JAKARTA, Suara Muhammadiyah – Manusia sejagat niscaya mendamba sehat. Dalam konteks ini, simetris dengan mars Indonesia Raya: bangunlah jiwanya, bangunlah badanya.
“Dalam konteks yang seperti itulah kita sesungguhnya sehatnya fisik kita akan tergantung pada sehatnya jiwa kita,” tekan Muhammad Saad Ibrahim, Ketua Pimpinan Pusat Muhammadiyah.
Menurutnya, ketika jiwa sehat, maka akan memiliki implikasi luar biasa pada fisik. Salah satu parameternya yaitu jiwa yang penuh optimis, bukan jiwa yang pesimis.
“Jiwa yang tidak ada ruang rasa dengki, rasa iri, rasa dendam,” ujarnya, menguatkan substansi ajaran Islam yang mengajarkan untuk demikian.
“Ketika seorang muslim berhasil menata jiwanya lalu menjadi kuat, maka akan berpengaruh kepada sehatnya fisik,” tegasnya, Senin (6/7) dalam Tausiyah Kiai Saad di TVMu Channel.
Dalam konteks seperti itu, kelindan dengan ungkapan latin, mens sana in corpore sano", yakni di dalam tubuh yang sehat terdapat jiwa yang kuat. Demikian nukilan dari Penyair Romawi, Decimus Lunius Juvenalis.
Ditarik ke titik lebih menghunjam lagi, syahdan, Nabi Ibrahim berdoa kepada Allah dengan salah satu pintanya diberikan kesembuhan. “Kalau aku sakit, maka Tuhanlah yang menyembuhkan aku,” ucap Saad, menukil Qs Asy-Syuara ayat 80.
Al-Qur’an pun secara kebahasaan, diksi penggunaan untuk melukiskan kata kesembuhan itu menggunakan as-syifa. “Itu artinya yang pertama proses menyembuhkan, yang kedua kesembuhan itu sendiri,” jelasnya.
Dikerucutkan lagi oleh Saad menyoal kata asy-syifa tersebut. Menurutnya, ditemukan 4 kata serupa di pelbagai tempat; Qs Yunus ayat 57, Qs an-Nahl ayat 69, Qs al-Isra ayat 82, dan Qs Fushilat ayat 44.
“Menariknya dari empat kata syifa tadi, tiga surat Yunus, al-Isra, dan Fushilat, berkaitan dengan salah satu fungsi Al-Qur’an sebagai syifa,” urai Saad.
Sementara, surat an-Nahlnya, bertautan dengan salah satu fungsi madu sebagai syifa. Maknanya apa dari deret rangkaian surat tersebut? Syifa terkait dengan fungsi Al-Qur’an yang sangat berkorelasi untuk jiwa.
“Dengan kata lain, ketika kita berhubungan dengan Al-Qur’an, maka proses penyembuhan jiwa kita, bahkan kesembuhan itu akan tercipta pada tubuh kita,” tegasnya.
Sisi lain, madu, kata Saad, memiliki kepentingan untuk fisik. Tetapi, di antara dua variabel ini, Saad lebih mengaksentuasikan untuk konteks jiwa perlu mendapat atensi khusus, baru kemudian setelah itu dari sisi fisiknya.
“70% perhatian kita harus tertuju pada jiwa. Sedangkan 25%-nya tertuju kepada fisik kita,” sebutnya.
Tetapi, akumulasinya, berpokok pangkal pada Al-Qur’an itu sendiri. Yakni membiasakan berinteraksi seraya mendarasnya untuk mengambil cuilan ibrah (pelajaran positif) di dalamnya.
“Maka itu akan menjadikan proses untuk kita mendapatkan kesembuhan, mendapatkan kesehatan dalam konteks jiwa,” sebutnya, baru dilengkapi dengan upaya terkait dengan menjaga fisik. “Pastilah yang namanya kaum muslimin itu membaca Al-Qur’an,” imbuhnya.
Tetapi, muncul pertanyaan mendasar: apakah kemudian hal demikian diejawantahkan? “Insyaallah juga kita baca,” ucap Saad, menandaskan penting sekali lisan selalu membaca Al-Qur’an.
“Bacalah Al-Qur’an. Dan Insyaallah memberikan kekuatan kepada kita yang sangat dahsyat,” pungkasnya. (Cris)

