BERSAMA-SAMA MENYELAMATKAN BUMI
Gelombang panas yang menyengat, cuaca ekstrem yang tak menentu, dan lapisan es yang kian menipis di kutub adalah segelintir dari sekian banyak alarm yang dibunyikan oleh planet kita. Bumi tak lagi sekadar memanas, ia mulai “mendidih,” dan isu perubahan iklim telah berubah dari sekadar wacana ilmiah menjadi krisis. Dunia, tak terkecuali Indonesia, tengah menghadapi kenyataan pahit krisis perubahan iklim.
Intinya, perlu segera ada upaya untuk menyelamatkan bumi. Salah satunya adalah kesadaran penggunakan energi bersih dan terbarukan. Dalam Pidato Penyampaian pengantar pemerintah atas RUU Tentang APBN Tahun Anggaran 2026, 15/8/2025, Presiden Republik Indonesia Prabowo Subianto kembali menegaskan komitmen Indonesia menjadi pelopor energi bersih dunia. Prabowo menargetkan transisi menuju 100 persen pembangkit listrik dari energi baru dan terbarukan (EBT) dalam kurun waktu 10 tahun atau lebih cepat dari target global 2060. (www.dpr.go.id).
Walau demikian, transisi energi ini tidak mudah. Apalagi bagi negara berkembang seperti Indonesia yang masih kaya sumber daya alam. Semua harus dilakukan secara bertahap. Tidak dapat langsung melompat sebagaimana yang diinginkan para penggiat iklim di negara yang telah maju dan kaya.
Untuk itu, Majelis Lingkungan Hidup Pimpinan Pusat Muhammadiyah meluncurkan Program 1000 Cahaya. Lebih dari sekadar instalasi panel surya, program ini diibaratkan sebagai aksi “menghidupkan sedekah energi”—sebuah kontribusi nyata untuk menyelamatkan bumi yang dicanangkan untuk dijalankan secara nasional hingga ke tingkat Ranting. Program ini tidak hadir dalam ruang hampa. Ia merupakan respons serius Muhammadiyah terhadap misi nasional menuju emisi nol bersih (net-zero emission) pada 2050.
Selengkapnya dapat membeli Majalah Suara Muhammadiyah digital di sini Majalah SM Digital Edisi 24/2025

