Bukan Milik Kita

Suara Muhammadiyah

17 July 2026

168
Foto Ilustrasi

Foto Ilustrasi

Bukan Milik Kita

Oleh: Mohammad Fakhrudin

Upacara pemberangkatan jenazah merupakan salah satu tradisi yang lazim diselenggarakan oleh keluarga yang terkena musibah kematian (Jawa: kesripahan). Dalam bahasa cakapan keluarga tersebut sering disebut sahibulmusibah. Di dalam acara itu ada sambutan wakil keluarga dan petakziah wakil masyarakat. Kadang-kadang ada juga sambutan dari petakziah wakil instansi.

Di dalam sambutan wakil keluarga sering terdapat ucapan misalnya, “Kami benar-benar merasa kehilangan kakek, ayah, saudara tercinta.” 

Adapun tuturan yang digunakan oleh wakil petakziah misalnya,

“Kita sungguh merasa kehilangan atas meninggalnya Pak Saleh. Beliau bukan hanya teman, sesepuh, melainkan juga sosok teladan.” 

Biasanya pembicara mendahului sambutannya dengan. mengucapkan,

اِنَّا لِلّٰهِ وَاِنَّآ اِلَيْهِ رٰجِعُوْنَۗ

“Sesungguhnya kami adalah milik Allah dan sesungguhnya hanya kepada-Nya kami akan kembali.”

Contoh Ucapan Takziah

Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam memberikan tuntunan ucapan takziah sebagaimana terdapat di dalam HR al-Bukhari dan Muslim, yakni

إِنَّ لِلَّهِ مَا أَخَذَ ، وَلَهُ مَا أَعْطَى ، وَكُلٌّ عِنْدَهُ بِأَجَلٍ مُسَمًّى ، فَلْتَصْبِرْ وَلْتَحْتَسِبْ

“Sesungguhnya hanya milik Allah apa yang Dia ambil dan milik-Nya pula apa yang Dia berikan. Segala sesuatu di sisi-Nya memiliki ketetapan waktu yang telah ditentukan. Oleh karena itu, hendaklah engkau bersabar dan mengharapkan pahala (dari musibah tersebut).” 

Di dalam ucapan yang ditujukan kepada sahibulmusibah tersebut terdapat pesan Rasulullah shalalallahu ‘alaihi wa sallam bahwa sesungguhnya orang yang meninggal adalah milik Allah Subhanahu wa Ta’ala dan Dia juga yang mengambilnya kembali. Orang yang diberi kehidupan (masih hidup) merupakan milik-Nya pula. 

Pesan lain yang terdapat juga di dalam ucapan tersebut adalah nasihat agar sahibulmusibah bersabar dan berharap pahala dari musibah yang dihadapinya. Nasihat agar bersabar sejalan dengan isi firman Allah Subhanahu wa Ta’ala di dalam Al-Qur’an misalnya surat Luqman (31): 17,

يَـٰبُنَىَّ أَقِمِ ٱلصَّلَوٰةَ وَأْمُرْ بِٱلْمَعْرُوفِ وَٱنْهَ عَنِ ٱلْمُنكَرِ وَٱصْبِرْ عَلَىٰ مَآ أَصَابَكَ ۖ إِنَّ ذَٰلِكَ مِنْ عَزْمِ ٱلْأُمُورِ

“Hai anakku, dirikanlah shalat dan suruhlah (manusia) mengerjakan yang baik dan cegahlah (mereka) dari perbuatan yang mungkar dan bersabarlah terhadap apa yang menimpamu. Sesungguhnya, yang demikian itu termasuk hal-hal yang diwajibkan (oleh Allah).”

Nasihat berharap pahala sejalan dengan firman-Nya di surat al-Qashshah (28): 80

وَقَالَ ٱلَّذِينَ أُوتُوا۟ ٱلْعِلْمَ وَيْلَكُمْ ثَوَابُ ٱللَّهِ خَيْرٌۭ لِمَنْ ءَامَنَ وَعَمِلَ صَـٰلِحًۭا وَلَا يُلَقَّىٰهَآ إِلَّا ٱلصَّـٰبِرُونَ

“Kecelakaan yang besarlah bagimu. Pahala Allah adalah lebih baik bagi orang-orang yang beriman dan beramal shalih, dan tidak diperoleh pahala itu, kecuali oleh orang-orang yang sabar.”

Banyak sekali pahala yang disediakan bagi orang-orang sabar sebagaimana dijelaskan di dalam Al-Qur’an misalnya di dalam surat az-Zumar (39): 53, al-Baqarah (2): 153, Ali Imran (3): 120 dan 200, al-Qashash (28): 54, dan Hud (11): 11. Jadi, isi ucapan takziah yang diajarkan oleh Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam sangat lengkap dan berisi nasihat yang sangat mendalam. 

Pada praktiknya, sedikit sekali petakziah yang mengucapkannya. Ucapan yang lebih popular adalah,

 اِنَّا لِلّٰهِ وَاِنَّآ اِلَيْهِ رٰجِعُوْنَۗ

Ada kesamaan pesan yang disampaikan di dalam tuturan tersebut, yakni manusia merupakan milik Allah Subhanahu wa Ta’ala. Dari ucapan takziah yang diajarkan oleh Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam kita ketahui juga bahwa segala sesuatu di sisi-Nya memiliki ketetapan waktu yang telah ditentukan. Pesan ini berisi nasihat kepada sahibulmusibah bahwa masa hidup telah ditentukan. Dengan demikian, siapa pun dapat meninggal pada waktu yang ditetapkan dan tidak dapat ditunda atau dimajukan sebagaimana dijelaskan di dalam Al-Qur’an misalnya surat al-A’raf (7): 34

وَلِكُلِّ اُمَّةٍ اَجَلٌۚ فَاِذَا جَاۤءَ اَجَلُهُمْ لَا يَسْتَأْخِرُوْنَ سَاعَةً وَّلَا يَسْتَقْدِمُوْنَ

“Setiap umat mempunyai ajal (batas waktu). Jika ajalnya tiba, mereka tidak dapat meminta penundaan sesaat pun dan tidak dapat (pula) meminta percepatan.”

Setiap muslim harus mempunyai keyakinan bahwa dunia dan segala isinya adalah milik Allah Subhanahu wa Ta’ala sebagaimana dijelaskan di dalam Al-Qur'an misalnya surat al-Baqarah (2): 156 (sebagaimana telah dikutip) dan surat al-Mukminun (23): 84 dan 85,

قُلْ لِّمَنِ الْاَرْضُ وَمَنْ فِيْهَآ اِنْ كُنْتُمْ تَعْلَمُوْنَ

"Katakanlah (Nabi Muhammad), “Milik siapakah bumi dan semua yang ada di dalamnya jika kamu mengetahui?”

سَيَقُوْلُوْنَ لِلّٰهِۗ قُلْ اَفَلَا تَذَكَّرُوْنَ

"Mereka akan menjawab, “Milik Allah.” Katakanlah, “Apakah kamu tidak ingat?”

Selain memberikan tuntunan ucapan takziah kepada sahibulmusibah, Rasulullah shallallahu 'alaihi wa sallam juga memberikan tuntunan kepada kita untuk mendoakan orang yang meninggal sebagaimana terdapat di dalam HR Muslim dan HR an-Nasa’i, yakni

  اللَّهُمَّ اغْفِرْ لَهُ وَارْحَمْهُ وَاعْفُ عَنْهُ وَعَافِهِ وَأَكْرِمْ نُزُلَهُ وَوَسِّعْ مُدْخَلَهُ وَاغْسِلْهُ بِمَاءٍ وَثَلْجٍ وَبَرَدٍ وَنَقِّهِ مِنَ الْخَطَايَا كَمَا يُنَقَّى الثَّوْبُ الأَبْيَضُ مِنَ الدَّنَسِ وَأَبْدِلْهُ دَارًا خَيْرًا مِنْ دَارِهِ وَأَهْلاً خَيْرًا مِنْ أَهْلِهِ وَزَوْجًا خَيْرًا مِنْ زَوْجِهِ وَقِهِ فِتْنَةَ الْقَبْرِ وَعَذَابَ النَّارِ

 "Ya Allah, Ampunilah dia (mayat) berilah rahmat kepadanya, maafkanlah dia dan selamatkanlah dia (dari beberapa hal yang tidak disukai), dan tempatkanlah di tempat yang mulia (Surga), luaskan kuburannya, mandikan dia dengan air salju dan air es. Bersihkan dia dari segala kesalahan, sebagaimana Engkau membersihkan baju yang putih dari kotoran, berilah rumah yang lebih baik dari rumahnya (di dunia), berilah keluarga (atau istri di Surga) yang lebih baik daripada keluarganya (di dunia), istri (atau suami) yang lebih baik daripada istrinya (atau suaminya), jagalah dia dari siksa kubur dan Neraka lindungilah ia dari siksa kubur atau siksa api neraka."

Husnuzan pada Allah

Allah Subhanahu wa Ta’ala senantiasa pasti memberikan yang terbaik kepada hamba-Nya. Namun, cukup banyak muslim yang belum menyadarinya, terutama ketika tertimpa musibah kematian. Sangat sedikit di antara mereka ketika menyampaikan sambutan mengucapkan, 

“Keluarga telah berikhtiar secara maksimal demi kesembuhan Pak Saleh. Namun, Allah Subhanahu wa Ta’ala menakdirkan beliau menghadap pada hari ini. Kami yakin bahwa inilah yang terbaik dari Allah Subhanahu wa Ta’ala. Kami beriman bahwa apa pun yang terbaik menurut Allah Subhanahu wa Ta’ala, pasti terbaik bagi kita. Namun, yang terbaik menurut kita, belum tentu terbaik bagi-Nya. 

Kami beriman bahwa Pak Saleh adalah milik-Mu, ya, Allah. Oleh karena itu, kami ikhlas pada hari ini  Engkau mengambilnya kembali.

Melalui kesempatan ini kami mohon dukungan doa para petakziah agar beliau memperoleh ampunan dan segala amal salehnya diterima. Aamiin."

Setiap muslim wajib husnuzan kepada Allah Subhanahu wa Ta’ala. Keyakinan itu sejalan dengan firman-Nya di dalam surat al-Baqarah (2): 216

وَعَسٰٓى اَنْ تَكْرَهُوْا شَيْـًٔا وَّهُوَ خَيْرٌ لَّكُمْۚ وَعَسٰٓى اَنْ تُحِبُّوْا شَيْـًٔا وَّهُوَ شَرٌّ لَّكُمْۗ وَاللّٰهُ يَعْلَمُ وَاَنْتُمْ لَا تَعْلَمُوْنَࣖ

“Boleh jadi kamu membenci sesuatu, padahal itu baik bagimu dan boleh jadi kamu menyukai sesuatu, padahal itu buruk bagimu. Allah mengetahui, sedangkan kamu tidak mengetahui.”

Husnuzan kepada Allah Subhanahu wa Ta’ala sejalan dengan sabda Rasul-Nya. Imam Ahmad meriwayatkan dari Abu Hurairah bahwasanya Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,

قال اللهُ تَعَالَى : أَنَا عِنْدَ ظَنِّ عَبْدِي بِي، إِنْ ظَنَّ بِي خَيْرًا فَلَهُ، وَإِنْ ظَنَّ شَرًّا فَلَهُ

“Allah Ta’ala berfirman, ‘Aku sesuai persangkaan hamba-Ku. Jika ia bersangka baik kepada-Ku, (kebaikan) itu untuknya dan jika ia bersangka buruk, (keburukan) itu untuknya.” (HR Ahmad)

Husnuzan kepada Allah Subhanahu wa Ta’ala sejalan pula dengan sabda Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam berikut ini. 

إِنَّ الْمُؤْمِنَ أَحْسَنَ الظَّنَّ بِرَبِّهِ فَأَحْسَنَ الْعَمَلَ وَإِنَّ الْفَاجِرَ أَسَاءَ الظَّنَّ بِرَبِّهِ فَأَسَاءَ الْعَمَلَ
.
“Sesungguhnya mukmin berbaik sangka kepada Rabbnya sehingga ia melakukan amal yang baik. Sebaliknya, orang yang durhaka bersikap buruk sangka kepada Rabbnya sehingga ia pun melakukan amalan yang buruk.” 

Kematian orang tua, suami, istri, anak, atau saudara bagi bagian besar orang tidak menyenangkan. Oleh karena itu, di antara keluarga mereka ada yang sedih berkepanjangan. Mereka benar-benar merasa kehilangan. Perilaku yang demikian sesuaikah dengan akidah muslim? Bukankah mereka milik Allah Subhanahu wa Ta’ala?

Semestinya, jika di antara keluarga ada yang meninggal, kita tidak merasa kehilangan sebab mereka bukan milik kita. Mereka milik Allah Subhanahu wa Ta’ala dan Dia juga yang telah mengambilnya kembali. Berkenaan dengan itu, kita harus ikhlas melepasnya. Jika mengatakan kehilangan, berarti kita merasa memiliki.  

Allahu a’lam


Berita Lainnya

Berita Terkait

Tentang Politik, Pemerintahan, Partai, Dll

Wawasan

Apakah Era Kedigdayaan AS akan Segera Berakhir?  Oleh: Buya Anwar Abbas, Pengamat Sosial, Ekon....

Suara Muhammadiyah

12 March 2026

Wawasan

Guru Hebat, Menginspirasi dan Bermutu  Oleh: Hendra Apriyadi, M.Pd, Dosen Pendidikan Bahasa da....

Suara Muhammadiyah

6 November 2024

Wawasan

How to Win Friends: Resep Persahabatan ala Dale Carnegie Oleh: Donny Syofyan/Dosen Fakultas Ilmu Bu....

Suara Muhammadiyah

17 February 2025

Wawasan

Benarkah Surah Asy-Syu’ara Surah Para Pemusik? Muhammad Zakaria Darlin, Lc., M.A., Ph.D, ....

Suara Muhammadiyah

18 May 2024

Wawasan

Refleksi Milad Ke-93 Pemuda Muhammadiyah dan Spirit Diaspora Kader Oleh: Ilham Kurniawan, S.IP, Mah....

Suara Muhammadiyah

2 May 2025

Tentang

© Copyright . Suara Muhammadiyah