PCA Kota 3 Kudus Gelar Pengajian Silaturahim: Bedah Bahaya Hasad dan Solusi Penawarnya
KUDUS, Suara Muhammadiyah – Pimpinan Cabang 'Aisyiyah (PCA) Kota 3 Kudus kembali menggelar kegiatan bulanan Pengajian Silaturahim yang ditempatkan di Pimpinan Ranting 'Aisyiyah (PRA) Mlati Lor Kecamatan Kota Kabupaten Kudus. Bertempat di Masjid Sabilul Huda, acara yang berlangsung pada Ahad (2/8/2026) ini dihadiri oleh warga dan simpatisan 'Aisyiyah dari seluruh PRA se-Cabang Kota 3 Kudus.
Pengajian kali ini menghadirkan penceramah Ustadz Dr. Moh. In'ami, S.Ag., M.Ag., dosen UIN Sunan Kudus. Mengangkat tema kajian seputar penyakit hati khususnya Hasad, kajian berlangsung khidmat dan interaktif.
Dalam pemaparannya, Dr. Moh. In'ami menjelaskan bahwa hasad adalah sifat iri hati yang ditandai dengan keinginan agar nikmat yang ada pada diri orang lain hilang, serta ketidaksenangan saat melihat keberhasilan sesama. Mengutip penafsiran dari Kitab Tafsir At-Thabari dan QS. Ali 'Imran ayat 120, beliau menegaskan bagaimana sifat tidak suka dan iri juga pernah ditunjukkan oleh kaum kafir terhadap kaum muslimin. Beliau juga mengingatkan potongan ayat dalam QS. Al-Falaq:
“Wa min syarri haasidin idzaa hasad” (Dan dari kejahatan orang yang dengki apabila ia dengki).
"Setiap manusia telah diberikan takaran nikmat yang berbeda-beda oleh Allah SWT. Sifat hasad hanya akan memecah belah ukhuwah dan menumpuk dosa. Persoalan besar bangsa kita hari ini sebenarnya bermula dari putusnya sambungan (hubungan) kepada Allah, ibarat gelombang radio yang tidak pas," tutur Dr. In'ami.
Beliau juga membedakan antara hasad dengan Ghibthah. Ghibthah adalah keinginan untuk memiliki kebaikan atau keberhasilan seperti yang diterima orang lain tanpa ada maksud agar nikmat orang tersebut hilang, dan hal ini diperbolehkan dalam Islam.
Mengutip hadis Rasulullah SAW, beliau mengingatkan bahwa kita tidak boleh iri kecuali kepada dua kelompok orang:
-
Orang yang dianugerahi Al-Qur'an lalu mengamalkan serta mengajarkannya.
-
Orang yang dianugerahi harta kekayaan lalu menginfakkannya di jalan Allah.
Di samping itu, beliau menyinggung pentingnya keharmonisan dalam keluarga, di mana kelebihan dan kekurangan yang dimiliki oleh pasangan hendaknya bisa saling dihargai.
Sebagai langkah konkrit agar terhindar dari penyakit penyakit hati ini, Dr. Moh. In'ami membagikan 8 penawar dan langkah penanganan (terapi hati):
-
Fokus memperbaiki diri sendiri.
-
Mendoakan kebaikan saat melihat orang lain mendapatkan nikmat.
-
Menyadari dan mengingat bahwa setiap rezeki orang sudah dijatah oleh Allah.
-
Tidak membanding-bandingkan takaran diri sendiri dengan orang lain.
-
Mencari obat spiritual (saat hati sakit), karena Allah-lah yang menyediakan obatnya.
-
Banyak berzikir untuk menenangkan jiwa.
-
Gemar bersedekah sebagai sarana pembersih harta dan hati.
-
Istiqamah dalam bersyukur.
Sebagai penutup, beliau menyampaikan pesan kunci melalui akronim H-A-S-A-D sebagai pengingat untuk Hindari Hasad: (H) Hindari sifat dengki dan iri; (A) Ajegkan (istiqamahkan) rasa syukur atas nikmat Allah; (S) Sucikan hati dengan perbanyak istighfar dan zikir; (A) Amar ma'ruf dan kedepankan akhlak mulia; dan (D) Doakan selalu kebaikan bagi saudaramu.
Melalui pengajian silaturahim ini, diharapkan warga dan simpatisan 'Aisyiyah Cabang Kota 3 Kudus semakin kokoh dalam mempererat tali ukhuwah islamiyah, memiliki kebersihan hati, serta terhindar dari penyakit sosial maupun penyakit hati yang merusak kehidupan bermasyarakat. (WNAgustina).

