Bekal Doa bagi Tamu Allah

Publish

16 May 2026

Suara Muhammadiyah

Penulis

0
137

Bekal Doa bagi Tamu Allah

Oleh: Mohammad Fakhrudin, Warga Muhammadiyah tinggal di Magelang

Banyak doa yang diberikan oleh keluarga, kerabat, teman, dan tetangga kepada orang yang akan beribadah haji. Calon haji pun membalas doa mereka. Bahkan, ketika akan berangkat, orang-orang yang akan ditinggalkannya didoakan juga. Berikut ini adalah dua doa di antaranya. 
Pertama,

 زَوَّدَكَ اللهُ التَّقْوَى وَغَفَرَ ذَنْبَكَ وَيَسَّرَ لَكَ الخَيْرَ حَيْثُمَا كُنْتَ
Kedua,
Kadang-kadang doa berikut ini juga diucapkan kepada calon haji
اَللّٰهُمَّ اجْعَلْ حَجَّنَاحَجًّامَبْرُوْرًا، وَعُمْرَتَنَاعُمْرَةًمَبْرُوْرًا،وَسَعْيَنَاسَعْيًامَشْكُوْرًا، وَذَنْبَنَاذَنْبًامَغْفُوْرًا، وَعَمَلَنَاعَمَلًاصَالِحًا مَقْبُوْلًا، وَتِجَارَتَنَاتِجَارَةً لَنْتَبُوْرَ، يَا عَالِمَ مَا فِى الصُّدُوْرِأَخْرِجْنَامِنَ الظُّلُمَاتِ إِلَى النُّوْرِ

“Ya Allah, jadikanlah kami haji yang mabrur. Umrah kami mabrur dan sai kami disyukuri. Dosa-dosa kami yang Engkau ampuni. Amal saleh kami yang Engkau terima serta perdagangan kami perdagangan yang tidak merugi. Wahai Dzat Yang Maha Mengetahui apa-apa yang terdapat di dalam hati kami, bebaskanlah kami dari kegelapan ini menuju ke arah cahaya (keimanan).”

Memahami Bekal Doa

Memahami isi dan sumber doa tersebut sangat penting, baik bagi orang yang mendoakan maupun calon haji yang didoakan. Hal ini dimaksudkan agar doa-doa yang diucapkan sesuai dengan tuntunan Rasulullah shallahu 'alaihi wa sallam. Jangan sampai doa yang ada tuntunannya tidak diucapkan, sedangkan doa yang tidak ada tuntunannya malah diucapkan.

Doa pertama terdapat di dalam HR at-Tirmizi bermakna “Semoga Allah membekalimu dengan takwa, mengampuni dosamu, dan memudahkanmu di dalam jalan kebaikan di mana pun kamu berada.” Dari doa tersebut kita ketahui bahwa calon haji didoakan agar mendapat bekal takwa. 

Bagi calon haji yang memahami isi doa tersebut, takwa merupakan kata kunci bekal beribadah haji. Oleh karena itu, mereka berusaha memahami pengertian takwa secara utuh lalu dengan sungguh-sungguh mengamalkannya. Dari usaha yang dilakukannya, mereka mengetahui misalnya bahwa takwa adalah mengerjakan perintah Allah Subhanahu wa Ta’ala dan meninggalkan semua larangan-Nya. 

Salah satu perintah Allah Subhanahu wa Ta'ala adalah berdoa sebagaimana dijelaskan di dalam Al-Qur’an surat Gafir (40):60

وَقَالَ رَبُّكُمُ ادْعُوْنِيْٓ اَسْتَجِبْ لَكُمْۗ اِنَّ الَّذِيْنَ يَسْتَكْبِرُوْنَ عَنْ عِبَادَتِيْ سَيَدْخُلُوْنَ جَهَنَّمَ دَاخِرِيْنَࣖ

Tuhanmu berfirman, “Berdoalah kepada-Ku, niscaya akan Aku perkenankan bagimu (apa yang kamu harapkan). Sesungguhnya, orang-orang yang menyombongkan diri tidak mau beribadah kepada-Ku akan masuk (neraka) Jahanam dalam keadaan hina dina.”

Sesuai dengan isi ayat tersebut, orang yang bertakwa melaksanakan perintah tersebut dengan penuh keyakinan bahwa doanya dikabulkan. Mereka sedikit pun tidak meragukan kebenaran isi ayat tersebut. 

Usaha memahami perintah berdoa dilanjutkan dengan usaha memahami syarat terkabulnya doa. Dari ikhtiarnya, mereka menemukan firman Allah Subhanahu wa Ta’ala di dalam Al-Qur’an misalnya surat al-Baqarah (2):168,

وَاِذَا سَاَلَكَ عِبَادِيْ عَنِّيْ فَاِنِّيْ قَرِيْبٌۗ اُجِيْبُ دَعْوَةَ الدَّاعِ اِذَا دَعَانِۙ فَلْيَسْتَجِيْبُوْا لِيْ وَلْيُؤْمِنُوْا بِيْ لَعَلَّهُمْ يَرْشُدُوْنَ

“Apabila hamba-hamba-Ku bertanya kepadamu (Nabi Muhammad) tentang Aku, sesungguhnya Aku dekat. Aku mengabulkan permohonan orang yang berdoa apabila dia berdoa kepada-Ku. Oleh karena itu, hendaklah mereka memenuhi (perintah)-Ku dan beriman kepada-Ku agar mereka selalu berada dalam kebenaran.”

Di dalam ayat tersebut disebutkan dua syarat dikabulkannya doa, yaitu (1) memenuhi perintah Allah Subhanahu wa Ta’ala dan (2) beriman kepada-Nya agar selalu berada dalam kebenaran. Dari ayat tersebut dipahami bahwa jika tidak taat pada Allah Subhanahu wa Ta’ala dan tidak beriman kepada-Nya, doanya tidak dikabulkan.  

Penelusuran tentang perintah berdoa di dalam Al-Qur’an dilanjutkan dengan penelusuran perintah berdoa di dalam  al-Hadis. Dari penelusurannya ditemukan perintah berdoa, antara lain, di dalam HR Ahmad, HR al-Bukhari, HR at-Tirmidzi, HR an-Nasa’i dari sahabat Abu Hurairah radiyallahu ‘anhu dijelaskan, 

قَالَ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ: لَيْسَ شَيْءٌ أَكْرَمَ عَلَى اللهِ تَعَالَى مِنَ الدُّعَاءِ.

Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, “Tidak ada sesuatu pun yang lebih mulia di sisi Allah Ta’ala daripada doa.” 

Dari sumber lain, misalnya Sunan at-Tirmizi, diketahui bahwa Abu Hurairah radiyallahu ‘anhu berkata bahwasanya Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,

مَنْ لَمْ يَسْأَلْ الله غَضَبَ اللهُ عَلَيْهِ

“Barang siapa yang tidak meminta kepada Allah, maka Allah akan memurkainya“. 

Dari kedua al-Hadis tersebut dapat kita pahami bahwa kita diperintah agar berdoa. Dengan merujuk kepada firman Allah Subhanahu wa Ta’ala di dalam Al-Qur’an surat Gafir (40):60 dan HR Ahmad, HR al-Bukhari, HR at-Tirmidzi, HR an-Nasa’i tersebut, jamaah (calon) haji pun wajib berdoa. 

Tentu saja syarat dikabulkannya doa sebagaimana dijelaskan di dalam surat al-Baqarah (2):168 wajib dipenuhi. Hal ini berarti bahwa mereka tidak hanya melaksanakan perintah berdoa dan perintah yang lain, tetapi juga meninggalkan tiga larangan sebagaimana dijelaskan di dalam surat al-Baqarah (2):197, yaitu (1) rafaṡ, (2) fusuq, dan jidal sebagaimana telah diuraikan di dalam “Bekal Takwa bagi Tamu Allah” yang dipublikasi di Suara Muhammadiyah online, 14 Mei 2026. 

Kesiapan Fisik dan Mental di Arofah

Bagi jamaah (calon) haji yang tinggal di tenda yang jauh dari tempat lontar jamarat, ibadah lontar jamarat memerlukan kesiapan fisik dan mental yang prima. Di antara mereka ada yang harus berjalan lebih dari 6 km. Namun, dengan bekal takwa, jarak jauh terasa dekat. Hati selalu bergembira sehingga tidak merasa lelah. Di balik semua itu mereka menyadarinya bahwa kondisi yang demikian merupakan pertolongan Allah Subhanahu wa Ta’ala. 

Jamaah (calon) haji ketika pelatihan manasik haji, pasti dibekali ilmu tentang bermacam-macam ibadah yang dilakukan selama di Arofah sejak pagi hingga menjelang magrib, yakni sekurang-kurangnya berzikir, berdoa, tadarus, dan/atau kajian. Namun, mungkin penjelasan itu tidak dilanjutkan dengan pengondisian agar semua ibadah itu dapat dilaksanakan dengan baik. 

Seharusnya, jamaah (calon) haji sejak belum berangkat ke tanah suci dipersiapkan secara fisik agar bugar dan dianjurkan berdoa agar memperoleh pertolongan Allah Subhanahu wa Ta’ala sehingga “terjaga” (tidak mengantuk apalagi tidur) ketika di Arofah. Boleh jadi, karena tidak ada arahan dari pembimbing sampai yang berkecil-kecil demikian, cukup banyak jamaah yang seketika sampai di Arofah dalam keadaan kelelahan, mengantuk, akhirnya tertidur pulas. 

Puncak haji adalah Arofah sebagaimana dijelaskan di dalam HR at-Tirmizi bahwa Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, 
الْحَجُّ عَرَفَةُ

“Haji itu adalah Arafah.” 

Isi doa kedua dapat memotivasi jamaah (calon) haji agar secara maksimal berusaha menjadi haji mabrur. Berkenaan dengan itu, mereka berusaha melaksanakan ibadah haji sesuai dengan tuntunan Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam sebab syarat diterimanya ibadah haji adalah sesuai dengan tuntunan Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam dan diawali dengan niat ikhlas karena Allah Subhanahu wa Ta’ala.

Jadi, sayang sekali jika pada puncak pelaksanaan ibadah haji jamaah mengantuk atau malah tidur sehingga tidak dapat beribadah secara maksimal.

Na’uzubillah!


Berita Lainnya

Berita Terkait

Tentang Politik, Pemerintahan, Partai, Dll

Wawasan

Berhijrah dengan Introspeksi  Oleh: Mohammad Fakhrudin Bagi sebagian umat Islam  Indones....

Suara Muhammadiyah

6 July 2024

Wawasan

Membangun Karakter di Era Digital: Antara Smart School dan Jeda Ceria Oleh: Ahsan Jamet Hamidi, Ket....

Suara Muhammadiyah

23 July 2025

Wawasan

Shalat untuk Penguatan Kepribadian Oleh: Mohammad Fakhrudin Dalam hubungannya dengan pendidikan ak....

Suara Muhammadiyah

13 January 2026

Wawasan

Revisi Tata Tertib DPR Merusak Sistem Bernegara Oleh: Sobirin Malian, Dosen Fakultas Hukum Universi....

Suara Muhammadiyah

8 February 2025

Wawasan

Jihad Digital 110 Tahun Suara Muhammadiyah Oleh Bayu Madya Chandra, SEI, Pengajar Ponpes Darul Arqa....

Suara Muhammadiyah

26 August 2025

Tentang

© Copyright . Suara Muhammadiyah