MALANG, Suara Muhammadiyah - Di tengah tantangan rendahnya kesadaran pajak generasi muda dan rasio pajak Indonesia yang masih stagnan di angka 8,42 persen, narasi birokrasi yang kaku dinilai tak lagi relevan. Menjawab urgensi tersebut, Universitas Muhammadiyah Malang (UMM) kembali menegaskan komitmennya sebagai Kampus Inovasi Mandiri dan Berdampak. Melalui Fakultas Ekonomi dan Bisnis (FEB), Kampus Putih menggelar bootcamp berskala internasional bertajuk "Digital Engagement That Moves People: Tax-fluencer Bootcamp" di Ruang Sidang Senat, Rabu (13/5). Acara hybrid ini sukses menyatukan puluhan mahasiswa dan pemikir muda dari berbagai perguruan tinggi se-Malang Raya untuk meramu kampanye digital perpajakan yang humanis.
Penyuluh Pajak Ahli Madya Kanwil DJP Jawa Timur III, Abdul Muis, mengungkapkan bahwa angka rasio pajak tersebut menjadi sinyal kuat perlunya pendekatan baru yang lebih mendalam untuk menggaet kepercayaan publik. Ia menilai, demi menyongsong visi besar Indonesia Emas 2045, generasi muda harus dibekali dengan 'imunitas kewarganegaraan' agar memandang pajak sebagai investasi masa depan, bukan sekadar beban finansial semata.
"Kita harus memastikan generasi ini memiliki pemahaman kuat bahwa pajak bukanlah beban, melainkan investasi bersama untuk masa depan kita," tuturnya.
Senada dengan hal tersebut, Public Relations Staff Direktorat Jenderal Pajak (DJP), Anum Intan Maulidi, menyoroti kendala komunikasi pemerintah yang kerap terjebak dalam jargon akademis atau 'bahasa langit'. Mengambil inspirasi dari program kebun komunitas Austin Grown di Chicago, ia mengibaratkan pajak layaknya gotong royong demi panen bersama. Oleh karena itu, edukasi pajak harus berani beralih menggunakan pendekatan yang lebih membumi agar mudah diterima oleh Gen Z dan Gen Alpha.
"Pemerintah harus merombak total cara mereka berbicara kepada masyarakat, beralih dari gaya menuntut menjadi gaya yang kolaboratif," jelasnya.
Untuk mengeksekusi gaya komunikasi kolaboratif tersebut, Digital Media Coordinator Build Chicago Amerika Serikat, Todd York, hadir membedah rahasia di balik kampanye digital yang menggerakkan massa. Ia memperkenalkan strategi upstream storytelling, yakni metode bercerita yang berfokus pada akar masalah. Menurutnya, kampanye digital yang sukses harus berani mengangkat suara masyarakat dari akar rumput dan menonjolkan keberhasilan komunitas, bukan sekadar memaparkan narasi krisis yang menakutkan.
"Kami percaya bahwa pihak yang paling dekat dengan suatu masalah adalah pihak yang paling mengerti solusinya, sehingga suara merekalah yang harus kita tonjolkan," ungkapnya.
Menyambut hangat inisiatif lintas negara ini, Dekan FEB UMM, M. Sri Wahyudi Suliswanto, Ph.D., menegaskan pentingnya peran media sosial dalam membentuk opini publik. Ia berharap para mahasiswa tidak hanya menguasai teori perpajakan di kelas, tetapi juga mempraktikkannya sebagai agen perubahan melalui konten-konten edukatif yang segar dan berdampak luas bagi masyarakat umum.
"Selain menjadi relawan pajak, kalian diharapkan juga mampu menjadi pemberi pengaruh yang mempromosikan literasi pajak kepada seluruh lapisan masyarakat," pungkas Wahyudi.
Pada akhirnya, transformasi komunikasi perpajakan bukanlah tugas satu entitas saja, melainkan butuh sinergi berbagai pihak. Melalui kolaborasi apik antara akademisi, praktisi pemerintah, dan pakar internasional ini, diharapkan lahir generasi kreator digital yang mumpuni. Generasi inilah yang kelak akan mengubah data rumit menjadi cerita yang memikat, membangun kesadaran kolektif, dan memastikan setiap warga negara merasa bangga telah berkontribusi nyata bagi pembangunan bangsa. (diko)

