BONE, Suara Muhammadiyah — Pimpinan Daerah Muhammadiyah (PDM) Kabupaten Bone mendorong seluruh Pimpinan Cabang Muhammadiyah (PCM) di wilayahnya segera mengaktifkan data organisasi melalui aplikasi SatuMu. Langkah tersebut menjadi bagian dari penguatan tata kelola organisasi berbasis digital sekaligus upaya memastikan data cabang, ranting, anggota, serta struktur organisasi Muhammadiyah terdokumentasi secara terintegrasi.
Dorongan itu disampaikan dalam Bimbingan Teknis (Bimtek) Agen dan Verifikator SatuMu yang digelar PDM Kabupaten Bone setelah pelantikan Pimpinan Cabang Muhammadiyah (PCM) se-Kabupaten Bone, bertempat di Kampus Universitas Muhammadiyah Bone (UNIM Bone), Ahad, 20 September 2026.
Kegiatan tersebut diikuti unsur PDM Kabupaten Bone, Pimpinan Cabang Muhammadiyah (PCM), Pimpinan Ranting Muhammadiyah (PRM), dan peserta yang mendapat tugas sebagai agen dan verifikator SatuMu.
Ketua PDM Kabupaten Bone, Drs. Andi Haedar, M.M., dalam sambutannya menekankan pentingnya kembali menempatkan aktivitas organisasi pada prinsip-prinsip dasar Muhammadiyah yang bersumber dari Al-Qur'an dan Sunnah.
Ia mengingatkan agar warga Muhammadiyah dapat membedakan antara praktik yang memiliki landasan dalam ajaran Islam dengan tradisi yang berkembang di masyarakat. Menurutnya, pemahaman keagamaan perlu terus diperkuat melalui pengajian dan pembinaan yang merujuk pada sumber ajaran Islam.
Andi Haedar juga mengajak warga Muhammadiyah menjaga persatuan di tengah perbedaan pemahaman keagamaan. Menurutnya, Muhammadiyah perlu terus mengembangkan dakwah yang mencerahkan dan tidak memperlebar perbedaan di tengah masyarakat.
Sementara itu, Ketua Majelis Pustaka dan Informasi (MPI) Pimpinan Wilayah Muhammadiyah (PWM) Sulawesi Selatan, Dr. Hadisaputra, M.Si., menjelaskan bahwa SatuMu merupakan bagian dari upaya membangun basis data Muhammadiyah yang terintegrasi.
Hadisaputra mengatakan, digitalisasi data tidak sekadar berkaitan dengan penggunaan aplikasi, tetapi menjadi instrumen untuk memperkuat kelembagaan dan memastikan aktivitas organisasi dapat dipetakan secara lebih akurat.
Ia menyebutkan, data organisasi Muhammadiyah perlu terus diperbarui mulai dari tingkat pusat, wilayah, daerah, cabang hingga ranting. Karena itu, keberadaan agen dan verifikator menjadi penting dalam memastikan data yang masuk ke dalam sistem dapat diverifikasi dan dipertanggungjawabkan.
Menurut Hadisaputra, setiap cabang perlu memiliki agen dan verifikator. Ketua dan sekretaris dapat menjalankan fungsi tersebut apabila memiliki kemampuan yang memadai dalam menggunakan sistem digital. Namun, cabang juga dapat melibatkan kader atau anggota yang lebih terbiasa dengan teknologi.
“Yang kita lakukan hari ini adalah upaya untuk menjawab persoalan organisasi dengan tindakan,” kata Hadisaputra.
Ia menargetkan seluruh cabang Muhammadiyah dapat aktif dalam SatuMu pada akhir September 2026. Selanjutnya, aktivasi ranting ditargetkan dapat diselesaikan sebelum agenda nasional Muhammadiyah pada November mendatang.
Hadisaputra juga menjelaskan bahwa proses digitalisasi organisasi berkaitan dengan pembaruan data keanggotaan Muhammadiyah. Anggota yang telah memiliki Nomor Baku Muhammadiyah diarahkan melakukan migrasi ke sistem keanggotaan elektronik, sedangkan agen dan verifikator bertugas membantu proses verifikasi sesuai mekanisme yang ditetapkan.
Menurutnya, digitalisasi tersebut diharapkan membuka akses yang lebih luas bagi masyarakat untuk mengenal dan bergabung dengan Muhammadiyah, sekaligus memudahkan organisasi melakukan pembinaan setelah seseorang menjadi anggota.
Ia menegaskan bahwa keanggotaan dan kaderisasi merupakan dua hal yang perlu dibedakan. Setelah pintu keanggotaan terbuka, organisasi tetap memiliki tanggung jawab melakukan pembinaan melalui pengajian, Baitul Arqam, dan berbagai kegiatan perkaderan.
Dalam kesempatan yang sama, Hadisaputra mengaitkan penguatan SatuMu dengan proses pelembagaan amal usaha dan organisasi Muhammadiyah. Menurutnya, keberlangsungan Muhammadiyah tidak hanya ditentukan oleh figur pimpinan, tetapi juga oleh kekuatan institusi dan sistem organisasi yang mampu berjalan secara berkelanjutan.
“Jangan hanya membuka pintunya. Setelah pintu terbuka, tugas kita adalah melakukan pembinaan,” ujarnya.
Wakil Ketua PDM Bone sekaligus Rektor Universitas Muhammadiyah Bone, Dr. H. Muhammad Jafar, S.Pd., M.Pd., menyambut pelaksanaan Bimtek tersebut. Ia berharap penguatan sistem organisasi melalui SatuMu dapat diikuti dengan peningkatan aktivitas pembinaan di tingkat cabang dan ranting.
Muhammad Jafar juga mengajak jajaran Muhammadiyah di Bone memperkuat pengajian dan kegiatan pembinaan sebagai sarana meningkatkan keimanan sekaligus mempererat persaudaraan warga persyarikatan.
“Muamadiyah itu bukan mencari kenalan, tetapi mencari kawan,” ujarnya.
Ia menilai penguatan organisasi perlu dilakukan secara bersama-sama agar Muhammadiyah di Kabupaten Bone semakin berkembang dan mampu memberikan kontribusi bagi masyarakat.
Pelaksanaan Bimtek SatuMu di Soppeng, PWM Sulsel menugaskan Tim Pendamping Bimtek SatuMu yang terdiri atas Hadisaputra, Arinal Hidayah, Ikhwan Aulia, dan Andi Asywid Nur.
Bimtek Agen dan Verifikator SatuMu di Bone, menargetkan proses pendataan organisasi tidak berhenti pada penginputan data, tetapi berlanjut menjadi sistem yang mendukung pembinaan, kaderisasi, administrasi, dan penguatan kelembagaan Muhammadiyah secara berkelanjutan.

