Beridulfitri untuk Becermin Diri

Publish

16 April 2026

Suara Muhammadiyah

Penulis

0
64
Foto Ilustrasi

Foto Ilustrasi

Beridulfitri untuk Becermin Diri

Oleh: Mohammad Fakhrudin, Warga Muhammadiyah

Bulan Ramadhan telah berakhir. Selama satu bulan, melalui ibadah Ramadhan, kita dididik dan dilatih (diklat) untuk menjadi orang yang bertakwa sebagaimana didjelaskan di dalam Al-Qur’an surat al-Baqarah (2):183,

يٰٓاَيُّهَا الَّذِيْنَ اٰمَنُوْا كُتِبَ عَلَيْكُمُ الصِّيَامُ كَمَا كُتِبَ عَلَى الَّذِيْنَ مِنْ قَبْلِكُمْ لَعَلَّكُمْ تَتَّقُوْنَۙ

“Wahai orang-orang yang beriman, diwajibkan atas kamu berpuasa sebagaimana diwajibkan atas orang-orang sebelum kamu agar kamu bertakwa.”

Kita pun menjalani diklat agar dapat bersyukur sebagaimana dijelaskan pada ujung surat al-Baqarah (2):185,

شَهْرُ رَمَضَانَ الَّذِيْٓ اُنْزِلَ فِيْهِ الْقُرْاٰنُ هُدًى لِّلنَّاسِ وَبَيِّنٰتٍ مِّنَ الْهُدٰى وَالْفُرْقَانِۚ فَمَنْ شَهِدَ مِنْكُمُ الشَّهْرَ فَلْيَصُمْهُۗ وَمَنْ كَانَ مَرِيْضًا اَوْ عَلٰى سَفَرٍ فَعِدَّةٌ مِّنْ اَيَّامٍ اُخَرَۗ يُرِيْدُ اللّٰهُ بِكُمُ الْيُسْرَ وَلَا يُرِيْدُ بِكُمُ الْعُسْرَۖ وَلِتُكْمِلُوا الْعِدَّةَ وَلِتُكَبِّرُوا اللّٰهَ عَلٰى مَا هَدٰىكُمْ وَلَعَلَّكُمْ تَشْكُرُوْنَ

“Bulan Ramadhan adalah (bulan) yang di dalamnya diturunkan Al-Qur’an sebagai petunjuk bagi manusia dan penjelasan-penjelasan mengenai petunjuk itu serta pembeda (antara yang hak dan yang batil). Oleh karena itu, siapa di antara kamu hadir (di tempat tinggalnya atau bukan musafir) pada bulan itu, berpuasalah. Siapa yang sakit atau dalam perjalanan (lalu tidak berpuasa), maka (wajib menggantinya) sebanyak hari (yang ditinggalkannya) pada hari-hari yang lain. Allah menghendaki kemudahan bagimu dan tidak menghendaki kesukaran. Hendaklah kamu mencukupkan bilangannya dan mengagungkan Allah atas petunjuk-Nya yang diberikan kepadamu agar kamu bersyukur.”

Setelah mengikuti diklat selama bulan Ramadhan, bagaimanakah takwa dan syukur kita: bertambah dari tahun yang lalu? Sama dengan tahun yang lalu atau malahan berkurang? Idealnya meningkat.

Pada bulan Syawal pun banyak amal saleh yang kita lakukan, terutama bersilaturahim.  Silaturahim anak kepada orang tua, silaturahim antarsaudara, antartetangga, antarteman menandai silaturahim Idulfitri khas Indonesia.

Silaturahim dengan Semua Manusia

Firman Allah Subhanahu wa Ta’ala yang di dalamnya terdapat perintah secara eksplisit memelihara silaturahim adalah surat an-Nisa (4):1

يٰٓاَيُّهَا النَّاسُ اتَّقُوْا رَبَّكُمُ الَّذِيْ خَلَقَكُمْ مِّنْ نَّفْسٍ وَّاحِدَةٍ وَّخَلَقَ مِنْهَا زَوْجَهَا وَبَثَّ مِنْهُمَا رِجَالًا كَثِيْرًا وَّنِسَاۤءًۚ وَاتَّقُوا اللّٰهَ الَّذِيْ تَسَاۤءَلُوْنَ بِهٖ وَالْاَرْحَامَۗ اِنَّ اللّٰهَ كَانَ عَلَيْكُمْ رَقِيْبًا

“Wahai, sekalian manusia! Bertakwalah kamu kepada Tuhanmu, yang telah menjadikan kamu dari satu diri; dan daripadanya dijadikan-Nya istrinya serta dari keduanya Dia memperkembang-biakkan laki-laki dan perempuan yang banyak. Bertakwalah kepada Allah, yang kamu tanya-bertanya tentang (nama)-Nya, dan (peliharalah) silaturahim (kekeluargaan). Sesungguhnya, Allah Pengawas atas kamu.”  

Di dalam Tafsir Al-Azhar karya Hamka, ayat tersebut dihubungkan dengan surat al-Hujurat (49):11

يٰٓاَيُّهَا الَّذِيْنَ اٰمَنُوْا لَا يَسْخَرْ قَوْمٌ مِّنْ قَوْمٍ عَسٰٓى اَنْ يَّكُوْنُوْا خَيْرًا مِّنْهُمْ وَلَا نِسَاۤءٌ مِّنْ نِّسَاۤءٍ عَسٰٓى اَنْ يَّكُنَّ خَيْرًا مِّنْهُنَّۚ وَلَا تَلْمِزُوْٓا اَنْفُسَكُمْ وَلَا تَنَابَزُوْا بِالْاَلْقَابِۗ بِئْسَ الِاسْمُ الْفُسُوْقُ بَعْدَ الْاِيْمَانِۚ وَمَنْ لَّمْ يَتُبْ فَاُولٰۤىِٕكَ هُمُ الظّٰلِمُوْنَ

“Wahai orang-orang yang beriman, janganlah suatu kaum mengolok-olok kaum yang lain (karena) boleh jadi mereka (yang diolok-olokkan itu) lebih baik daripada mereka (yang mengolok-olok) dan jangan pula perempuan-perempuan (mengolok-olok) perempuan lain (karena) boleh jadi perempuan (yang diolok-olok itu) lebih baik daripada perempuan (yang mengolok-olok). Janganlah kamu saling mencela dan saling memanggil dengan julukan yang buruk. Seburuk-buruk panggilan adalah (panggilan) fasik setelah beriman. Siapa yang tidak bertobat, mereka itulah orang-orang zalim.”

Dari penjelasan beliau dapat kita ketahui bahwa silaturahmi harus kita lakukan dengan semua manusia. Tafsir beliau tersebut kiranya dapat kita hubungkan juga dengan sabda Rasulullah shallahu ‘alaihi wa sallam sebagaimana terdapat di dalam HR Ibnu Majah berikut ini.

       يَا أَيُّهَا النَّاسُ أَفْشُوا السَّلَامَ وَأَطْعِمُوا الطَّعَامَ وَصِلُوا الْأَرْحَامَ وَصَلُّوا بِاللَّيْلِ وَالنَّاسُ نِيَامٌ تَدْخُلُوا الْجَنَّةَ بِسَلَامٍ. 

“Hai umat manusia, siarkanlah salam, hubungkanlah silaturahmi, menjamu makanlah, dan salat malamlah kamu pada waktu orang lain tidur, niscaya kamu akan masuk surga dengan selamat sejahtera.”

Di dalam hadis tersebut ditegaskan bahwa silaturahmi harus kita lakukan dengan semua manusia. Jika mengamalkannya, berarti kita telah memiliki sebagian tanda takwa. 

Silaturahim Idulfitri yang Ternoda

Sering silaturahim Idulfitri (yang popular dengan nama “halal bil halal”) ternoda oleh ucapan dan perbuatan sebagian pelakunya. Hal itu telah diuraikan pada “Meningkatkan Kebermaknaan Silaturahim” yang dipublikasi di Suara Muhammadiyah online 19 April 2024. 

Para pelaku “penodaan” itu rupanya tidak mengamalkan Islam secara kaffah. Mereka menyelenggarakan silaturahim berdasarkan perintah ajaran Islam. Di dalam acara itu biasanya ada pembacaan ayat Al-Qur’an. Namun, ketika berlangsung pembacaan Al-Qur’an, ada peserta yang tetap saja asyik ngobrol. Bahkan, lebih dari itu, ada di antara mereka yang tertawa lepas.

Tausiah pun disampaikan oleh ustaz atau ustazah. Di dalam tausiah disampaikan ayat Al-Qur’an dan al-Hadis. Namun, pada waktu yang bersamaan, ada peserta yang lebih memilih asyik “bertemu kangen”. Kadang-kadang hal itu terjadi karena ustaz atau ustazah yang memberikan tausiah tidak dapat melucu.

Di dalam acara terebut ada pembacaan doa menurut tuntunan Islam juga. Namun, ada peserta yang sedang merokok, tetap saja merokok. Mereka yang "ngobrol", tetap saja "ngobrol". Peserta yang asyik dengan hp-nya, tetap asyik membaca dan/atau menulis dan mengirimkan pesan lewat WA. Lebih memprihatinkan lagi, ada peserta yang sejak awal sampai akhir acara asyik dengan hp-nya.

Sering acara silaturahim Idulfitri “dilengkapi” dengan hiburan organ tunggal. Kadang-kadang pemain organ sekaligus penyanyi. Namun, peserta silaturahim pun diberi kesempatan tampil dengan lagu pilihannya masing-masing. Pada saat inilah sering terjadi juga “penodaan” terhadap keutamaan silaturahim Idulfitri. Lirik lagunya lebih banyak yang jauh dari ekspresi rasa syukur atas nikmat Allah Subhanahu wa Ta’ala. Apalagi, lirik lagu yang berisi penyesalan atas dosa dan ajakan mendekatkan diri pada Allah SubhanahuwaTa’ala! Dengan kata lain, sangat sedikit lirik lagu yang bertema amar makruf nahi mungkar. Hiburan itu lebih cenderung bersifat “hura-hura”. Rupanya hiburan benar-benar dilepaskan jauh dari isi tausiah. 

Kiranya hal itu dapat dipahami karena peserta silaturahim Idulfitri berlatar belakang agama yang bermacam-macam. Bahkan, peserta yang satu agama pun mempunyai “kedalaman” pemahaman agamanya yang berbeda. Tentu saja hal ini berdampak pada pengamalan yang berbeda pula. Namun, ikhtiar penumbuhkembangan kesadaran akan perlunya menjaga nilai religius silaturahim Idufitri harus menjadi komitmen bagi kita. 

Mensyukuri Nikmat

Dalam hubungannya dengan bersyukur, Yunahar Ilyasdi dalam buku Kuliah Akhlaq menguraikan tiga dimensi, yaitu (1) mengakui nikmat di dalam hati, (2) mengucapkannya dengan lisan, dan (3) menjadikannya sebagai sarana untuk taat kepada Allah Subhanahu wa Ta’ala. Ketiga-tiganya harus menyatu. 

Pengakuan di dalam hati bahwa semua nikmat berasal dari Allah Subhanahu wa Ta’ala hanya dapat dilakukan oleh muslim mukmin. Mereka beriman akan kebenaran mutlak firman-Nya, antara lain, yang terdapat di dalam surat an-Nahl (16):53,

وَمَا بِكُمْ مِّنْ نِّعْمَةٍ فَمِنَ اللّٰهِ ثُمَّ اِذَا مَسَّكُمُ الضُّرُّ فَاِلَيْهِ تَجْـَٔرُوْنَۚ

“Segala nikmat yang ada padamu (datangnya) dari Allah. Kemudian, apabila kamu ditimpa kemudaratan, kepada-Nyalah kamu meminta pertolongan.”

Mereka beriman juga akan kebenaran mutlak firman Allah Subhanahu wa Ta’ala di dalam surat Ibrahim (14):34,  

وَاٰتٰىكُمْ مِّنْ كُلِّ مَا سَاَلْتُمُوْهُۗ وَاِنْ تَعُدُّوْا نِعْمَتَ اللّٰهِ لَا تُحْصُوْهَاۗ اِنَّ الْاِنْسَانَ لَظَلُوْمٌ كَفَّارٌࣖ

“Dia telah menganugerahkan kepadamu segala apa yang kamu mohonkan kepada-Nya. Jika kamu menghitung nikmat Allah, niscaya kamu tidak akan mampu menghitungnya. Sesungguhnya manusia itu benar-benar sangat zalim lagi sangat kufur.”

Dengan merujuk kepada pendapat Yunahar Ilyas, kita ketahui bahwa bersyukur tidak cukup hanya mengakui nikmat di dalam hati dan mengucapkan kalimat tahmid (alhamdulilah), tetapi juga harus dilanjutkan dengan menggunakan nikmat itu sebagai sarana taat kepada Allah Subhanahu wa Ta’ala.
 
Beliau mengemukakan ilustrasi sebagai berikut. Muslim jika mempunyai kekayaan, di hatinya ada keyakinan bahwa kekayaan itu merupakan karunia dari Allah Subhanahu wa Ta’ala. Usaha yang dilakukannya merupakan sebab atau ikhtiar. Setelah meyakini demikian, lisannya lalu mengucapkan alhamdulillahi rabbil’alamin. Kemudian, kekayaan itu digunakan untuk keperluan yang diridai oleh Allah Subhanahu wa Ta’ala, baik untuk keperluan sendiri, keluarga, maupun umat, bukan untuk maksiat. 

Dari ilustrasi itu, kita dapat memahami bahwa jika diberi kenikmatan kepintaran, berarti kita harus mengakui di dalam hati bahwa kepintaran itu adalah nikmat dari Allah Subhanahu wa Ta’ala. Lalu, kita mengucapkan alhamdulillah dan menggunakan kepintaran itu untuk memintarkan orang lain, bukan untuk “minteri” (bahasa Jawa: membodohi, mengakali, atau merasa lebih pintar dari orang lain). Jika diberi kenikmatan ilmu sehingga dinyatakan oleh  (sebagian) "umat" sebagai ustaz atau ustazah, berarti kita harus mendidik umat agar memahami dan mencintai Islam sehingga menjadi rahmat bagi seluruh alam, bukan untuk menganggap dirinya paling alim apalagi membuat "jamaahnya" merasa paling benar. Jika diberi nikmat kepintaran di bidang hukum, kepintaran itu harus digunakan bukan untuk "mengakali" hukum, melainkan untuk menegakkan hukum. 

Allahu a’lam


Berita Lainnya

Berita Terkait

Tentang Politik, Pemerintahan, Partai, Dll

Wawasan

Mobile Apps Untuk Dakwah  Oleh: Tito Yuwono, Ph.D, Dosen Jurusan Teknik Elektro-Universit....

Suara Muhammadiyah

24 October 2025

Wawasan

Nilai-Nilai Kemanusiaan di Tengah Arus Modern Oleh: Rumini Zulfikar (Gus Zul), Penasehat PRM Troket....

Suara Muhammadiyah

28 September 2025

Wawasan

Tanwir IMM: Energi Kolektif untuk Negeri Oleh: Riyan Betra Delza, Ketua Umum DPP IMM Di tenga....

Suara Muhammadiyah

16 October 2025

Wawasan

80 Tahun Kemerdekaan dan Ilusi Keberhasilan Pembangunan Manusia Oleh: Abdul Halim, Ph.D., Wakil Rek....

Suara Muhammadiyah

17 August 2025

Wawasan

Perdebatan Etika dalam Islam Oleh: Donny Syofyan, Dosen Fakultas Ilmu Budaya Universitas Andal....

Suara Muhammadiyah

2 August 2024

Tentang

© Copyright . Suara Muhammadiyah