Baitul Arqam UMY, Momentum Teguhkan Budaya Organisasi Berkemajuan

Suara Muhammadiyah

19 August 2026

72
Foto Istimewa

Foto Istimewa

YOGYAKARTA, Suara Muhammadiyah - Baitul Arqam Dosen Tetap Universitas Muhammadiyah Yogyakarta (UMY) Tahun 2026 menjadi momentum bagi dosen UMY untuk kembali meneguhkan pemahaman terhadap nilai, filosofi, dan identitas Muhammadiyah dalam menjalankan peran di lingkungan perguruan tinggi. Sekretaris BPH (Badan Pembina Harian) UMY, H. Arba Riksawan Qomaru, S.E., menekankan bahwa keberadaan seseorang di institusi Muhammadiyah membawa tanggung jawab untuk memahami sekaligus merepresentasikan nilai-nilai yang menjadi dasar gerakan Muhammadiyah.

Menurutnya, dosen tidak hanya menjalankan fungsi akademik tetapi juga menjadi bagian dari dakwah Muhammadiyah melalui peran dan aktivitasnya di lingkungan kampus. Karena itu, pemahaman terhadap nilai Muhammadiyah perlu terus diperkuat agar setiap warga UMY dapat menjalankan tugasnya selaras dengan identitas dan tujuan institusi.

“Ketika kita berada dalam sebuah lembaga atau institusi yang ada label Muhammadiyah, mau tidak mau kita menjadi aparat dakwah. Sehingga siapapun yang berada di Universitas Muhammadiyah ini harus mau dan rela disebut sebagai muballigh dan muballighah,” ujar Arba, Rabu (19/8) di UMY Student Dormitory dalam Baitul Arqam bertema “Peneguhan Komitmen untuk Mewujudkan Budaya Organisasi Berkemajuan” itu.

Bagi Arba, Baitul Arqam menjadi ruang untuk kembali melihat dasar-dasar Muhammadiyah yang menjadi fondasi dalam menjalankan aktivitas di perguruan tinggi. Ia mengibaratkan kegiatan tersebut sebagai kesempatan bagi warga Muhammadiyah untuk “pulang ke rumah” dan kembali menengok nilai-nilai yang mungkin terabaikan karena kesibukan sehari-hari.

Ia menjelaskan Muhammadiyah memiliki sejumlah landasan yang menjadi pijakan dalam menjaga arah gerak organisasi. Di antaranya Muqaddimah Anggaran Dasar Muhammadiyah, Khittah Perjuangan Muhammadiyah, Pedoman Hidup Islami Warga Muhammadiyah, hingga Risalah Islam Berkemajuan. Berbagai landasan tersebut memiliki benang merah yang menegaskan pentingnya tauhid sebagai fondasi utama kehidupan warga Muhammadiyah.

“Kalau kita lihat pilar-pilar ideologi Muhammadiyah itu, garis merahnya sama. Intinya adalah bagaimana kita sebagai warga Muhammadiyah yang utama adalah menegakkan tauhidullah. Kemudian pilar-pilar itu juga untuk menjaga agar persatuan Muhammadiyah tetap dijalankan sesuai dengan apa yang dulu diciptakan oleh para pendiri,” tuturnya.

Pemahaman terhadap nilai tersebut, perlu terus diperbarui agar warga Muhammadiyah tidak hanya mengenal organisasi secara administratif tetapi juga memahami karakter yang perlu tercermin dalam kehidupan sehari-hari. Di mana keikhlasan, kejujuran, dan sikap tawadhu sebagai bagian dari karakter warga Muhammadiyah yang perlu dijaga.

Selain penguatan nilai organisasi, Baitul Arqam pun menjadi ruang bagi dosen untuk melakukan refleksi terhadap kehidupan keislaman masing-masing. Arba mendorong peserta menggunakan momentum tersebut untuk mengevaluasi praktik ibadah, termasuk kemampuan membaca Al-Qur’an, sebagai bagian dari upaya mewujudkan identitas UMY yang unggul sekaligus Islami.

“Jangan sampai kita punya moto unggul dan Islami, tetapi kita sendiri tidak bertanya keunggulan kita di mana dan Islamiyah kita di mana. Oleh karena itu, BPH betul-betul ingin menjaga agar nilai Islam dan Muhammadiyah itu diterapkan di Universitas Muhammadiyah Yogyakarta,” kata Arba.

Ke depan, ia berharap pembinaan melalui Baitul Arqam dapat terus dikembangkan secara lebih intensif sehingga menjadi ruang pembelajaran, refleksi, sekaligus penguatan komitmen bagi warga UMY dalam menjalankan peran akademik dan dakwah Muhammadiyah. 

Upskilling Hadapi Perubahan 

Sementara itu, Rektor UMY Prof. Dr. Achmad Nurmandi, M.Sc mengungkapkan bahwa perkembangan teknologi kecerdasan buatan dan perubahan kebutuhan dunia kerja menuntut perguruan tinggi untuk terus beradaptasi. Dirinya mendorong dosen untuk terus meningkatkan kompetensi atau upskilling agar pembelajaran yang diberikan tetap relevan dengan perkembangan zaman dan kebutuhan mahasiswa. 

Menurutnya perubahan tidak hanya terjadi pada teknologi, tetapi juga pada karakter mahasiswa dan kebutuhan pasar kerja. Karena itu, dosen perlu memahami perkembangan tersebut agar metode pembelajaran, kompetensi yang diberikan, hingga kurikulum dapat terus disesuaikan. 

“Perkembangan saat ini menuntut kita untuk terus memperbarui pengetahuan dan memahami perubahan situasi, termasuk kebutuhan pasar kerja. Sebagai dosen, kita harus siap melakukan upskilling, meningkatkan kompetensi, dan terus belajar. Kalau kita hanya bertahan dengan kemampuan yang ada dan tidak mau berkembang, kompetensi kita bisa tidak lagi relevan,” tegas Prof. Nurmandi.

Kebutuhan untuk memperkuat kompetensi lulusan juga terlihat dari hasil survei alumni UMY dalam beberapa tahun terakhir. Prof. Nurmandi menyebutkan berdasarkan survei yang ada, tren alumni yang belum bekerja berada pada kisaran 20 persen. Kondisi tersebut perlu menjadi bahan evaluasi bagi perguruan tinggi, terutama dalam memastikan kompetensi yang diberikan selama perkuliahan sesuai dengan kebutuhan dunia kerja.

Ia mencontohkan, lulusan bidang engineering tidak cukup hanya menguasai kemampuan teknis. Berdasarkan masukan dari pengguna lulusan, kemampuan komunikasi, presentasi, dan menyampaikan gagasan juga menjadi kompetensi yang perlu diperkuat. Sementara itu, lulusan bidang sosial pun perlu memiliki keterampilan teknis yang lebih spesifik agar mampu memenuhi kebutuhan pekerjaan yang semakin menuntut keahlian tertentu.

“Kemampuan teknis seperti ini yang harus dibekali kepada mahasiswa. Jadi, selain mendapatkan pembelajaran melalui perkuliahan, mahasiswa juga perlu diberikan kesempatan untuk mengembangkan kompetensi praktis yang sesuai dengan kebutuhan dunia kerja, terutama pada jenjang S1. Kalau tidak dibekali dengan kemampuan tersebut, alumni kita akan kesulitan bersaing di pasar kerja,” jelasnya.

Perubahan kebutuhan tersebut mendorong UMY untuk terus mengevaluasi kurikulum dan pengembangan program studi. Prof. Nurmandi menegaskan bahwa kurikulum tidak dapat dianggap sebagai sesuatu yang permanen, tetapi perlu diperbarui mengikuti perkembangan ilmu pengetahuan, teknologi, dan dunia kerja termasuk perkembangan AI yang mulai mengubah berbagai jenis pekerjaan.

“Tidak mungkin kurikulum itu taken for granted . Harus direvisi tiap tahun sesuai perkembangan, terutama perkembangan AI sekarang. Banyak perusahaan sudah menggunakan AI. Jadi kita harus melihat lagi, apa yang harus diberikan kepada mahasiswa, supaya kemampuan berpikir dan analisisnya tetap kuat,” tegas Prof. Nurmandi.

Perubahan ini juga harus diikuti dengan kesiapan dosen untuk memperluas kompetensinya. UMY tidak hanya mendorong mahasiswa memperoleh keterampilan yang relevan, tetapi juga menyiapkan pengembangan program studi yang menyesuaikan kebutuhan dunia kerja. 

Untuk itu, kesiapan beradaptasi menjadi bagian penting dari budaya organisasi berkemajuan yang perlu dibangun bersama oleh dosen. Kompetensi dosen yang terus diperbarui diharapkan dapat mendukung pembelajaran yang semakin relevan, sekaligus membekali lulusan UMY dengan kemampuan yang sesuai dengan kebutuhan dunia kerja. (NF)


Berita Lainnya

Berita Terkait

Tentang Politik, Pemerintahan, Partai, Dll

Berita

MALANG, Suara Muhammadiyah – Gerakan filantropi Muhammadiyah menjadi pilar penting mewujudkan ....

Suara Muhammadiyah

31 December 2024

Berita

SLEMAN, Suara Muhammadiyah – Suasana haru dan bangga menyelimuti halaman SD Muhammadiyah Condo....

Suara Muhammadiyah

13 August 2026

Berita

JAKARTA, Suara Muhammadiyah - Sehubungan dengan pengeboman rumah sakit Gaza oleh pasukan teroris Isr....

Suara Muhammadiyah

18 October 2023

Berita

TEMANGGUNG, Suara Muhammadiyah – Fakultas Kesehatan Masyarakat (FKM) Universitas Muhammadiyah ....

Suara Muhammadiyah

30 July 2025

Berita

MOJOKERTO, Suara Muhammadiyah — Apel penutupan Diklat Dewan Kerabat dan SMA Fourmula Youth Adv....

Suara Muhammadiyah

1 February 2026

Tentang

© Copyright . Suara Muhammadiyah