Berjuang Tanpa Jeda, Sehat Terlupa: Ironi Mubaligh Kita
Oleh: Saiev Dzaky El Kemal, S.H.,M.E, Wakil Direktur MBS Wanasari Brebes
Rasulullah shallallhu ‘alaihi wasallam bersabda:
ﺇِﻥَّ ﺍﻟﻠﻪ ﻻ ﻳَﻘْﺒِﺾُ ﺍﻟﻌِﻠْﻢَ ﺍﻧْﺘِﺰَﺍﻋَﺎً ﻳَﻨْﺘَﺰِﻋُﻪُ ﻣﻦ ﺍﻟﻌِﺒﺎﺩِ ﻭﻟَﻜِﻦْ ﻳَﻘْﺒِﺾُ ﺍﻟﻌِﻠْﻢَ ﺑِﻘَﺒْﺾِ ﺍﻟﻌُﻠَﻤَﺎﺀِ ﺣﺘَّﻰ ﺇﺫﺍ ﻟَﻢْ ﻳُﺒْﻖِ ﻋَﺎﻟِﻢٌ ﺍﺗَّﺨَﺬَ ﺍﻟﻨﺎﺱ ﺭﺅﺳَﺎً ﺟُﻬَّﺎﻻً ، ﻓَﺴُﺌِﻠﻮﺍ ﻓَﺄَﻓْﺘَﻮْﺍ ﺑِﻐَﻴْﺮِ ﻋِﻠْﻢٍ ﻓَﻀَﻠُّﻮﺍ ﻭَﺃَﺿَﻠُّﻮﺍ
Artinya :
“Sesungguhnya Allah Ta’ala tidak mengangkat ilmu dengan sekali cabutan dari para hamba-Nya, akan tetapi Allah mengangkat ilmu dengan mewafatkan para ulama. Ketika tidak tersisa lagi seorang ulama pun, manusia merujuk kepada orang-orang bodoh. Mereka bertanya, maka mereka (orang-orang bodoh) itu berfatwa tanpa ilmu. mereka sesat dan menyesatkan.
(H.R. Bukhori)
Keikhlasan dan tidak beristirahat adalah dua hal yang berbeda. Pengorbanan dalam dakwah memang melelahkan, tetapi menjaga kesehatan adalah napas perjuangan itu sendiri. Jihad tidak cukup hanya dengan ketulusan hati, ia juga membutuhkan kebugaran fisik dan kesehatan yang prima. Di tengah semangat beramal dan berdakwah yang terus menerus tanpa jeda, ada satu aspek penting yang kerap luput dari perhatian, yaitu kesehatan para mubaligh dan aktivis persyarikatan.
Fenomena ini bukan sekadar asumsi, namun fakta lapangan berbicara demikian. Banyak pejuang dakwah yang menghabiskan waktu, tenaga, dan pikirannya untuk kemaslahatan umat, tetapi tanpa disadari mengabaikan kemaslahatan dirinya sendiri. Mengajarkan kepada umat tentang pentingnya hifdz an nafs (menjaga jiwa), namun kesehatannya sendiri jadi terlupa. Jadwal ceramah yang padat, waktu istirahat yang terbatas, pola dan jenis makan yang tidak teratur saat kajian, serta minimnya standar kesehatan dalam pelaksanaan kajian menjadi faktor risiko yang nyata.
SOP kajian sehat dan menyehatkan dirasa perlu untuk disusun demi kemaslahatan jangka panjang. Tanpa adanya SOP ini, akibatnya, tidak sedikit mubaligh yang mengalami kelelahan kronis, gangguan kesehatan, bahkan penurunan produktivitas dakwah di usia muda. Padahal, keberlanjutan dakwah sangat bergantung pada kualitas hidup para da’inya. Mubaligh yang sehat akan mampu menyampaikan risalah Islam dengan lebih optimal, penuh energi, dan berkelanjutan jangka panjang. Dalam konteks ini, diperlukan langkah-langkah konkret dan terprogram untuk meningkatkan kualitas kesehatan para mubaligh dan aktivis persyarikatan. Setidaknya ada empat hal yang perlu mendapat perhatian serius: Sajian Sehat dan Thoyyib, Manajemen Waktu, Program Aktivitas Fisik Mubaligh, dan Fasilitas Pelayanan Khusus Mubaligh.
Pertama, aspek konsumsi. Makanan dan minuman yang disajikan dalam kajian sering kali lebih menonjolkan rasa dan kesan “memuliakan tamu”, tetapi kurang memperhatikan kualitas gizi. Tidak jarang kita jumpai hidangan tinggi gula, garam, dan lemak mewarnai isi piring sajian dalam acara kajian. Hal ini jika dikonsumsi secara rutin dapat berdampak buruk bagi kesehatan. Selain itu, kebiasaan menyajikan makanan berat di malam hari juga perlu dievaluasi. Bayangkan apabila ini terjadi pada diri mubaligh yang mempunyai jadwal kajian lebih dari sekali dalam sehari maka akan ada akumulasi faktor risiko terhadap kesehatannya. Edukasi tentang pola konsumsi sehat harus menjadi agenda bagi para penyelenggara kajian, sehingga penghormatan kepada mubaligh tidak hanya dalam bentuk jamuan yang enak, mahal dan mewah, tetapi juga dalam rangka menjaga kesehatan mereka.
Kedua, istirahat. Waktu pelaksanaan kajian sering kali kurang mempertimbangkan prinsip ihsan, khususnya dalam hal durasi. Berbicara berjam-jam di banyak tempat dalam sehari bisa menjadi faktor kelelahan yang menumpuk. Kajian yang berakhir terlalu larut malam dapat mengurangi waktu istirahat, baik bagi mubaligh maupun jamaah. Padahal, istirahat yang cukup adalah kunci menjaga stamina dan konsentrasi. Belum lagi ditambah jadwal rapat rutin persyarikatan serta mobilitas yang cukup tinggi. Dalam aktivitas semacam ini, bagian tubuh yang paling membutuhkan istirahat adalah otak. Penelitian membuktikan kurang tidur dapat mempengaruhi kesehatan fisik dan psikis seseorang. Oleh karena itu, pengelola kegiatan perlu lebih bijak dalam mengatur waktu, agar dakwah tetap berjalan tanpa mengorbankan kesehatan ujung tombak dakwah agama islam.
Ketiga, olahraga. Kepadatan aktivitas dakwah sering membuat mubaligh tidak memiliki waktu dan lingkungan yang mendukung untuk berolahraga. Padahal, aktivitas fisik sangat penting untuk menjaga kebugaran tubuh. Di sinilah perlunya inovasi. Masjid dan pusat kegiatan persyarikatan dapat menjadi ruang yang ramah kesehatan umat, terutama mubaligh, misalnya dengan menyediakan fasilitas olahraga sederhana atau mengadakan kegiatan olahraga bersama. Edukasi tentang pentingnya olahraga rutin juga perlu terus digalakkan. Sepertinya belum ada masjid yang juga membangun fitness centre di kawasan tempat ibadah atau pusat kegiatan keagamaan dan persyarikatan. Sebuah terobosan baru apabila mampu menggabungkan dua tempat ini (masjid dan gym), inilah salah satu model dakwah yang berkemajuan. Tempat kebugaran di sekitar masjid benar-benar berfungsi untuk menjaga kebugaran umat bukan diisi oleh para body builder yang orientasinya adalah kompetisi. Kalau belum bisa, minimal berikan fasilitas fitness member kepada para da’i, mubaligh dan aktivis dakwah.
Keempat, pelayanan kesehatan khusus. Akses terhadap layanan kesehatan yang memadai merupakan kebutuhan penting bagi para mubaligh dan pimpinan persyarikatan. Program pemeriksaan kesehatan rutin (medical check-up) perlu difasilitasi dengan serius, terutama melalui amal usaha di bidang kesehatan. Dengan adanya data kesehatan yang terpantau, langkah-langkah preventif dan kuratif dapat dilakukan lebih cepat dan tepat. Bahkan, jika diperlukan, pendampingan kesehatan secara khusus juga bisa diberikan kepada mubaligh yang memiliki kondisi tertentu.
4 poin sejatinya bukan hal yang sulit untuk diwujudkan jika ada kesadaran kolektif dan komitmen bersama. Kesehatan tidak boleh dipandang sebagai urusan individu semata, tetapi sebagai bagian dari tanggung jawab organisasi dan komunitas. Ketika kajian dan kegiatan persyarikatan mampu menghadirkan suasana yang menyehatkan—baik secara spiritual maupun fisik—maka dampak dakwah akan semakin luas dan mendalam. Lebih jauh lagi, upaya menjaga kesehatan para mubaligh adalah bagian dari ikhtiar menjaga eksistensi ilmu dan agama di muka bumi.
Dengan demikian, dakwah yang kita bangun adalah dakwah yang utuh—menguatkan iman, mencerdaskan akal, serta menyehatkan tubuh. Mubaligh yang sehat akan melahirkan umat yang kuat, dan pada akhirnya mempercepat laju dakwah yang mencerahkan dan berkemajuan. Karena itu, sudah saatnya kita menegaskan: dakwah bukan hanya tentang seberapa banyak kita berkorban, tetapi juga tentang bagaimana kita menjaga diri agar tetap mampu berkorban dalam jangka panjang. Di sinilah keseimbangan antara keikhlasan dan kesehatan menemukan maknanya yang sejati.

