeda sehingga pengembangan kurikulum perlu mempertimbangkan kekhasan masing-masing program studi. Senada dengan itu, Yusinta Tia Rusdiana dosen UM Palembang menilai Sejarah Muhammadiyah perlu dirumuskan sebagai penciri akademik yang terintegrasi dalam kurikulum PTMA.
Adapun Riswinarno dari Majelis Pustaka dan Informasi PP Muhammadiyah mengusulkan agar pembentukan asosiasi memperhatikan keberadaan Perkumpulan Program Studi Sejarah se-Indonesia (PPSI) sehingga sinergi antarlembaga tetap terbangun. Forum juga menyepakati bahwa pembahasan lebih lanjut mengenai penyelarasan kurikulum dan konsorsium program studi akan dilanjutkan dalam pertemuan yang direncanakan berlangsung di Surabaya, dengan melibatkan para rektor PTMA sebagai bagian dari penguatan jejaring kelembagaan. (diko/ghif)

