Bukan Sekadar Konsolidasi Spiritual, tapi Perjuangan Membangun Kekuatan Jamaah

Suara Muhammadiyah

Penulis

1
350
Deni Asy'ari, MA., Dt Marajo. Foto: Cris

Deni Asy'ari, MA., Dt Marajo. Foto: Cris

BANTUL, Suara Muhammadiyah - Bulan Ramadhan 1447 H sudah berada di penghujung. Pada momen ini, amat laik merefleksikan sejauh mana implementasi sudah diletakkan sesuai koridornya atau justru bergeser dari esensinya.

Ramadhan, diletakkan basis dasarnya oleh Deni Asy'ari sebagai bulan jihad (Syahrul al-Jihad). Yakni bulan perjuangan segalanya.

Perjuangan di sini diobyektivikasikan dengan perjuangan menahan lapar dan dahaga, berikut hawa nafsu.

Secara universal, kata Deni, cabang pemaknaan perjuangan ini meniscayakan perjuangan membangun kesabaran, perjuangan membangun amal, dan perjuangan membangun solidaritas.

"Disebut sebagai Syahrul Jihad karena kita tahu bahwa banyak momen-momen jihad, momen-momen perjuangan di zaman Rasulullah yang itu terjadi pada bulan Ramadhan," jelasnya.

Tersebut di antaranya Perang Badar tahun 2 Hijriah, Perang Khandaq tahun 5 Hijriah. Lalu, Fathul Makkah tahun 8 Hijriah dan Perang Tabuk tahun 9 Hijriah.

"Jadi wajar kemudian Ramadan disebut sebagai Syahrul Jihad, bulannya berperang," tutur Deni, Selasa (17/3) saat Kajian I'tikaf Angkatan Muda Muhammadiyah (AMM) Piyungan di Musala Darussalam Jolosutro, Srimulyo, Piyungan, Bantul.

Namun demikian, konteks perjuangan ini tidak selalu ekuivalen dengan peperangan. Lebih komprehensif, sebagaimana disebut tadi, perjuangan membangun solidaritas jamaah atau solidaritas sosial.

"Karena pada bulan Ramadan ini momen yang disebut untuk membangun kekuatan jemaah ini sangat potensial," ujar Direktur Utama PT Syarikat Cahaya Media/Suara Muhammadiyah itu.

Maka, di sinilah relevansi konteks Syahrul Al-Jihad yang dinisbahkan dalam kerangka bulan Ramadhan. Bukan hanya konsolidasi spiritualitas, saat yang sama, mengerucut pada membangun kekuatan jemaah.

"Ramadhan yang kita jalankan ini sangat disayangkan kalau hanya lepas pada aspek ritualitas semata tetapi tidak mengambil makna yang disebut Syahrul Jihad," beber Wakil Sekretaris 1 Majelis Ekonomi, Bisnis, dan Pariwisata Pimpinan Pusat Muhammadiyah tersebut.

Konklusi Deni, Syahrul Jihad sebagai bagian integral daripada ibadah. Dan momen ini menjadi sangat tepat untuk menguatkan bangunan ekonomi berbasis jamaah.

"Kita harus jadikan Ramadhan sebagai kekuatan kita membangun ekonomi, membangun kemandirian umat," tegas Deni.

Bahkan Deni sampai menyebut, hal demikianlah itu menjadi citra darinkarakter Islam sebenarnya.

"Bahkan karakter Muhammadiyah sebenarnya," tandasnya. (Cris)


Berita Lainnya

Berita Terkait

Tentang Politik, Pemerintahan, Partai, Dll

Berita

BREBES, Suara Muhammadiyah - Sekolah Tinggi Manajemen Informatika dan Komputer (STMIK) Muhammadiyah ....

Suara Muhammadiyah

13 July 2024

Berita

THAILAND, Suara Muhammadiyah - Bagi Aisyah Nabhan Syahidah, yang akrab disapa Nabhan, seorang m....

Suara Muhammadiyah

26 November 2025

Berita

JAKARTA, Suara Muhammadiyah - Ketua PP Muhammadiyah bersama President Zhenghe Forum mengunjungi Univ....

Suara Muhammadiyah

17 January 2024

Berita

BANDUNG, Suara Muhammadiyah – Direktur Jenderal Sains dan Teknologi Kementerian Pendidikan Tin....

Suara Muhammadiyah

7 February 2025

Berita

SOLO, Suara Muhammadiyah - Universitas Muhammadiyah Yogyakarta (UMY) kembali menujukkan langkah konk....

Suara Muhammadiyah

27 May 2025

Tentang

© Copyright . Suara Muhammadiyah