Bung Hatta, Sila Ketuhanan yang Maha Esa, dan Implikasinya Terhadap Kehidupan Bernegara

Suara Muhammadiyah

Penulis

0
52
Bung Hatta

Bung Hatta

Bung Hatta, Sila Ketuhanan yang Maha Esa, dan Implikasinya Terhadap Kehidupan Bernegara 

Oleh: Buya Anwar Abbas 

Sila pertama dalam Pancasila adalah Ketuhanan Yang Maha Esa. Sila pertama ini kata Bung Hatta, harus menjadi dasar yang memimpin cita-cita kenegaraan kita untuk menyelenggarakan segala yang baik bagi rakyat dan masyarakat Indonesia.

Oleh karena itu kata Bung Hatta, pengakuan kita akan berpegang kepada dasar Ketuhanan Yang Maha Esa akan bermasalah dan atau tidak akan ada artinya apabila kita tidak bersedia berbuat dalam praktik hidup menurut sifat-sifat yang dipujikan kepada Tuhan Yang Maha Esa. Seperti kasih, sayang, serta adil.

Karena itu implikasi logis dari pengakuan kita terhadap dasar Ketuhanan Yang Maha Esa menurut Bung Hatta, mewajibkan kita untuk membangun persahabatan dan persaudaraan antara manusia dan bangsa.

Di samping itu pengakuan kita terhadap sila pertama tersebut juga mewajibkan kita untuk membela kebenaran dan keadilan. Serta berbuat baik, memiliki sifat jujur dan suci, serta mencintai keindahan.

Ini artinya kalau kita ingin menjadikan diri kita menjadi insan Pancasilais maka kita diminta dan dituntut untuk menentang segala bentuk kedustaan dan  kezaliman, serta berusaha untuk memperbaiki segala kesalahan, mau membasmi segala bentuk kecurangan dan perbuatan kotor lainnya serta meniadakan segala hal yang buruk.

Untuk itu, kata Bung Hatta, kita harus mau menerima bimbingan dari Dzat Yang Maha sesempurna-sempurnanya.

Jika itu dapat kita lakukan maka akan bisa membentuk dan melahirkan diri kita menjadi manusia-manusia Indonesia yang memiliki karakter yang baik, mempunyai rasa tanggung jawab yang tinggi.

Hal inilah tampaknya yang sudah kelihatan menghilang atau menipis dan memudar dalam kehidupan berbangsa dan bernegara di negeri kita saat ini. Karena rakyatnya, terutama para pemimpinnya tidak lagi menjadikan ajaran dari agamanya atau Tuhannya sebagai pedomannya tetapi hawa nafsu dan kepentingan diri. Serta kelompoknyalah yang lebih mengemuka dan yang memimpin perilakunya.

Sehingga terjadilah berbagai praktek tidak terpuji yang tidak kita harapkan seperti bersimaharajalelanya praktek korupsi, kolusi dan nepotisme (KKN), politik uang, egoisme golongan, tunduk kepada kepentingan pemilik modal bukan kepada kebenaran dan keadilan, kurangnya transparansi dan akuntailitas serta hal-hal yang tidak terpuji dan terlarang lainnya.

Untuk itu ada peribahasa orang Minangkabau dan Melayu yang perlu kita camkan dan terapkan dengan baik. Katanya, bila sesat diujung jalan maka surut atau kembalilah ke pangkalnya. Artinya bila kita telah terlanjur melakukan kesalahan atau melangkah terlalu jauh ke arah yang salah, maka langkah terbaik yang harus kita lakukan adalah kembali ke awal atau ke sila pertama dari falsafah bangsa kita yaitu sila Ketuhanan Yang Maha Esa. Serta menjadikan sila tersebut sebagai dasar yang akan memimpin dan membimbing kita dalam kehidupan bermasyarakat, berbangsa dan bernegara di negeri yang sama-sama kita cintai ini.

Buya Anwar Abbas, Pengamat Sosial Ekonomi dan Keagamaan & Ketua PP Muhammadiyah.


Berita Lainnya

Berita Terkait

Tentang Politik, Pemerintahan, Partai, Dll

Wawasan

Oleh: Prof Dr Dadang Kahmad, MSi Manusia adalah Zoon Politicon kata Aristoteles, yang berarti manus....

Suara Muhammadiyah

29 September 2025

Wawasan

Oleh : M. Rendi Nanda Saputra, Sekretaris Umum PC IMM AR Fakhruddin Kota Yogyakarta Ulasan ini adal....

Suara Muhammadiyah

11 February 2025

Wawasan

Puasa dan Pendidikan Ruhani Oleh: Mohammad Nur Rianto Al Arif, Guru Besar UIN Syarif Hidayatullah/ ....

Suara Muhammadiyah

23 February 2026

Wawasan

Menjadi Perempuan Berdaya dan Pembelajar Sepanjang Hayat Menjaga Kekokohan Peri Kehidupan Bangsa M....

Suara Muhammadiyah

22 December 2023

Wawasan

Kedamaian dan Kemanfaatan di dalam Ibadah Ramadhan Oleh: Mohammad Fakhrudin Semua ibadah yang dila....

Suara Muhammadiyah

5 February 2026

Tentang

© Copyright . Suara Muhammadiyah