Belajar Menjaga Alam dan Mengolah Pangan dari Masyarakat Adat

Suara Muhammadiyah

Penulis

0
368
GreenFaith Indonesia

GreenFaith Indonesia

“Alam dan manusia itu satu rupa, satu kesatuan. Kalau alam rusak, manusia juga rusak.” Kalimat ini menjadi pijakan hidup masyarakat adat Sunda Wiwitan di Kampung Adat Cirendeu, Kota Cimahi, Jawa Barat. 

CIMAHI, Suara Muhammadiyah - Nilai tersebut pula yang dipelajari langsung oleh tim GreenFaith Indonesia saat melakukan kunjungan ke masyarakat adat Sunda Wiwitan Kampung Cireundeu Cimahi, Rabu (14/1/2026), untuk memahami bagaimana kearifan lokal merawat hutan, pangan, dan kehidupan secara berkelanjutan.

Kunjungan GreenFaith Indonesia ke Cirendeu bertujuan menjalin dialog dengan tokoh adat, menggali praktik kearifan lokal dalam pengelolaan lingkungan, serta membuka ruang kolaborasi antara Greenfaith dan masyarakat adat.

“Bagi kami, hutan adalah Ibu. Hidup manusia bergantung pada alam. Kalau Ibu dirawat, manusia akan sejahtera,” ujar Sudrajat selaku Girang Serat Kampung Adat Cirendeu, sekaligus pemandu wisata, saat berdiskusi bersama tim GreenFaith Indonesia.

Menurut Sudrajat, atau yang akrab disapa Mang Jajat ini, masyarakat Cirendeu hidup berdampingan secara harmonis antara penganut Sunda Wiwitan, warga muslim, maupun keyakinan lainnya. Nilai adat yang kini masih dijalankan mengajarkan pengendalian diri dan penghormatan terhadap alam, termasuk pantangan mengenakan pakaian berwarna merah serta tidak mengenakan alas kaki saat memasuki kawasan hutan atau mendaki Puncak Salam.

Koordinator Nasional GreenFaith Indonesia, Hening Parlan, menyampaikan bahwa GreenFaith bekerja pada isu lingkungan berbasis lintas iman dan secara konsisten belajar dari komunitas akar rumput, termasuk masyarakat adat dan penghayat kepercayaan. “Kami datang untuk belajar. Nilai-nilai masyarakat adat sangat penting untuk menjawab krisis iklim dan krisis ekologis hari ini,” kata Hening.

Ia menambahkan, pengakuan negara terhadap masyarakat adat menjadi bagian penting dari upaya perlindungan lingkungan. Kampung Adat Cirendeu sendiri telah memperoleh Surat Keputusan sebagai Kesatuan Masyarakat Hukum Adat (KMHA) pada 2024, yang memperkuat legalitas dan perlindungan wilayah adat di tengah tekanan pembangunan.

Selain menjaga hutan, masyarakat Cirendeu juga mempertahankan kedaulatan pangan dengan tidak bergantung pada beras. Sejak 2008, kampung ini dikenal sebagai contoh ketahanan pangan nasional melalui konsumsi rasi atau nasi singkong sebagai makanan pokok.

Dalam kunjungan tersebut, tim GreenFaith Indonesia juga menyimak langsung proses pembuatan rasi, mulai dari memotong, memarut, memeras, menjemur, menumbuk, hingga mengayak singkong menjadi bahan pangan siap konsumsi.

Tak hanya itu, tim juga mencicipi dan membawa pulang beragam olahan singkong khas Cirendeu, seperti cireng singkong, egg roll singkong, hingga dendeng kulit singkong.

Praktik ini menunjukkan bahwa pangan lokal bukan sekadar tradisi, tetapi bagian dari strategi hidup berkelanjutan.

Kunjungan ini diharapkan menjadi sarana pembelajaran sekaligus penguatan jejaring, sehingga nilai-nilai tradisi yang selaras dengan alam dapat menjadi inspirasi bagi gerakan lingkungan lintas iman.

“Kunjungan ini mengingatkan kita bahwa masyarakat adat adalah penjaga nilai-nilai ekologis yang sangat penting. Melindungi masyarakat adat berarti melindungi alam dan masa depan bersama,” tutup Hening. (diko)


Komentar

Berita Lainnya

Berita Terkait

Tentang Politik, Pemerintahan, Partai, Dll

Berita

YOGYAKARTA, Suara Muhammadiyah – Suasana pagi ini di halaman parkir SM Tower Malioboro tak sep....

Suara Muhammadiyah

24 November 2024

Berita

Perkuat Pendidikan Karakter Siswa Melalui Guru BK Se-Karisidenan Pekalongan PEKALONGAN, Suara Muham....

Suara Muhammadiyah

12 December 2023

Berita

Kerjasama dengan PMI Sleman dan Unisa Yogyakarta YOGYAKARTA, Suara Muhammadiyah - Keselamatan dan K....

Suara Muhammadiyah

18 October 2023

Berita

JAKARTA, Suara Muhammadiyah - Beberapa wilayah di Indonesia baru-baru ini dilanda bencana alam ....

Suara Muhammadiyah

13 May 2024

Berita

SUKABUMI, Suara Muhammadiyah - Berdasarkan hasil kegiatan seminar nasional terkait sosialisasi Kalen....

Suara Muhammadiyah

7 June 2024

Tentang

© Copyright . Suara Muhammadiyah