Bukan Sekadar Konsolidasi Spiritual, tapi Perjuangan Membangun Kekuatan Jamaah

Suara Muhammadiyah

17 March 2026

484
Deni Asy'ari, MA., Dt Marajo. Foto: Cris

Deni Asy'ari, MA., Dt Marajo. Foto: Cris

BANTUL, Suara Muhammadiyah - Bulan Ramadhan 1447 H sudah berada di penghujung. Pada momen ini, amat laik merefleksikan sejauh mana implementasi sudah diletakkan sesuai koridornya atau justru bergeser dari esensinya.

Ramadhan, diletakkan basis dasarnya oleh Deni Asy'ari sebagai bulan jihad (Syahrul al-Jihad). Yakni bulan perjuangan segalanya.

Perjuangan di sini diobyektivikasikan dengan perjuangan menahan lapar dan dahaga, berikut hawa nafsu.

Secara universal, kata Deni, cabang pemaknaan perjuangan ini meniscayakan perjuangan membangun kesabaran, perjuangan membangun amal, dan perjuangan membangun solidaritas.

"Disebut sebagai Syahrul Jihad karena kita tahu bahwa banyak momen-momen jihad, momen-momen perjuangan di zaman Rasulullah yang itu terjadi pada bulan Ramadhan," jelasnya.

Tersebut di antaranya Perang Badar tahun 2 Hijriah, Perang Khandaq tahun 5 Hijriah. Lalu, Fathul Makkah tahun 8 Hijriah dan Perang Tabuk tahun 9 Hijriah.

"Jadi wajar kemudian Ramadan disebut sebagai Syahrul Jihad, bulannya berperang," tutur Deni, Selasa (17/3) saat Kajian I'tikaf Angkatan Muda Muhammadiyah (AMM) Piyungan di Musala Darussalam Jolosutro, Srimulyo, Piyungan, Bantul.

Namun demikian, konteks perjuangan ini tidak selalu ekuivalen dengan peperangan. Lebih komprehensif, sebagaimana disebut tadi, perjuangan membangun solidaritas jamaah atau solidaritas sosial.

"Karena pada bulan Ramadan ini momen yang disebut untuk membangun kekuatan jemaah ini sangat potensial," ujar Direktur Utama PT Syarikat Cahaya Media/Suara Muhammadiyah itu.

Maka, di sinilah relevansi konteks Syahrul Al-Jihad yang dinisbahkan dalam kerangka bulan Ramadhan. Bukan hanya konsolidasi spiritualitas, saat yang sama, mengerucut pada membangun kekuatan jemaah.

"Ramadhan yang kita jalankan ini sangat disayangkan kalau hanya lepas pada aspek ritualitas semata tetapi tidak mengambil makna yang disebut Syahrul Jihad," beber Wakil Sekretaris 1 Majelis Ekonomi, Bisnis, dan Pariwisata Pimpinan Pusat Muhammadiyah tersebut.

Konklusi Deni, Syahrul Jihad sebagai bagian integral daripada ibadah. Dan momen ini menjadi sangat tepat untuk menguatkan bangunan ekonomi berbasis jamaah.

"Kita harus jadikan Ramadhan sebagai kekuatan kita membangun ekonomi, membangun kemandirian umat," tegas Deni.

Bahkan Deni sampai menyebut, hal demikianlah itu menjadi citra darinkarakter Islam sebenarnya.

"Bahkan karakter Muhammadiyah sebenarnya," tandasnya. (Cris)


Berita Lainnya

Berita Terkait

Tentang Politik, Pemerintahan, Partai, Dll

Berita

WONOGIRI, Suara Muhammadiyah — Geliat dakwah Muhammadiyah di Kecamatan Eromoko, Wonogiri, teru....

Suara Muhammadiyah

5 January 2026

Berita

YOGYAKARTA, Suara Muhammadiyah- Muhammadiyah Disaster Management Center Daerah Istimewa Yogyakarta (....

Suara Muhammadiyah

20 September 2025

Berita

SEMARANG, Suara Muhammadiyah – Dalam rangka menyemarakkan milad ke-111 Muhammadiyah, Universit....

Suara Muhammadiyah

27 November 2023

Berita

CILACAP, Suara Muhammadiyah - Sebanyak 250 anak antusias mengikuti lomba mewarnai di rangka Mil....

Suara Muhammadiyah

6 July 2026

Berita

YOGYAKARTA, Suara Muhammadiyah - Pada Sabtu, 02 Desember 2023, telah berlangsung Temu Nasional ....

Suara Muhammadiyah

2 December 2023

Tentang

© Copyright . Suara Muhammadiyah